
batampos.co.id – Akibat hutan lindung rusak, debit air Waduk Seipulai di KM 15 Tanjungpinang Timur terus menyusut 2 hingga 3 centimeter (cm) per- hari. Musim penghujan di bulan ini diharapkan bisa menambah debit air yang semakin parah.
“Jika satu hari saja tidak hujan, debit sungai pulai akan mengalami penurunan 2-3 cm per harinya. Itu kami pantau terus tiap harinya, saat ini volume air ada di angka 2 meter 72 centimeter,” terang Kepala Bagian Produksi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kepri, Budianto, Senin (18/12).
Budianto menyampaikan, kondisi tersebut terjadi karena kawasan hutan lindung di sekitar Sei Pulai sudah tidak terlalu efektif sebagai resapan penyimpan cadangan air. Hal itu, jelasnya, bisa saja disebabkan karena sudah banyak terjadinya penebangan hutan untuk dibukanya lahan pertanian baru hingga pembangunan di sekitar waduk yang membuat daya penyerapan air berkurang.
“Selain itu juga karena kondisi sekitar waduk yang sudah tidak seperti dulu lagi, tali air di waduk juga berkurang. Miris sekali dilihatnya jika tidak turun hujan,” ujar Budianto.
Karena semakin bergantung pada curah hujan dalam pemenuhan tambahan debit air baku, Budiono menjelaskan, pihaknya kini intensif berkoordinasi dengan BMKG Tanjungpinang guna mengetahui prakiraan cuaca saban harinya.
“Tapi setelah koordinasi dengan BMKG, Alhamdulillah kondisi Kepri yang dikelilingi lautan berpotensi untuk turun hujan minimal sebulan sekali. Meskipun dalam kondisi musim kemarau,” ujar Budianto.
Kenyataan di lapangan ini, sambung Budianto, perlu mendapatkan perhatian serius ketika kelak Kepri akan dilanda musim kemarau pada pertengahan tahun. Pasalnya, sejauh ini, pemenuhan kebutuhan air baku warga Tanjungpinang masih mengandalkan Waduk Sei Pulai sebagai penyuplai utama dengan kapasitas daya alir mencapai 180 liter per detik dalam kondisi debit setinggi 4 meter 27 cm. (aya)
