Panggilan untuk menjadi gembala umat itu baru dia dengar pascagempa Jogja 2006, saat menjadi salah seorang relawan di sana. Kini, bekerja di jalan-Nya, Pater Al Gesu justru berkarya jauh dari kampung halaman.

Iklan

”KALAU kamu sungguh-sungguh ingin bersekolah di sana, hanya satu kuncinya. Saat ditanya apa cita-citamu, maka kamu harus menjawab: menjadi pastor.”

Itulah kalimat Maria Goreti Du’e yang tidak pernah bisa dilupakan Erens Albertus Novendo Gesu. Berkat kalimat itu, impian Al Gesu –sapaannya– untuk bersekolah di SMP Seminari St Yohanes Berchmans, Mataloko, Ngada, Nusa Tenggara Timur, tercapai.

Di daerah tempat tinggalnya, SMP Seminari itu biasa disebut seminari kecil. Selama tiga tahun, Al Gesu bersekolah di sana.

Rabu (27/12), di Hotel Rimonim, Nazareth, Israel, Al Gesu mengatakan bahwa sebenarnya motivasi bersekolah di seminari kecil bukanlah untuk menjadi rohaniwan. Dia hanya ingin punya banyak teman pria. Dengan permainan-permainan khas lelaki. Lebih menantang.

”Saya ini sulung dari lima bersaudara. Adik saya yang nomor dua perempuan. Tiap kali pulang sekolah dan sampai rumah, maka saya terpaksa bergaul dengan teman-teman adik saya yang semuanya perempuan. Sebab, anak-anak tetangga kami kebetulan perempuan semua,” ungkap lelaki yang berulang tahun tiap 15 November tersebut.

Karena SMP Seminari St Yohanes Berchmans merupakan bagian dari kompleks SMP-SMA dengan nama yang sama, Al Gesu melanjutkan SMA di sana. Jadilah pemuda yang kini berumur 30 tahun itu bersekolah di seminari selama enam tahun. Yakni seminari kecil dan seminari menengah.

Sebagaimana para siswa seminari yang lain, Al Gesu pun seperti punya beban untuk melanjutkan pendidikannya di seminari. Tepatnya seminari tinggi. Sekolah calon pastor.

Tapi, sebelum itu, para lulusan seminari menengah punya kesempatan untuk menimbang-nimbang panggilannya sebagai rohaniwan dalam masa postulat. Masa pengenalan awal pada kehidupan calon rohaniwan.

Pada 2005, Al Gesu menjadi postulan. Postulan adalah sebutan bagi para lulusan seminari menengah yang sedang menjalani masa postulat. Ketika itu, dia melewati masa penting tersebut di Postulat OFM Papringan di Jogjakarta.

Sebagai postulan, Al Gesu juga wajib melewati masa live-in. Yakni hidup bersama komunitas masyarakat tertentu dan membaur di sana. Seperti seorang mahasiswa yang mengikuti KKN (kuliah kerja nyata), dia pun menginap di kediaman salah seorang warga dan menjalani kehidupan normal layaknya keluarga di rumah tersebut.

Ketika itu, dia live-in di rumah seorang penderita kusta di Pati, Jawa Tengah. Pada masa itu, Al Gesu mulai dihadapkan pada pertentangan batin. Meski jalannya menuju seminari tinggi mulus, karena sudah menjadi siswa seminari kecil dan seminari menengah, ternyata dia juga menyimpan keinginan untuk menjadi mahasiswa biasa. Artinya, tidak melanjutkan pendidikan ke seminari tinggi.

”Ketika itu, saya sudah mendaftar ke UPN Veteran dan cari kos di daerah sana juga,” ujar Al Gesu. Tapi, di tengah pergolakan batinnya itu, Jogjakarta diguncang gempa.

Putra Anselmus Waja itu pun langsung tergerak. Dia menjadi sukarelawan di kota pelajar tersebut. Saat itu juga, dia merasa seperti mendapatkan jawaban. Yakni, bahwa dia memang terpanggil untuk menjadi pelayan Tuhan. Sebab, jauh di dalam lubuk hatinya, dia memang selalu suka melayani.

Karena itu, setelah menuntaskan lakon hidupnya sebagai sukarelawan di Jogjakarta, Al Gesu melanjutkan proses menjadi pastor. Pada 2006, dia menjadi novis (siswa di masa pendidikan awal) di Novisiat OFM, Depok, Jawa Barat.

Tahun berikutnya, dia mantap melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. Empat tahun kemudian, lelaki yang suka guyon tersebut menjalani TOP (tahun orientasi pastoral) di Seminari Stella Maris, Kota Bogor, Jawa Barat.

Di Bogor itulah dia pernah mendapatkan pengalaman menarik. Al Gesu, yang mengaku paling sering terlambat mengikuti doa pagi di seminari tersebut, ketiban sampur menjadi pendamping seminaris muda.

Sebagai pendamping, dia harus bisa menjadi teladan bagi para seminaris muda tersebut. Karena merasa tidak sanggup mengemban tugas itu, dia kemudian protes kepada pimpinan.

Di hadapan pimpinan, Al Gesu menyatakan bahwa dirinya tidak layak menjadi pendamping. Sebab, sebelumnya dia tidak pernah punya pengalaman menjadi panutan atau sosok pemimpin. Terutama karena dia suka bicara apa adanya dan gemar bercanda.

