Batam, sebelum tahun 1970, hanya dikenal sebagai satu pulau di perbatasan, yang dekat dengan Singapura dan Malaysia. Sama dengan pulau-pulau lain di Indonesia yang berbatasan dengan negara tetangga. Kini, Batam sudah menjadi salah satu pulau di Indonesia, yang tergolong paling maju.
Baik dari sisi infrastruktur, perhubungan, teknologi informasi (TI), investasi dan lainnya, Batam sudah maju diantara pulau-pulau di perbatasan Indonesia. Bahkan, Batam kini menjadi salah satu andalan Indonesia dibidang investasi, hingga dijadikan sebagai lokomotif perekonomian nasional.
Kondisi Batam yang kini maju dari berbagai sisi, tidak lepas dengan diawali langkah pemerintah tahun 1970-an, menjadikan Batam sebagai basis logistik dan operasional untuk industri minyak dan gas bumi oleh Pertamina. Kemudian dilanjutkan dengan turunnya Kepres No. 41 tahun 1973 yang mempercayakan Badan Otorita Pengembangan Industri Pulau Batam atau Otorita Batam (OB), yang kemudian berubah menjadi Badan Pengusahaan (BP) Batam hingga saat ini.
Di bawah penanganan BP Batam yang kini sudah berusia 46 tahun, pada 26 Oktober 2017, insfrastruktur berstandar internasional sudah tersedia. Infrastruktur jalan dibangun, untuk menghubungkan pelabuhan dengan bandara, kawasan industri, perkantoran, hotel hingga menuju pemukiman. Bahkan penduduk hinterland juga dibantu akses lewat jembatan yang dikenal dengan Jembatan Barelang (Batam-Relang-Galang). Jembatan ini kemudian menjadi salah satu icon parawisata Batam.
Selama proses awal pembangunan Batam dilakukan OB hingga BP Batam, badan ini sudah melakukan suksesi kepemimpinan, mulai dari Ibnu Sutowo pada periode 1971 s.d 1976. Kemudian J.B. Sumarlin pada 1976 s.d 1978. Dilanjutkan Prof B.J. Habibie tahun 1978 s.d Maret 1998 sebelum kemudian menjadi Presiden RI. Kepemimpinan BP kemudian dilanjutkan J.E Habibie Maret 1998 s.d Juli 1998.
Selanjutnya, kepemimpan BP Batam dilanjutkan ditangan Ismeth Abdullah dari Juli 1998 sampai April 2005. Ismeth kemudian mengundurkan diri, setelah terpilih menjadi Gubernur Provinsi Kepri yang pertama. Kepemimpinanya kemudian dilanjutkan Mustofa Widjaja mula April 2005 sampai Mei 2016. Rentang waktu itu, OB berubah nama menjadi BP Batam.
Selanjutnya, kepemimpinan Mustofa digantikan Hatanto Reksodipoetro pada Mei 2016 sampai Oktober 2017. Di bawah kepemimpinan Hatanto dan rekan-rekannya, Wakil Kepala BP bersama para deputi, mereka berhasil meletakkan dasar-dasar untuk perubahan di Batam.
Satu kebijakan yang dijalankan diawal kepemimpinan Hatanto dan mendapat respon investor serta diyakini sebagai daya tarik investasi Batam,. Diantaranya, kemudahan investasi langsung kontruksi (KILK ) dan ijin investasi 3 jam (i23J). Khusus KILK, diterapkan di kawasan industri Batamindo Industrial Park, Panbil Industrial Park, Bintang Industrial Park, Westpoint Marine Industrial. Sistem ini bahkan dinilai mampu mendongkrak pertumbuhan investasi Batam saat ini.
i23J dan KILK memberikan kepastian dan kemudahan bagi investasi yang akan masuk Batam. Program i23J dan KILK, akan memberikan kepastian bagi investor. Investor dengan investasi RP 50 Milyar atau mampu menyerap 300 tenaga kerja hanya perlu menunggu 3 jam untuk mendirikan sebuah perusahaan.
Dimana ijin yang akan dikantongi, ada Izin Investasi, Akta Perusahaan dan pengesahan, NPWP, Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Aisng (RPTKA), Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA), Angka Pengenal Importir Produsen (API-P) dan Nomor Induk Kepabeanan.
Dimana data terbaru, sepanjang Januari sampai September 2017 menunjukkan, investasi di Batam tumbuh dari 430 juta dolar Amerika Serikat tahun 2016 menjadi 765,7 juta dolar AS tahun 2017 atau sekitar Rp 9,95 triliun.
“Itu data perkembangan realisasi investasi untuk ijin usaha dari penanam modal asing di Batam,” ungkap Direktur Humas dan Promosi BP Batam, Purnomo Andiantono.
