batampos.co.id – Pemerintahan Kota Batam menargetkan tahun 2017 wisatawan mancanegara (wisman) datang ke Batam sebanyak 1,7 juta orang.

Namun, sepertinya target itu tidak tercapai. Data dimiliki Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Batam WNA yang masuk ke Batam dari Januari hingga pertengahan Desember 2017, WNA yang datang ke Batam sebanyak 1,3 juta orang.

Untuk mengenjot jumlah wisman datang ke Batam, pelaku pariwisata meminta Pemerintahan Kota Batam berbenah diri. CEO Inko Travel, Sonia meminta pemerintah meningkatkan destinasi wisata bersifat etnik.

“Turis asing. Mau itu dari Korea, China atau Eropa, mereka itu datang ke sini melihat sesuatu yang bersifat tradisional,” katanya pada Batam Pos, Rabu (3/1).

Sonia yang memiliki pengalaman bertahun-tahun dibidang pariwisata, mencontohkan sesuatu yang menarik bagi wisman yakni tarian daerah, bangunan tradisional, museum.

“Seperti kampung tua mereka suka. Tapi kalau diarahkan melihat jembatan barelang, atau hal-hal bersifat modern. Di sana (negara asal turis Korea, China atau Eropa,red) jauh lebih canggih,” ucap Sonia.

Pada intinya, kata Soni wisman ingin melihat sesuatu yang tidak pernah mereka temukan di negaranya.

“Yah itu. Budaya daerah. Itu yang harus kita tonjolkan,” tuturnya.

Ia menceritakan betapa sulitnya menjual paket pariwisata untuk turis Korea agar datang ke Batam. Penyebabnya karena minimnya destinasi yang bersifat tradisional di Batam.

“Saya berusaha membuat mereka berlama-lama disini. Tapi tidak bisa, karena destinasi itu. Tapi tetap saya meminta mereka lebih lama di Batam, dari pada Singapura,” ucapnya.

Ribuan turis Korea yang didatangkan Inko, kata Sonia bermalam di Batam selama dua hari, Singapura satu hari.

Sonia menilai pemerintah belum serius menggarap pariwisata yang berbau kebudayaan. Jauh-jauh hari, Sonia sudah menyampaikan hal ini ke pemerintah, untuk mengembangkan pariwisata tradisional. Tapi usulan itu, kurang ditanggapi pemerintah.

“Saya cinta Batam, saya cinta pariwisata. Saya ingin pariwisata Batam berkembang,” tuturnya.

Sekretaris ASITA (Association Of The Indonesian Tour -Travel Agencies) Kepri, Febriansyah mengatakan pemerintah perlu memperbaiki pelayanan di berbagai sektor. Febriansyah juga meminta pemerintah untuk menambah jumlah even yang ada di Batam. Semua ini untuk menarik wisatawan datang ke Batam.

Febri menyebut ada tiga pilar pariwisata yakni amenitas, aksesbilitas dan atraction. Untuk amenitas seperti restoran, hotel, dinilai oleh Febri sudah sangat mencukupi. Begitu juga dengan aksesbilitas. Batam termasuk daerah yang gampang diakses, memiliki empat pelabuhan dan satu bandara international.

“Dua itu sudah mumpuni. Cuman atraction yang belum optimal,” ucapnya.

Pemerintah dinilai Febri perlu mengoptimalkan pilar ketiga pariwisata itu dengan meningkatkan even-even.

“Banyaknya atraksi dan even ini, akan menambah jumlah kunjungan ke Batam,” tuturnya.

Turis asal Korea swafoto tiba di Bandara Hang Nadim Batam, Senin (25/12). Para turis tersebut akan menikmati liburan di Batam. F Ceep Mulyana/Batam Pos

Terkait dengan aksesbilitas, General Manager Operasional Bandara International Hang Nadim Batam Suwarso mengungkapkan pihaknya siap mendukung pariwisata Batam.

“Kami akan all out untuk mengembangkan pariwisata Batam,” ucapnya.

Bukti dukungan itu, Suwarso menyebutkan pihaknya memudahkan izin-izin bila ada permintaan carter flight untuk mengangkut wisman.

“Fasilitas Hang Nadim juga siap untuk memanjakan para turis,” ungkapnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam Pebrialin mengatakan di tahun 2018 akan meningkatkan destinasi pariwisata budaya.

Kami menunggu Perda Kemajuan Budaya Melayu,” tuturnya.

Dengan keluarnya Perda ini nanti, Pebrialin meyakini pariwisata berbasis budaya akan lebih meningkat. Ia mencontohkan bila perda sudah ada, pihaknya bisa meminta tempat yang menjadi pintu-pintu masuk wisman memutar musik melayu.

“Seperti bandara, lalu menggunakan pakaian melayu,” tuturnya.

Ia mengatakan dengan perda ini, nantinya dirinya bisa mendorong Hotel, Restoran menyediakan masakan Melayu seperti nasi dagang. Selain itu ke depannya, Pemko Batam akan menata kampung tua.

“Kampung tua yang ada di Batam diminta agar menonjolkan kehidupan dan budaya melayu,” ungkapnya.

Saat ini, kata Pebrialin ada satu kampung tua yang dijadikan percontohan sebagai basis pariwisata budaya.”Kampung Terih, yang ada di Nongsa,” ucapnya.

Selain itu meningkatkan pariwisata berbasis budaya. Pebrialin mengungkapkan akan mendorong pihak swasta mendirikan destinasi-destinasi pariwisata. Diakui Perbrialin, destinasi wisata di Batam cukup minim. Sehingga wisman tidak memiliki pilihan yang cukup banyak.

“Kebun Raya akan kami kembangkan. Kami dorong investor mengembangkan fasilitas wisata yang bersifat publik. Saya sudah bekerjasama dengan BPMD juga, untuk menjaring investor,” tuturnya.

Destinasi bahari juga menjadi salah satu perhatian Disbudpar Kota Batam. Pebrialin mengatakan Batam sudah memiliki salah satu destinasi bahari terbaik yakni Pulau Abang.

“Nanti akan kami dorong destinasi bahari diperbanyak,” katanya.

Tahun 2018 tantangan Pemko Batam cukup berat. Target wisman 1,8 juta, dengan berbagai kekurangnya di sektor pariwisata. Cukup pesimis target ini tercapai.

Namun Pebrialin mengatakan pihaknya optimis target wisman ini tercapai. Tidak hanya berbagai perbaikan. Pebrialin mengatakan pihaknya telah menyiapkan 55 even dalam satu tahun ini.

“Itu masuk dalam kalender pariwisata,” tuturnya.

Harapannya dengan meningkatnya sektor pariwisata, menjadi opsi bagi masyarakat saat terjadi perlambatan ekonomi di sektor industri.

“Kami juga akan menjalin sinergi dengan BP Batam dan berbagai pihak meningkatkan pariwisata di Batam,” pungkasnya. (ska)

Advertisement
loading...