Rabu, 29 April 2026

Dw, Anak Korban Pembunuhan masih Trauma Namun…

Berita Terkait

Polisi membungkus mayat Deli Cinta, 28, menggunakan kantong mayat dan memeriksa barang bukti di Perumahan Central Raya, Tanjunguncang, Batuaji, Kamis (21/12). Deli Cinta adalah korban pembunuhan dengan tangan dan kaki diikat posisi telungkup setengah bugil. F. Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Kasus pembunuhan terhadap Deli Cinta Sihombing, 28, menyisakkan trauma mendalam bagi anak korban, Dw yang baru berumur dua tahun. Kakak pertama korban, Budi Sihombing menuturkan, keponakannya tersebut memang mengalami trauma, lantaran terkurung selama sehari bersama jasad ibunya tanpa makan dan minum. Bahkan sampai saat ini, Dw masih menangis dan menanyakan keberadaan ibunya tersebut.

“Setelah diperiksa dokter memang dia trauma,” ujar Budi saat ditemui di rumahnya di Kaveling Kamboja, Sagulung, Jumat (22/12).

Namun demikian, trauma tersebut tidak menimbulkan efek gangguan mental terhadap keponakannya.

“Kondisinya stabil, sudah bisa makan dan minum juga,” katanya.

Kasus yang dialami Dw, ini pun mendapat perhatian dari Psikolog Fetty Nurhidayati SPsi PSI. Ia mengatakan Dw harus mendapat perhatian khusus dari orang terdekatnya.

“Anaknya trauma pasti, apalagi sampai menyaksikan kejadian tersebut secara langsung,” kata Fetty saat dihubungi Batam Pos.

Dia mengatakan usia dua tahun merupakan usia emas, dimana anak usia tersebut dapat menyerap apapun yang ia alami. Untuk itu perlu pemantauan ekstra untuk memulihkan kondisi Dw.

“Ingatannya kuat. Pasti kejadian itu dia ingat detail, cuman dia tidak mengerti dengan kejadian tersebut,” katanya.

Untuk mengatasi trauma anak tidak berkepanjangan, ada baiknya anak dijauhkan dari situasi ketakutan. Dalam kasus yang dialami Dw, ia menyarankan baiknya dijauhkan dari tempat tinggalnya, karena akan menimbulkan efek traumatik.

Selain itu, cara paling mudah untuk menghilangkan rasa trauma pada anak adalah dengan mengajaknya bicara. Minta padanya untuk menceritakan apa yang sedang ia rasakan. Dari pembicaraan itu, mulailah belajar untuk memahami apa yang dirasakan anak.

“Secara perlahan juga anak itu diberikan masukan. Jelaskan saja apa yang pernah ia alami,” jelasnya.

Namun demikian, anak yang mengalami trauma harus didampingi psikolog atau diterapi.

“Memang agak sulit menghilangkan trauma, malahan gak bisa dihilangkan, cuman dengan cara itu, seengaknya bisa mengurangi trauma,” ungkapnya.

Dalam kasus Dw yang ditemukan terkurung bersama mayat ibunya, sebaiknya anak tersebut sebisa mungkin menghindari keadaan yang mengingatkan kejadian tersebut.

“Misalnya dia terkurung dalam keadaan gelap kemudian kondisi ibunya saat ditemukan tewas bersimbah darah,” tutupnya. (cr19)

Update