
batampos.co.id – Siapa yang tahan untuk tak menggunakan alat perekam gambarnya, seketika menginjakkan kaki di salah satu dataran yang berada di Kampung Bugis ini. Siapa saja, senantiasa berpose, untuk mendapatkan foto terbaiknya di sana.
Kampung Bugis mendadak ramai menjadi perbincangan remaja di Tanjungpinang. Lokasi yang berada jauh dari hiruk-pikuk Ibu Kota Provinsi, kini berhasil menarik perhatian banyak orang. Dengan munculnya titik lokasi yang dapat dijadikan sebagai lokasi foto terbaru.
Tak sulit menghafal namanya, Kolong Langit pun tak sulit dicari. “Tapi kalau pendatang seperti saya lumayan bingung juga cari Kampung Bugis,” tepis salah seorang pendatang yang dijumpai Batam Pos, Dirman, belum lama ini.
Memang, untuk mengunjungi Kolong Langit, pendatang harus mengetahui lokasi Kampung Bugis lebih dulu.
Untuk mengunjungi Kampung Bugis, pendatang memiliki dua opsi. Satu akses melalui jalur laut. Dengan memanfaatkan moda transportasi pompong, yang selalunya didapatkan Pelantar 2 Tanjungpinang. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit, pengunjung langsung sampai di tengah pemukiman warga Kampung Bugis. Dan selanjutnya melanjutkan perjalanan dengan memanfaatkan ojek setempat, untuk diantarkan ke Kantor Kecamatan Tanjungpinang Kota. Berhubung Kolong Langit berada tepat di seberang kantor tersebut.
Opsi kedua, dengan menggunakan jalur darat. Menemukan Kampung Bugis, tak lagi sulit jika pendatang telah mengetahui Senggarang. Karena Kampung Bugis berada tepat sebelum jalan menurun menuju Senggarang. Ditandai dengan gapura besar yang berada di sebelah kiri jalan, bertuliskan Kampung Bugis.
Selanjutnya?
Lintasi saja gapura tersebut pada jalan lurus beraspal. Dan lagi-lagi, setelah dijumpai Kantor Kecamatan Tanjungpinang Kota yang berada tak jauh dari gapura tersebut, pengunjung dapat langsung mendeteksi lokasi Kolong Langit yang berada di dataran lebih tinggi dibandingkan aspal jalannya.
“Memang begitu jumpa Kampung Bugis, spot Kolong Langit langsung kelihatan. Akhirnya kesampaian juga rasa penasaran saya,” ucap Dirman lagi, yang jauh-jauh berkunjung dari Tanjung Uban.
Lantas lokasi apakah Kolong Langit ini?
Kolong Langit, merupakan lokasi yang diciptakan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Bugis. Tujuannya tak lain, untuk mengundang siapa saja untuk berkunjung ke Kampung Bugis.
“Banyak yang tak kenal Kampung Bugis. Tapi tentu lebih kenal Senggarang karena adanya lokasi kelenteng yang kerap jadi tujuan pendatang,” tutur salah seorang anggota Pokdarwis, Ibob.
Sehingga tercetuslah ide, untuk membuat Kolong Langit ini, agar pengunjung tak lagi sungkan untuk mampir.
Pokdarwis yang merupakan bagian yang membantu pemerintah daerah dalam pembangunan pariwisata ini, juga berupaya menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pembangunan pariwisata di daerahnya.
Bersama Karang Taruna Kampung Bugis, Kolong Langit lantas dirancang memiliki objek-objek buatan yang dapat dimanfatkan untuk berfoto. Seperti gambaran siluet teras rumah, selayaknya gambaran kanak-kanak.
Tak hanya itu, Kolong Langit juga tersedia objek bingkai berbentuk segitiga yang disusun dari ranting-ranting. Kemudian, salah satu objek terfavoritnya, yakni siluet daun pintu yang terbuka, diposisikan lebih tinggi dari objek-objek lainnya.
Seluruh objek ini, didukung dengan pemandangan alam terbuka yang masih asri di kawasan tersebut. Dan tentunya langit terbuka, yang membuat paduan objek dan latar foto menjadi rumah, di Kolong Langit.
Hasilnya, tak lebih dari satu bulan lokasi ini terbuka untuk umum, sudah banyak pengunjung. Khususnya muda-mudi yang ramai-ramai datang untuk berfoto di sana.
“Tentunya harapan kami tersampaikan dengan diadakannya lokasi ini. Dan foto-foto mereka yang di-upload di media sosial, menjadi salah satu upaya promosinya,” terang Ibob yang tak jarang menawarkan diri kepada pengunjung untuk mengambilkan gambar.
Tak selesai sampai di situ, Ibob mengaku Karang Taruna dan Pokdarwis Kampung Bugis, juga telah merancang dua objek foto yang akan ditambahkan dalam lokasi tersebut.
Salah satunya, tutur Ibob, akan dibangunnya ayunan yang bertali panjang. Sehingga pada saat diabadikan, terlihat seperti berayun ke alam bebas.
“Kemungkinan tak lama lagi. Karena kami lihat antusias masyarakat juga tinggi untuk datang ke sini,” ujarnya. (aya)