”Tapi, ternyata pimpinan malah berkata, ’Justru karena kamu seperti itulah, maka saya tunjuk. Supaya saat para seminaris itu mengenalmu, mereka akan berpikir, orang seperti ini saja bisa jadi pastor, apalagi saya,’” papar rohaniwan yang ditahbiskan sebagai imam pada 8 Desember 2014 tersebut.

Tanpa jubah cokelat yang menjadi identitasnya sebagai pastor OFM (Ordo Fratrum Minorum atau Fransiskan), Al Gesu menjelma sebagai pemuda sederhana yang murah senyum. Dia juga ramah dan sangat suka berkelakar. Selain itu, dia tampak jauh lebih muda saat tak memakai atribut rohaniwannya.

Dalam balutan jubah cokelat OFM-nya, Al Gesu lebih cocok menjadi pastor yang akrab dengan orang-orang tua. Seperti saat dia mendampingi para peziarah Indonesia selama enam hari pada 23–28 Desember lalu di Israel.

Dari hari ke hari, dia menjadi telinga yang selalu siap mendengarkan kisah atau bahkan curhat para ibu. Juga para bapak. Tapi, setiap petang, saat rangkaian ziarah harian berakhir, dia berubah menjadi teman bagi para kaum muda dalam rombongan ziarah yang sama.

Al Gesu berubah menjadi sosok yang energik. Meskipun penampilannya tetap kalem, saat menjadi teman jalan rombongan para peziarah muda yang rata-rata mahasiswa itu, sang pastor terlihat jauh lebih santai. Lebih ngenomi.

Bahkan, sambil berjalan meninggalkan hotel, kepala dan badannya bergoyang ketika dari telepon genggamnya terdengar lagu Buttons milik The Pussycat Dolls.

Al Gesu, yang oleh para peziarah Indonesia disapa dengan sebutan Pater Al, sudah hampir dua tahun tinggal di Israel. Tepatnya di Kota Tua Jerusalem.

Saat ini, dia sedang menjalani peran sebagai mahasiswa S-2 Kitab Suci dan Arkeologi di Studium Biblicum Fransiscanum (SBF) di Jerusalem. Selama menuntut ilmu, dia tinggal di Flagellation Monastery di kompleks Church of Flagellation.

Maka, selain menjadi mahasiswa, dia juga menjadi abunah di paroki yang terletak di dalam tembok Kota Tua Jerusalem tersebut. Sebagai abunah, sebutan untuk pastor dalam bahasa setempat, Al Gesu memimpin misa, melayani konseling, juga menerima pengakuan dosa umatnya.

Tapi, pada hari libur, dia juga boleh libur dari segala urusan gereja. Termasuk menjadi pemandu ziarah.

”Saya masih sekitar tiga tahun lagi lulus,” kata Al Gesu. Di kelasnya, pria yang mengaku ngefans Agnez Mo (Agnes Monica) itu adalah satu-satunya mahasiswa asal Indonesia.

Memang hanya ada enam mahasiswa dalam satu angkatan. Tapi, semuanya berasal dari enam negara yang berbeda. Lima mahasiswa lain berasal dari Slovakia, Polandia, Portugal, Rumania, dan Kroasia.

Lantas, bagaimana cara enam mahasiswa itu berinteraksi satu sama lain? ”Pelajaran di kelas menggunakan bahasa Italia. Karena itulah, bahasa tersebut menjadi semacam bahasa persatuan bagi kami, para mahasiswa,” kata Al Gesu.

Selain bahasa Italia, dia dan teman-temannya juga sering berinteraksi dalam bahasa Inggris. Tapi, tidak semua mahasiswa angkatan Al Gesu bisa berbahasa Inggris dengan lancar.

Untuk menunjang kemampuan berbahasa para pastor yang menuntut ilmu di sana, SBF Jerusalem mewajibkan para mahasiswanya belajar bahasa Italia dulu sebelum tahun ajaran dimulai. Tidak terkecuali Al Gesu.

Pastor penyuka makanan pedas yang mengaku sering kangen sambal Indonesia itu terbang ke Roma, Italia, untuk belajar bahasa mulai Mei 2016. ”Oktober 2016, saya mulai masuk Jerusalem dengan visa studi yang saya urus di Roma,” tutur dia.

Selama hampir dua tahun menjadi mahasiswa, kemampuan bahasa Al Gesu bertambah. Selain bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Italia, dia juga bisa bahasa Yunani, bahasa Latin, dan bahasa Ibrani.

”Tapi, bahasa Ibrani saya adalah bahasa Ibrani kuno. Bahasa Ibrani yang banyak saya jumpai pada naskah-naskah kuno tentang kekristenan yang saya pelajari di kelas. Saya ingin sekali bisa menguasai bahasa Ibrani modern yang dipakai sehari-hari oleh penduduk Israel,” harapnya.

Baru kali ini ada pastor asal Indonesia yang tercatat sebagai mahasiswa S-2 di SBF Jerusalem. Sebelumnya, memang ada beberapa pastor yang pernah bertugas di Jerusalem, tapi bukan sebagai mahasiswa seperti Al Gesu.

Kendati demikian, dia tidak merasa bahwa dirinya hebat. ”Saya kan hanya menjalankan tugas dari pimpinan,” katanya, merendah. Setelah lulus nanti, dia berharap bisa pulang dulu ke tanah air meskipun nanti kembali ditugaskan di luar Indonesia. (INDRIA PRAMUHAPSARI, Nazareth)