batampos.co.id – Sektor pariwisata di Batam bisa dikembangkan asal pemerintah daerah disini mau berkomitmen. Selain itu harus juga menggandeng pelaku pariwisata dengan tujuan untuk memperkuat gaung promosi wisata Batam di dalam negeri maupun diluar negeri.
“Sinergi dari semua pihak. BP Batam dan Pemko Batam harus menggandeng pelaku wisata untuk promosi. Nanti jadi tidak efektif jika tidak dilakukan,” ungkap pengamat kebijakan ekonomi Batam, Suyono Saputro di Gedung Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, Kamis (21/12).
Promosi yang gencar juga harus dibarengi upaya dari pemerintah daerah untuk menciptakan destinasi wisata baru dan juga mengembangkan pariwisata berbasis olahraga.”Selama ini kurang destinasi hanya andalkan Barelang, pantai dan wisata belanja untuk tarik wisatawan. Dan banyak datang saat event saja,” ungkapnya.
Sedangkan di Malaysia dan Singapura banyak memiliki destinasi wisata yang menarik seperti Legoland, Sentosa Island dan Marina Bay Garden.”Disana wisatawan datang berbondong-bondong tiap hari, bukan hanya tiap event saja. Jadi bagusnya BP dan Pemko duduk bersama rumuskan destinasi baru dan buatlah sesuatu yang berbeda dari yang lain,” jelasnya.
Setelah itu, rencana bersama antara BP dan Pemko harus disusun secara sistematis.”Menyusunnya harus sistematis dan terstruktur. Hubungan antar lembaga pemerintah dan stakeholder sekarang sudah berjalan dengan baik sehingga bisa diajak kerjasama,” jelasnya.
Pendapat berbeda dikemukakan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Batam, Panusunan Siregar. Ia menyatakan bahwa lebih baik pemerintah daerah di kota Batam fokus saja bagaimana upaya untuk menjadikan Batam sebagai surga investasi.
“Kembangkan pariwisata di tempat lain saja. Agar kekuatan ekonomi jangan terpusat di Batam saja. Batam tak cocok lagi didorong jadi pariwisata, karena Natuna dan Anambas juga bisa dimaksimalkan untuk pengembangan pariwisata,” katanya.
Pemusatan terhadap suatu sektor kata Panusunan dapat membuat Batam menjadi ketergantungan nanti.”Jika Batam nanti bermasalah karena terlalu terpusat pada sektor tertentu nanti semua kena. Lebih baik pariwisata di tempat lain saja,” katanya lagi.
Salah satu pengusaha di Batam sekaligus Wakil Ketua Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB), Wirya Silalahi mendukung upaya untuk mempercepat pertumbuhan industri pariwisata di Batam.

“Hitungannya jelas dan signifikan membantu ekonomi Batam. Hasil hitungan BP Batam, wisman itu membelanjakan uang sekitar 300 Dolar Amerika atau Rp 4 juta per wisman. Penambahan 1.5 juta wisman setahun, berarti ada penambahan Rp 6 triliun per tahun ke Batam. Artinya telah mengkover sekitar 50 persen atau 150 ribu pekerja dari 250 ribu pekerja yang di-PHK,” kata Wirya.
Selama ini wisman Batam telah mencapai 1,5 juta dan ini terjadi sejak 15 tahun yang lalu.”Artinya selama 15 tahun pariwisata di Batam telah stagnan, tidak ada perkembangan berarti. Jelas ini adalah kegagalan dunia pariwisata di Batam,” ungkapnya.
Batam kata Wirya dianugerahkan lokasi strategis dan dekat dari Singapura dan Malaysia. Wisman dari kedua negara ini paling banyak datang ke Batam, yaitu sekitar 855 ribu dari Singapore dan 186 ribu dari Malysia pada tahun 2015. “Totalnya 72 persen dari wisman yang selama ini datang ke Batam,” paparnya.
Penduduk Singapura sekitar 5,5 juta jiwa dan penduduk Kota Johor Bahru di Malaysia sekitar 500 ribu jiwa. “Bila 1 persen saja penduduk Singapura dan Kota Johor Bahru mau berakhir pekan di Batam, maka ada sekitar 60 ribu calon wisman potensi datang ke Batam setiap minggu. Ini artinya ada sekitar 3.12 juta wisman hanya dari kedua Negara ini dalam setahun.Atau bertambah 1,62 juta wisman hanya dari kedua negara ini,” ungkapnya.
Pemerintah daerah kata Wirya harus mengubah pola pikir yang menginginkan wisman datang karena ingin berwisata. Tapi diubah menjadi wisman datang karena ingin menghabiskan akhir pekan di Batam
Menurut Wirya, wisman dari negara tetangga Singapore atau Johor mencari tempat untuk melepaskan kejenuhan sehingga Batam bisa memanfaatkannya. “Biasanya datang untuk makan dan minum, santai di café atau resto, memanjakan diri dengan perawatan tubuh di salon, spa atau pijat refleksi.Apalagi kalau harganya jauh lebih murah dari tempat asal mereka,” papar Wirya.
Namun sebelum mencoba promosi gencar kesana, ada hal-hal yang harus dipersiapkan pemerintah daerah yakni kemudahan mendapat informasi, transportasi nyaman, kemudahan dan kenyamanan di pelabuhan ferry internasional, kenyamanan di hotel dan penginapan dan tersedianya destinasi wisata baru.”Kapasitas pelabuhan ferry harus ditingkatkan atau buat yang baru untuk mengakomodir pertambahan jumlah wisman nanti,” jelasnya.
Untuk fasilitas hotel dan penginapan, BP Batam dan Pemko Batam cukup mempermudah izin pembangunan hotel dan resort baru.
“Jangan lagi membuat bingung dan berbelit-belit urusan ini. Kalau juga masih kurang, mungkin BP Batam, Pemko, Pemprov dan Kementerian Pariwisata bisa menggalakkan pengadaan homestay di Batam, yang melibatkan masyarakat setempat,” paparnya.
Pemerintah sebenarnya tidak perlu menyiapkan semua ini Biarkan masyarakat yang membuatnya, sambil memberdayakan ekonomi rakyat.”Pemerintah cukup sebagai fasilitator dan membuat kemudahan dalam urusan ijin membuat dan membangun tempat-tempat destinasi pariwisata ini,” ungkapnya.
Jika semua ini sudah dilakukan, maka pemerintah juga perlu memonitor pertumbuhan wisman di Batam. Apakah memang tumbuh dengan nyata dengan melihat angka kedatangan wisman.
Ini menjadi indikator jelas bagi BP Batam, Dinas Pariwisata Kota Batam maupun Pemprov Kepri.
Ia menyarankan agar membuat target yang nyata dan bisa diukur dengan jelas. Dan menjadikannya sebagai parameter mengukur keberhasilan suatu instansi.
“Misalnya, target yang dibuat peningkatan wisman 20 persen setiap tahun, dalam waktu 2,5 tahun target 50 persen. Lakukan evaluasi setelah 2.5 tahun, bila melenceng jauh copot pejabat yang terkait. Sehingga pejabat tersebut harus melakukan pekerjaannya dengan serius dan produktif, bukan dengan tindakan-tindakan yang lebih banyak basa-basi, seremoni dan tidak produktif,” tegasnya.(leo)
