Tim tanggap darurat ATB saat mengikuti pelatihan emergency di dua area berbeda. ATB secara rutin memberikan bentuk pelatihan kepada seluruh personil di lingkungan kerja ATB.

PT Adhya Tirta Batam (ATB) peduli dengan keselamatan kerja karyawan.

ATB batam secara rutin menyelenggarakan pelatihan ketanggap daruratan untuk kondisi darurat di semua area kerja, mulai dari area office hingga di lapangan seperti Instalasi Pengolaha Air (IPA).

Pelatihan ketanggap daruratan untuk awal tahun 2017 di lakukan di IPA Duriangkang, dengan lebih fakus pada tanggap darurat saat kondisi emergency terjadinya kebakaran di ruang pompa. Tim tanggap darurat dituntut untuk bisa lebih aktif saat terjadi kondisi emergency.

“Sasaran dari pelatihan drill ini nantinya adalah ingin memperkenalkan apasih yang di sebut dengan drill, kondisinya, cara meresponnya, paling tidak mereka paham, kalau ada kasus emengency apa yang harus di lakukan tahu akan tugasnya, jangan menjadi sesuatu yang baru bagi mereka. Untuk itu, tim tanggap darurat dibekali pelatihan kondisi emergency,” ujar Roni Hartawan, QHSE Manager ATB Senin (30/10)

Roni menambahkan, pelatihan ketanggap daruratan untuk tahun ini berkenaan dengan keadaan kebakaran, namun pada pelatihan sebelumnya telah dilakukan pelatihan penanggulanangan kebocoran bahan kimia seperti klorin di area Instalasi Pengolahan Air (IPA).

“Hal ini dipilih bahwa pelaksanaan respon terhadap ketanggap daruratan tidak hanya mengetahui penanganan resiko di bahan kimia saja namun pada resiko lain seperti kebakaran atau yang lainnya seperti proses evakuasi,” ujarnya

Menurutnya pelaksana tanggap darurat adalah semua personil yang ada di area kerja, namun tetap ada koordinator yang menjadi penanggung jawab, apabila ada yang berkenaan baik itu pertolongan pertama pada kecelakaan apabila terjadi kondisi emergency tim tanggap darurat bisa melaksanakn tugasnya.

“Jadi di setiap unit kerja di lingkungan ATB kita memang membentuk unit tanggp darurat di lokasi kerja, seperti di kantor Sukajadi ada 3 unit tanggap darurat, termasuk dua tim tanggap darurat di WTP Mukakuning. Hal tersebut karena pertimbangan faktor banyak atau tidaknya pekerja yang berada di lingkungan itu, lokasi kerja semakin luas jelas harus ada tim tanggap darurat yang lebih banyak,” jelasnya

Diharapkan kedepannya dengan semakin mengenalnya mereka (tim tanggap darurat) dengan kondisi yang ada baik itu drill kebakaran atau kasus-kasus ketanggap daruratan, akan dapat lebih memahami dan tentunya bisa meminimalisir korban yang ada.

“Apapun itu kita bisa menanggulanginya secara cepat, kita berharap dengan terbentuknya unit tanggap darurat dengan adanya ketua unit tanggap darurat teman-teman yang menjadi bagian dari tim tanggap darurat juga di berikan pelatihan khusus mengenai bagian yang merupakan tanggap darurat seperti behavior be safety, kebakaran, first aider atau kebocoran bahan kimia,” jelas Roni

Untuk meningkatkan kompetensi diantara tim tanggap darurat dan memenuhi persyaratan minimal tentang tim tanggap darurat, terutama anggota tim yang baru bergabung, akan di lakukan sharing ilmu untuk menekankan pentingnya K3. Hal tersebut merupakan tanggung jawab semua individu apakah sudah sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan di perusahaan baik dari 9001, Ohsas, IMS, SMK3 dengan aktual pelaksanaanya di lapangan.

Selain itu, QHSE Departemen sebagai tim yang membangun sistem dari pelaksanaan drill di ATB agar dapat di jalankan oleh semua orang di perusahaan, dengan pelaksananya adalah semua karyawan.

“Artinya baik itu k3, lingkungan, mutu merupakan tanggung jawab individu karyawan. Meski latihan drill yang dilakukan masih terdapat kekurangan namun secara keseluruhan sudah berjalan dengan baik,” jelas Roni mengakhiri. (*)