Iklan
Kapolres Natuna AKBP Nugroho Dwi Karyanto menyampaikan kronologis penangkapan Arifianto di Mapolres Natuna Sabtu (6/1) kemarin. F. Aulia Rahman/Batam Pos.

batampos.co.id – Hingga saat ini Polisi belum membeberkan penyebab tewasnya Arifianto, staf Dinas Kesehatan di ICU Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Natuna, Jumat (5/1) lalu. Kapolres Natuna AKBP Nungroho Dwi Karyanto menyatakan masih menunggu hasil diagnosa dokter rumah sakit.

Iklan

“Tanpa data saya tidak berani menyampaikan apa penyebab kematian saudara AR. Hasil diagnosanya masih belum diterima dari Rumah Sakit,” kata Kapolres di mapolres Natuna, Sabtu (6/1) kemarin.

Kapolres menerangkan, penangkapan saudara AR dilakukan personel satuan narkoba sekitar pukul 16.00 WIB, Kamis (4/1) melalui penyamaran. Yang diduga menyalagunakan narkoti jenis sabu-sabu. Saat penangkapan ada keluarga mengahalang-halangi sehingga terjadi kontak fisik, keadaan tidak terduga.

Menurut Kapolres, pemukulan yang terjadi disaat penangkapan adalah dinamika yang tidak terduga saat dilakukan penangkapan paksa dilapangan. Saat penangkapan itu pun belum diketahui berapa jumlah barang bukti dimiliki tersangka AR. Namun setelah diamankan, ditemukan tiga paket kecil sabu-sabu siap pakai, masing-masing paket kurang dari satu gram.

“Saat penangkapan, tersangka AR berusaha menghilangkan barang bukti. Apakah ada paket yang ditelannya kami tunggu hasil dignosa dokter yang ahli. Apakah overdosis atau penyebab kesehatan tunggu datanya dari rumah sakit,” sebut Kapolres yang didampingi Kasat Narkoba, Kasat Reskrim, Kasat Intelkam dan Kanit Propam Polres Natuna.

Kapolres mengatakan, setelah ditangkap dikediamannya Batu Ampar sekitar pukul 16.00 WIB, tersangka langsung diamankan ke Mapolres Natuna. Dan tersangka mengalami kejang-kejang dan mengeluarkan busa dimulut, lalu dilarikan ke UGD. Hasil rontgen dokter kondisi kritis dan sempat dipindahkan ICU untuk perawatan intensif sebelum meninggal.

Kapolres menegaskan, jika dalam prosedur penangkapan tersangka menyebabkan kematian. Polres dengan terbuka menerima laporan keberatan dari keluarga korban. Dan laporan itu untuk perbandingan dan penyesuaian laporan di unit Propam Polres Natuna.

“Penangkapan ini sudah tangani internal Propam Polres. Pengakuan anggota dilapangan sudah sesuai. Tetapi keluarga korban dapat menyampaikan keberatan jika penangkapannya tidak sesuai standar operasi prosedur (SOP), dan keluarga yang melapor akan kami lindungi. Jika ada kejanggalan pun tetap akan diproses dan akan dievaluasi, memang pertimbangan petugas lapangan mampu mengeksekusi meleset,”
tegas Kapolres.

Pasca tewasnya Aifianto, keluarga korban masih terpukul atas tragedi meninggalnya Arifianto, terutama kedua anaknya yang masih sekolah. Kesediahan anak sulungnya yang masih duduk dikelas I SLTA pun dituangkan dalam akun instagram pribadinya dan memajang foto bersama sambil menyuapkan ayahnya

(Arifianto,red) suasanya seperti saat merayakan ulang tahun. Kalimat yang tulisnya pun membuat kesedihan bagi warga sosmed.

“Selamat jalan ayah, semoga amal baik mu diterima disisinya dankami selalu mendoakan ayak kami agar masuk surga yang paling indah disana. Terima kasih ayah telah membesarkan kami dengan penuh kasih sayang seorang ayah. Kami berjanji bahwa kami akan sukses sesuai keinginan ayah. Meski ayah tidak sempat melihat kami sukses”.

“Ayah… kami sayang ayah dan bangga punya ayah seperti mu. Jaga dia ya allah… kami titipkan dia padamu,” tulis Adel dipenghujung cuitannya diinstagram.

Sementara sebagian masyarakat Natuna mengecam tindak kekerasan yang terjadi saat penangkapan yang brujung maut ANS Dinas Kesehatan Pemkab Natuna. Tragedi tidak hanya ramai dibicarakan dirumah-rumah, namun pengecaman tindakan kekerasan oknum polisi dituangkan ratusan masyarakat melalui sosial media dan menilai terjadi pelanggaran hak azazi manusia (HAM). Masyarakat Natuna pun meminta kasus tersebut
diusut tuntas dan menuntut profesional penegakan hukum.

Menurut berbagai sumber, terjadinya kontak fisik saat penangkapan di kediaman terjadi disebabkan, keluarga korban berusaha membeli melihat terjasangka diperlakukan tidak wajar, dipukul, ditendang dan injak. Sehingga anaknya yang duduk kelas I SLTA spontan berusaha menghalangi. Namun malah ditendang dan dilarikan ke rumah sakit. Perlakuan yang sama dialami ayah tersangka, yang tidak tega meliat perlakuan yang
dialami anaknya.

Bahkan masyarakat meminta Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak (KPPAD) Natuna tidak diam, namun turut membantu keluarga yang masih dibawah umur yang diperlakukan oknum polisi. Termasuk kredibel dokter RSUD dibutuhkan.

“Kalau KPPAD Natuna tidak ikut menyelesaikan kasus ini, mending mundur saja, ini saatnya Komisioner KPPAD diuji,” ketus Arifin warga Natuna dalam komentar akun sosial media.(arn)