ilustrasi

batampos.co.id – Penguatan dolar Singapura terhadap rupiah memberikan dampak yang cukup signifikan kepada aktivitas industri di Batam. Terutama industri pendukung dan industri yang hanya memiliki pasar lokal di Batam.

“Mereka terkena imbasnya karena mendatangkan bahan baku dari luar negeri. Tentu saja membelinya dengan mata uang asing,” kata Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hoeing atau yang biasa disapa Ayung, Jumat (24/11) di Gedung BP Batam.

Aturan dari Bank Indonesia memang melarang transaksi di dalam negeri dengan mata uang asing. Kecuali jika memang sudah terikat perjanjian sebelum aturan tersebut berlaku dan adanya transaksi karena perdagangan internasional.

Ayung mengatakan, selama ini kurs jual dolar Singapura selalu stabil sehingga industri di Batam bisa mengatur biaya produksinya dengan seksama. Namun karena penguatan mata uang asing ini, maka biaya produksi mendadak berubah.

Dengan kenaikan dolar Singapura ini, maka biaya produksi bertambah. Sementara pihak perusahaan tak bisa menjual dengan harga yang lebih tinggi karena sudah terikat kontrak. Sedangkan untuk membuat kontrak baru dengan konsumen yang baru pula, saat ini sangat susah.

“Jadinya merugi,” ujarnya.

Penguatan dolar Singapura memang sewaktu-waktu dapat terjadi karena adanya tren perbaikan ekonomi negeri jiran tersebut. Namun di sisi lain, persoalan utama adalah Batam kekurangan bahan baku sehingga memaksa industri lokal untuk mengimpor dari luar negeri.

“Nah ini sebenarnya yang harus dipikirkan, apalagi Batam merupakan wilayah perbatasan,” jelasnya.

Pendapat berbeda diungkapkan Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Lukita Dinarsyah Tuwo. Mantan Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian ini mengatakan depresiasi rupiah terhadap dolar Singapura masih dalam tahapan wajar. Sehingga ia memperkirakan kondisi ini tidak akan memukul sektor usaha di Batam.

“Ini batasan wajar, masih biasa,” ungkapnya.

Kecuali, kata Lukita, jika kenaikan nilai tukar dolar Singapura terhadap rupiah sangat ekstrem. Sehingga terjadi devaluasi rupiah, maka dunia industri perlu cemas. “Para pelaku usaha tidak akan khawatir kalau belum besar sekali, kecuali devaluasi,” pungkasnya. (leo)

Respon Anda?

komentar