
Erupsi Gunung Agung terlihat dari pos pantau Batu Lompeh Desa Tianyar, Karangasem, Bali, kemarin (26/11) sore. (Eka Prasetya/Radar Bali/JawaPos.com)
batampos.co.id – Pusat Vulkanologo dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menaikkan status Gunung Agung dari Siaga (level 3) menjadi Awas (level 4) terhitung mulai hari ini pukul 06:00 WITA.
“Status Awas adalah status tertinggi dalam status gunung api,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangannya pagi ini, Senin (27/11).
Gunung Agung
Erupsi Gunung Agung meningkat dari fase freatik ke magmatik sejak teramati sinar api di puncak, Sabtu (25/11) pukul 21.00 WITA. Sampai hari ini erupsi fase magmatik disertai kepulan abu tebal mencapai ketinggian 2.000 sampai 3.400 meter dari puncak.
Sutopo mengungkapkan, kepulan abu kadang-kadang disertai erupsi eksplosif dan suara dentuman lemah terdengar sampai jarak 12 km dari puncak. Sinar api semakin sering teramati di malam hari berikutnya. “Ini menandakan potensi letusan yang lebih besar akan segera terjadi,” sebut dia.
Pos pengamatan Gunung Agung di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, melaporkan bahwa secara visual gunung jelas. Asap kawah bertekanan sedang teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 2.500-3.000 meter di atas puncak kawah. Teramati letusan dengan tinggi 3000 meter dan warna asap kelabu.
“Terlihat sinar api. Tremor non harmonik menerus amplitudo 1-10 mm (dominan 1-2 mm),” jelasnya.
Karena itu, dia mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Agung, pendaki, pengunjung, wisatawan, agar tidak berada atau tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya. Yaitu di dalam area kawah Gunung Agung dan di seluruh area di dalam radius 8 km dari kawah dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timur laut dan Tenggara-Selatan-Barat daya sejauh 10 km dari kawah Gunung Agung.
“Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung yang paling aktual atau terbaru,” jelas Sutopo.
Masyarakat yang berada di dalam radius 8 km dan peluasan 10 km katanya diimbau untuk segera mengungsi dengan tertib dan tenang. “Sebagian masyarakat telah melakukan evakuasi mandiri sejak 25 November 2017 malam menyusul erupsi Gunung Agung,” ucap dia.
Sejauh ini, BNPB telah mengoordinasikan potensi nasional dengan TNI, Polri, Basarnas, Kementerian PUPR, Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian Perhubungan, BUMN dan lainnya untuk mendampingi Pemerintah Daerah dalam penanganan erupsi Gunung Agung.
“Posko Pendampingan Nasional telah diaktivasi di Kabupaten Karangasem. BPBD bersama unsur lainnya terus melakukan penanganan darurat erupsi Gunung Agung,” pungkasnya. (dna/JPC)
