Jumat, 8 Mei 2026

Pak Walikota, SDN 08 Batuaji sudah Empat Tahun Menumpang di Sekolah Lain

Berita Terkait

ilustrasi. F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Hingga kini, ratusan siswa SDN 08 Batuaji, belum bisa menikmati fasilitas pendidikan yang ideal. Sekolah yang sudah menumpang selama empat tahun di SDN 02 Batuaji ini belum memiliki gedung sekolah sendiri. Baik perpustakaan, ruang unit kesehatan sekolah (UKS), maupun toilet.

Padahal, jumlah siswa yang dimiliki sekolah ini sudah mencapai 265 orang. Kepala Sekolah SDN 008 Batuaji, Kamaliah mengatakan tidak bisa berbuat banyak dengan kondisi tersebut. Sebab, hingga saat ini, pihak sekolah belum menerima info terkait pembangunan sekolah.

“Bahkan untuk lahan saja kami belum tahu infonya dimana?” ujar Kamaliah saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (11/12/2017).

Sekolah yang berdiri empat tahun lalu ini memimjam tiga ruang kelas yang dimiliki SDN 02 Batuaji. Dua lokal dijadikan kelas dan satunya lagi dijadikan majelis guru. Bahkan, untuk murid kelas empat, pihaknya terpaksa kembali meminjam dua ruangan kelas SDN 02.

Karena, keterbatas itu membuat pihaknya harus menggunakan sistem tiga shift.

  • Kelas satu menggunakan ruangan mulai pukul 7.00 WIB hingga pukul 10.00.
  • Kelas dua menggunakan ruangan mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 13. 00 WIB,
  • Kelas tiga dan empat akan menggunakan ruang kelas mulai pukul 13.00 hingga pukul 17.30 WIB.

Karena pembagian ruangan kelas, sistem belajar mengajar di sekolah tersebut menjadi singkat. Kamaliah tidak menampik jika pembagian shift belajar di sekolahnya menyebabkan proses belajar mengajar kurang efektif dan kondusif. “Kami harus berburu waktu jam belajar,” katanya.

Ditambah lagi, jumlah siswa per kelas yang mencapai 40 orang. Tentu, jumlah itu sangat jauh dari kata ideal dan membuat ruangan kelas menjadi padat. Muridpun harus duduk berdesakan. Bahkan antara meja guru dan murid sangat dekat, kurang lebih satu meter. Begitupun dengan jarak antara meja siswa. Melihat kondisi tesebut, seakan ruang gerak dalam kelas begitu sesak dan sempit.

“Mau gimana lagi. Kami jalani saja seperti dengan kondisi yang ada,” ungkap Kamaliah.

Kamaliah mengaku, hingga tahun ajaran keempat ini, anak didiknya memang tidak mendapat pelayanan pendidikan yang maksimal seperti sekolah lain. Itu karena pendidikan di sekolah tersebut hanya sebatas belajar dan mengajar di kelas saja. Sementara kegiatan praktek, UKS dan perpusatakaan lain belum bisa dinikmati anak didiknya karena memang lokal atau ruangan yang diberikan sangat terbatas.

“Jangankan perpusatakaan atau ruangan pendukung lainnya, kegiatan belajar mengajar saja kami masih kurang. Ruangan kelas hanya tiga sementara rombongan belajar (rombel) ada delapan,” jelasnya.

Ia pun berharap, lokasi maupun gedung sekolah secepatnya ada kejelasan. Agar segala proses belajar mengajar bisa berjalan semestinya, seperti sekolah-sekolah lainnya.

“Semoga tahun 2018 kami sudah memiliki gedung, agar kami tak numpang lagi,” tutupnya. (cr19)

Update