Petugas TNI AL, mengawal salah satu kapal berbendera Vietnam yang diduga melakukan ilegal fishing diperairan Natuna, beberapa waktu lalu F. Dispen Lantamal IV untuk Batam Pos.

batampos.co.id – Danlanal Ranai Kolonel Laut (P) Tony Hardijanto menyebutkan, kasus Ilegal fising diperairan Natuna Utara ditahun 2017 meningkat.

Angka kasus Ilegal fishing yang ditangani Lanal Ranai sejak bulan Januari hingga bulan Desember 2017 ini mencapai 37 kasus. Dan dua diantara sudah dilengkapi dan diproses sidang.

“37 kasus Ilegal fishing tahun ini ditangani Lanal. Angkanya lebih tinggi dibanding tahun 2016 lalu,” sebut Danlanal, Selasa (12/12).

Peningkatan penanganan kasus Ilegal fishing ini menurutnya, karena pengungkapan dari semakin tingginya intensitas patroli KRI di laut perbatasan laut Natuna Utara dan Cina Selatan yang berbatasan dengan beberapa negara tetangga.

Bahkan saat ini sambungnya, ada KRI Wiratno, KRI Lamadang, KRI Todak serta dibantu KRI Teuku Umar, KRI Ciptadi dan dibantu melalui udara dengan satu pesawat patroli maritim TNI AL.

KRI ini katanya, setiap hari memantau perairan di perbatasan. Dalam satu hari dua KRI yang melakukan patroli secara bergantian ditambah 1 pesawat yang memantau dari udara.

“Pelanggaran batas wilayah laut dan melakukan ilegal fishing masih banyak ditemukan nelayan asing dari Vietnam. Jumlah di Tangani ini belum termasuk dilimpahkan ke Pontianak maupun Batam yang ditangani kapal pengawasan PSDKP,” ujarnya.

Dikatakan Danlanal, Pemerintah sudah berupaya dengan pencegahan dan pengusiran ketika mendapati kapal ikan asing yang masuk wilayah ZEEI. Namun nelayan asing masih tetap kucing kucingan, dan dibilang November lalu ditangkap dua kapal ikan asing oleh KRI Tengku Umar dan KRI Ciptadi.

Lanal Ranai sambungnya, setiap tahun menampung ratusan nelayan asing non Justisia, sementara nakhoda diproses hukum beserta barang bukti. Sejauh ini Lanal Ranai sudah memusnahkan puluhan kapal ikan asing setelah inkrah di pengadilan perikanan.(arn)