
batampos.co.id – Berita duka menyelimuti Dinas Pendidikan Provinsi Kepri. Dimana, salah satu pejabat terbaiknya Kabid Pembinaan Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Provinsi Kepri, Mardiana meninggal dunia usai menyaksikan aksi demo sejumlah mahasiswa Stisipol dan Aliansi Mahasiswa Peduli beasiswa yang menuntut transparansi dan kejelasan proses penerimaan beasiswa, di depan Kantor Disdik Provinsi Kepri, di Dompak, Tanjungpinang, Senin (18/12).
Diduga penyebab meninggalnya perempuan berusia 54 tahun ini, dikarenakan kaget lalu terjatuh saat hendak melihat proses demo yang sempat berlangsung anarkis tersebut. “Saat unjuk rasa terjadi ibu (Mardiana, red) ini berada empat meter dari lokasi unjuk rasa, berdiri tepat di tepi parit. Jadi pada saat adanya situasi dorong-dorongan antara anggota Polres, dengan masa aksi, mungkin ibu ini agak kaget kemudian kakinya salah melangkah lalu terjatuh dan pingsan,” jelas Kapolres Tanjungpinang, AKBP Ardiyanto Tedjo Baskoro, Senin (18/12).
Mengetahui keadaan tersebut, pihaknya langsung melakukan pengamanan dengan membawanya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Kepri. “Karena kondisi kritis langsung dibawa ke rumah sakit. Sempat beberapa saat diperiksa setelah itu, tak tertolong lagi dan meninggal dunia,” ungkapnya.
Ardiyanto memastikan meninggalnya pejabat terbaik Disdik Kepri itu, tidak ada keterkaitannya dengan masa aksi demo yang berunjuk rasa tersebut, dikarenakan posisi antara seluruh pegawai Disdik Kepri jauh dari masa aksi.
“Meninggalnya beliau itu murni karena sudah takdir. Jadi jangan dikaitkan dengan demo tersebut, karena posisinya juga sangat jauh berada dibelakang petugas kepolisian,” tegasnya.
Ia juga menyebutkan pihaknya kini sudah mengamankan tiga orang yang diduga sebagai Kordinator Lapangan (Korlap) yang memicu aksi tersebut, berlangsung anarkis.
“Tiga orang yang diduga memicu sehingga terjadinya dorongan ini sudah kami amankan untuk dimintai keterangan di polres. Ini akan kami dalami lagi lebih lanjut,” tuturnya.
Pria berpangkat melati dua ini juga mengimbau kepada para mahasiswa, agar tidak usah khawatir terkait adanya indikasi dugaan korupsi yang dilakukan Disdik Provinsi Kepri, karena tidak adanya transparansi dan kejelasan terhadap proses penerimaan beasiswa. Sebab pihaknya kini sudah memerintahkan penyidik untuk menindaklanjuti permasalahan tersebut.
“Kita lagi tangani lebih lanjut masalah ini. Dan sudah saya perintahkan penyidik, khususnya jika ada indikasi KKN, akan kami ungkap dan akan kami sidik, serta tindaklanjuti,” imbuhnya.
Sementara itu, dokter spesialis Emergency RSUD Provinsi Kepri, Dr, dr Yusmanedy, membenarkan Mardiana sempat dibawa ke RSUD Provinsi, namun nyawanya sudah tak bisa tertolong.
“Kalau saya curiga dia sakit jantung karena begitu datang memang jantungnya sudah berhenti. Tanda kehidupannya juga sudah tidak ada. Kemungkinan meninggalnya sudah dijalan,” ungkapnya.
Menurutnya pihaknya sempat melakukan tindakan medis melalui alat bantu pompa jantung, namun tak juga bisa tertolong. “Sempat sih jantungnya berdetak selama hampir setengah jam, setelah dipompa pakai alat pompa listrik jantung, tapi setelah itu kembali lagi jantungnya tak merepon dan akhirnya meninggal dunia,” imbuhnya. (cr20)
