Minggu, 5 April 2026

Tiwul dan Gatot Digemari Warga Multietnis

Berita Terkait

Yani mempersiapkan jajanan khas pasar tiwul dan gatot untuk pelanggannya. Selasa (8/11). F. Faradilla/Batam Pos.

batampos.co.idSiapa bilang, tidak ada tiwul dan gatot di Tanjungpinang. Dua kudapan khas Jawa ini justru sudah bertahan lebih dari dua dekade lamanya.

Siapapun paham, tiwul dan gatot bukan kuliner khas Tanah Melayu. Dua khazanah olahan singkong atau ubi kayu ini masyhur di Tanah Jawa. Namun, bukan berarti di sini sama sekali tidak ada. Malah, di Tanjungpinang, tiwul dan gatot sudah eksis dan dinikmati lebih dari 20 tahun lamanya.

Sepintas, begitulah penuturan Yani. Saban pagi sebelum matahari meninggi, perempuan ini dengan telaten menjaga lapak jualan tiwul dan gatot di lorong pintu masuk Pasar Baru Tanjungpinang. Sebagaimana di Jawa, makanan yang mengandung karbohidrat tinggi ini memang acap dikudap sebagai menu sarapan, cocok sebagai pengganti nasi. Kandungan karbohidrat singkong dari olahan tiwul dan gatot ini cukup tinggi. Karena itulah, pagi menjadi waktu paling tepat bagi Yani menemui para pelanggannya.

Pelanggannya para penduduk etnis Jawa saja? Tidak. “Orang sini (Melayu, red), orang Padang dan Tionghoa pun ada juga langganan di sini,” ujar wanita berjilbab ini.

Tiwul dan gatot yang ia jual memang telah dikenal sejak lama. Yani yang merupakan penerus dari usaha milik ibu mertuanya ini. Seingatannya, dua dekade telah berlangsung aktivitas jual tiwul dan gatot di Pasar Tanjungpinang ini.

“Ada pelanggan ibu-ibu malah bilang dari bapaknya masih muda, udah beli gatot di sini sama mbah,” ujarnya.

Lokasi jualan Yani yang strategis memang membuat lapak jualannya mudah ditemukan saban pagi. Kemarin, ada berbagai orang multietnis terlihat mengantre di sana. Berbaris meriungi Yani, yang kedua tangannya meracik tiwul dan gatot beralaskan daun pisang itu.

Tak jarang, kepada para pelanggan barunya, Yani menjelaskan bahwasanya jajanannya itu sama-sama berbahandasarkan ubi kayu alias singkong. Yang membedakan satu sama lain adalah cara mengolahnya.

Untuk mengolah tiwul, beber Yani, potongan ubi diserut lalu dijemur hingga benar-benar kering. Lalu ditumbuk barulah diayak. Sementara mengolah gatot, bahan dasar ubi dijemur hingga menghitam.

“Kalau yang gatot teksturnya kenyal, kalau tiwul mirip nasi,” terang Yani sembari menyendokkan gatot ke atas kertas coklat di tangan kirinya.

Memakan gatot dan tiwul membutuhkan satu pendamping wajibnya, yakni kelapa parut. Tak lengkap rasanya jika tiwul atau pun gatot tak berdampingan dengan parutan kelapa ini.(aya)

Update