Pada tahun 2016, jumlah investasi asing yang masuk sekitar 58 proyek. Sementara pada tahun 2017, yang masuk ada 61 proyek. Perusahaan itu ada yang mengikuti program KLIK, I23J dan ada juga yang melalui prosedur biasa. Pertumbuhan investasi yang signifikan setelah diberlakukan KILK dan i23J, menunjukkan kepercayaan investor tetap tinggi. Bahkan pertumbuhan dibanding tahun lalu, nilainya sekitar 78 persen.
Dari 13 perusahaan asing yang masuk memanfaatkan fasilitas KLIK dan i23J, sudah lima yang beroperasi. Perusahaan itu, ada PT. Blackmagic Design Manufactur, PT Magnum Teknologi, PT. Infocus Consumer International Indonesia, PT Asus Teknologi Indonesia dan PT Indo Kreasi Grafika.
Kemudahan-kemudahan untuk BP Batam dalam menjalankan kebijakan pada umur yang semakin dewasa ini, mendapat dukungan dari instansi-instansi terkait. Sehingga dalam perjalanan i23J mendapat dukungan Bea Cukai yang membantu lewat jalur hijau. Jalur hijau itu dimaksud dalam memudahkan bahan baku perusahaan masuk Batam. Sehingga i23J saat ini disebut i23J plus.
Bahkan Kementerian Perdagangan RI memberikan bantuan melalui sistem online INATRADE. Sehingga pengusaha atau pemohon sudah tidak lagi memerlukan proses pengajuan secara manual. Sistem online itu diatur dalam Permendag nomor 86/M-DAG/PER/12/2016 tentang ketentuan pelayanan perizinan di bidang perdagangan secara online dan tanda tangan elektronik (Digital Signature).
Sementara bagi investor properti, BP Batam juga sistem yang memudahkan proses perijinan. Dimana disiapkan land managemen system (LMS) online. Dengan fasilitas ini developer tidak perlu datang ke PTSP untuk mengurus ijin. Tahun 2018, direncanakan LMS diterapkan dan terkoneksi dengan Batam single window (BSW). Selain itu, sistem itu nantinya akan terintegrasi juga dengan Badan Pertanahan Nasional (BTN). Dengan sistem LMS online, pemohon secara online bisa melakukan tracking function atau fungsi pencarian proses dokumen yang diurus.
Sementara untuk pelabuhan, BP Batam sudah menerapkan sistem host to host pembayaran jasa kepelabuhanan. Sistem host to host ini diterapkan mulai Agustus 2016, untuk di lingkungan Pelabuhan Batam.
Sistem host to host, menghubungkan server penyedia jasa dengan server bank untuk menunjang segala mekanisme di lapangan melalui sistem online bagi para pengguna jasa.
Sistem-sistem itu mendapat dukungan juga dari informasi teknologi (IT) Center BP Batam.
IT Centre ini merupakan fasilitas teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dengan teknologi tinggi. IT ini dibangun tahun 2007, karena BP meyakni Batam akan jadi pusat TIK di Indonesia dengan masa depan dengan orientasi internasional.
IT Centre terhubung dengan jaringan fiber optik Telkom Indonesia berkapasitas 40 Gbps. Interkoneksi dengan seluruh unit kerja BP Batam melalui jaringan fiber optik sepanjang 105 km. Terhubung dengan jaringan fiber optic Palapa Ring. Dilengkapi dengan jaringan telepon Fixed Line dan VOIP.
Sementara untuk mendukung kehidupan masyarakat dan industri di Batam, BP Batam sejak kelahirannya dari OB, sudah membangun infrastruktur air. Pertumbuhan penduduk yang terus naik, mendorong BP Batam untuk mencari tempat untuk mendukung ketersediaan air di Batam. Terbaru, ada di Sei Gong.
Sei Gong akan menambah waduk di Batam, setelah sebelumnya ada waduk Sei Harapan dengan kapasitas volume awal 270 ribu m3, kapasitas desain WTP 30 l/detik. Sementara waduk Nongsa, volume 9,4 juta m3 dengan kapasitas WTP 240 l/detik. Waduk Sei Ladi dengan kapasitas 12,27 juta m3 dengan WTP 310 l/detik.
Waduk Mukakuning, dengan kapasitas awal 78,18 juta m3 dengan WTP kapasitas desain 3 ribu l/detik. Kemudian Waduk Duriangkang, kapasitas awal 41,876 juta m3 dengan WTP 540 l/detik. Selanjutnya dalam persiapan produksi, ada Waduk Tembesi dengan kapasitas 5,166 juta m3 dan saat ini dalam proses, waduk Sei Gong.
