Jumat, 17 April 2026

Pantai Sakera Terus Dibanjiri Sampah Rumput Laut

Berita Terkait

Sampah rumput laut yang melimpah dan mengotori pantai Sakera Tanjunguban, kecamatan Bintan utara, Minggu (3/12) sore lalu. F. Slamet/Batam Pos.

batampos.co.id Pantai Sakera Tanjunguban terus dibanjiri sampah kiriman. Musim angin utara membuat sampah plastik, botol bekas, balok kayu hingga rumput laut mengotori pantai rakyat di Kecamatan Bintan Utara Kabupaten Bintan ini.

Minggu (3/12) lalu, air laut pasang, namun sejumlah wisatawan enggan membasahi tubuh karena di pesisir pantai melimpah kotoran sampah rumput laut. Mereka lebih memilih menempati pondok-pondok kayu sembari menikmati makanan ditemani suasana matahari terbenam di pantai tersebut.

“Tadinya mau berenang karena kebetulan melihat air laut pasang. Tapi, pas tahu banyak sampah, tidak jadi,” kata seorang wisatawan Batam Yani ketika ditemui Batam Pos, sore lalu.

Ditemani temannya Rizki yang merupakan pekerja Lobam, Yani mengungkapkan, liburan ke Bintan karena pasir putih pantai di kabupaten Bintan sangat terkenal keindahannya. Selain itu, Bintan merupakan tujuan wisatawan terdekat bagi wisatawan dari Batam.
“Sedikit kecewa, tetapi mau bagaimana lagi, mungkin pas datangnya akhir tahun jadi banyak sampah kiriman memenuhi pantai,” katanya.

Wisatawan lain asal Tanjungpinang, Rida hanya bisa berjalan di pesisir pantai sembari menikmati angin sepoi-sepoi. Meski sebenarnya ia risih dan jijik karena banyaknya sampah rumput laut di pantai yang lengket di kaki indahnya. “Malas mau turun ke laut karena banyak sampah rumput laut,” ungkap wanita berambut pendek sebahu dengan menggenakan topi pantai ini.

Melihat kejadian ini, ia berharap pemerintah setempat menggerakkan masyarakat untuk membersihkan sampah kiriman yang mengotori pantai. Hal ini dilakukan agar wisatawan nyaman ketika berlibur ke sejumlah pantai di Bintan. Tidak hanya melanda pantai sakera Tanjunguban, sampah rumput laut juga melimpah mengotori pantai berakit, yang merupakan sentral nelayan dan objek wisata.

Ketua RT 03 Desa Berakit, Firdaus membenarkan, sejumlah nelayan merasa terganggu akibat melimpahnya sampah rumput laut di pantai Berakit karena sampah rumput laut banyak menyangkut di jaring milik nelayan. jika sudah menyangkut ke jaring nelayan, menurutnya, jaring nelayan akan susah dipakai. Makanya harus dibersihkan dulu sampah rumput laut, baru bisa jaringnya dipakai.

Terpisah Kadispar Kabupaten Bintan Luki Zaiman Prawira mengatakan, sampah kiriman yang menyerbu pesisir pantai di kabupaten bintan merupakan siklus tahunan yang terjadi karena musim angin utara. Diakuinya sampah rumput laut, hingga plastik dan lainnya cukup menganggu wisatawan yang berlibur, namun siklus akhir tahun ini tidak
bisa dihindari karena pasti terjadi.

Diakuinya, sejumlah pengusaha resort dan hotel telah melaporkan kejadian alam ini, namun biasanya mereka akan membersihkan pantainya sendiri. “Semua memaklumi, karena ini kejadian alam yang pasti terjadi setiap akhir tahun,” katanya.

Menurutnya, sampah rumput laut dan lainnya yang melimpah di pesisir pantai di Kabupaten Bintan ini tidak membahayakan bagi wisatawan, bahkan ada masyarakat yang memanfaatkan sampah pantai ini untuk dijadikan pupuk. “Kalau sudah busuk, bisa dijadikan pupuk,” tuturnya.

Ia sudah mengimbau kepada pengusaha resort dan hotel agar waspada setelah siklus tahunan ini, karena setelah ini biasanya terjadi musim ubur ubur dan membuat wisatawan gatal gatal. (cr21)

Update