Selain Dam yang sudah tersedia, BP Batam juga sedang membangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di Bengkong. Pada tahap pertama fase pertama ini, dibangun IPAL dan jaringan pipa sanitasi air limbah sepanjang 114 km. Areal pelayanan tahap pertama ini, seluas 18,379 km2 dari total area 38,963 km persegi. Wilayah di Batam Centre, ada Teluk Tering, Sei Panas, Taman Baloi, Baloi Permai dan Sukajadi. Nantinya akan bisa melayani sekitar 126.092 jiwa penduduk dengan debit air limbah, maksimal sebanyak 19.280 m3 per hari.
Pembangunan dilakukan menggunakan dana bantuan pinjaman lunak dari Korea Selatan sebesar 43 juta dolar AS. Pembayaran dengan sistem bagi hasil selama 30 tahun. Selain IPAL di Bengkong, akan dibangun juga di Batam Centre. IPAL di Bengkong sendiri, berkapasitas 250 liter per detik.
Kemudian untuk mendukung kegiatan masyarakat, parawisata serta kegiatan eksport dan import, BP Batam sudah menyediakan pelabuhan dan bandar udara. Dimana, untuk bandar udara Hang Nadim, dibangun dengan standard internasional. Untuk mendukung aktivitas industri, masyarakat dan wisatawan lewat jalur laut, disediakan pelabuhan internasional Batam Centre, Pelabuhan Internasional Sekupang, pelabuhan Harbour Bay, pelabuhan domestik Punggur dan Pelabuhan Sekupang.
Khusus Bandara Hang Nadim kini disiapkan untuk mendukung Batam sebagai kota meeting, incentive, conference and exhibition (MICE). Bandara Hang Nadim nantinya akan memiliki fasilitas pendukung parawisata selain industri penerbangan. Dimana, akan ada central business district, medical centre, park residence, cultural park, hotel, convention and comercial, botanical garden, entertainment centre, apartement, entertainment center dan bonded area. Fasilitas itu tentunya selain hanggar milik Lion, passenger terminal, general maintenance, proposed runway, station, high value, industri, light and valuable manufacture, cargo, proposed highway dan lain.
Aktivitas masyarakat, industri dan wisatawan juga mendapat dukungan dari Rumah Sakit BP Batam. RSBP Batam memiliki fasilitas terlengkap di Batam dan bahkan RSBP belakangan sudah dilirik Jepang untuk jadi pusat health care business atau menjadi pusat kesehatan terbesar di Batam, yang mampu memberikan pelayanan, tidak hanya bagi warga Indonesia melainkan warga asing, terutama Singapura.
Bertepatan saat BP Batam berumur 46 tahun juga, untuk pertama kali juga mendapat predikat wajar tanpa pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), untuk laporan keuangan tahun 2016. Penghargaan dengan predikat WTP diserahkan Mei 2017.
Kini, tepat pada 19 Oktober 2017 lalu, Lukita Dinarsyah Tuwo resmi dilantik menjadi Kepala BP Batam oleh Ketua Dewan Kawasan Batam, Menteri Koordinator Perekonomian. Lukita akan membawa badan ini dalam upaya mengembalikan pertumbuhan ekonomi Batam diangka 7 persen. Target dicanangkan dengan dukungan infrastruktur dan regulasi investasi yang sudah disiapkan dan berjalan sebelumnya di kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas (KPBPB) ini.
Lukita sendiri beberapa kali sudah melakukan studi terhadap Batam, saat menjadi Sekretaris Menteri Koordinator Perekonomian. Diantaranya, mempelajari kendala dalam menaikkan daya saing Batam terkait logistik, uang wajib tahunan, dan perizinan.
Lukita bersama jajarannya, memiliki tanggung jawab dan tugas untuk mengembalikan kawasan Batam sebagai tujuan investasi yang menarik dan menjadi salah satu lokomotif pertumbuhan regional dan nasional dengan tetap mempertahakan dan invetasi yang telah ada. Melakukan transformasi FTZ Batam menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sebagaimana arahan Presiden.
Dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi Batam yang cepat, Lukita akan dibantu jajaran pegawai BP Batam dan deputi-deputi yang sudah dilantik bersamanya. Dimana ada Anggota 1/ Deputi Bidang Keuangan Badan, Purwiyanto, Anggota 2/ Deputi Bidang Perencanaan, Pengembangan dan Promosi, Yusmar Anggadinata, Anggota 3/ Deputi Bidang Pengusahaan Sarana Usaha, Dwianto Eko Winaryo dan Anggota 5/ Deputi Bidang Umum dan Sumber Daya Manusia, Brigjen Pol Drs. Bambang Purwanto. (humasBP).
