Siswa dan siswa SMPN 37, Tembesi, Sagulung belajar dilantai akibat tidak memiliki kursi dan meja, Jumat (5/1). F. Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Pekan ini SMP Negeri 37 Batam akan mendapatkan 80 set meja dan kursi. Jumlah ini terlebih dahulu diperuntukkan dua kelas.

Iklan

“Sekitar 80 itu dulu. Kursi-kursi ini didapat dari mobiler pengganti,” ungkap Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Batam Muslim Bidin, Minggu (7/1) siang.

Sementara untuk dua kelas lainnya, Muslim menyampaikan akan menunggu proses pengadaan peralatan sekolah tahun 2018 ini. “Jika pengadaanya siap dalam satu bulan, kita tambah sebulan lagi. Kalau dua bulan, kita tunggu dua bulan juga,” terangnya.

Untuk itu sembari menunggu pengadaan tersebut, agar tidak ada lagi proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) lesehan, mahu tidak mahu sekolah harus menerapkan sistem masuk sekolah pagi dan siang (double shift).

“Kami sudah sampaikan tidak bisa masuk pagi, karena mobiler tidak ada,” ucapnya.

Saat ia berkunjung ke sekolah tersebut pada Sabtu (6/1), orangtua bersama komite melakukan rapat. Dalam pertemuan yang tidak difasilitasi sekolah dan dinas tersebut, orangtua murid yang ingin anaknya masuk pagi bahkan bersepakat untuk membantu kekurangan meja dan kursi.

“Mereka mau bantu, kami tidak larang kok. Tapi mereka harus buat pernyatan kalau bantuannya tanpa ada paksaan dari pihak sekolah atau pemerintah, murni keinginan mereka. Dan ini diperbolehkan sesuai Permendikbud 75 tahun 2016. Sifatnya sumbangan,” paparnya.

Ia menegaskan, karena hal tersebut sifatnya sumbangan, hanya wali murid yang ingin saja yang bisa berpartisipasi. “Bagi yang tidak mau bantu, jangan,” tambahnya.

Kata sepakat orangtua murid ini sejatinya bukan yang pertama kali digelar, beberapa waktu lalu sebelum masalah ini diberitakan, komite sekolah meminta orang tua siswa berkumpul, guna membahas permasalahan yang sekolah alami. Akhirnya mereka memutuskan dan sepakat untuk mengumpulkan dana masing- masing Rp 75 ribu per orang. Inilah yang dipertegas Wali Kota Batam Muhammad Rudi agar tidak dilakukan.

“Dari dulu sudah saya gratiskan, yang jelas SD-SMP itu tak ada iuran atau apapun itu,” tegas Rudi, Sabtu (6/1).

Sementara itu, usai bersilaturahmi dengan warga Sungai Harapan, Sekupang, Minggu (7/1) siang Rudi menyampaikan persoalan belajar lesehan di SMP Negeri 37 Batam merupakan persoalan yang disegerakan penyelesaiannya.

“Segera akan kami selesaikan. Pokoknya secepatnya mungkin itu harus selesai,” kata Rudi.

Terkait ini, ia mengklaim telah memerintahkan Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Muslim Bidin untuk cepat turun tangan. Sehingga tak ada lagi pelajar yang lesehan dan nyaman mengikuti proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

“Tenang saja, pak Muslim akan selesaikan. Dia sudah ke sana (SMP Negeri 37 Batam, red),” imbuhnya.

Dari Muslim juga, ia mengaku telah mengetahui persoalan yang terjadi di sekolah tersebut. Untuk diketahui di sekolah ini empat ruang tak memiliki peralatan sekolah. Alhasil 240 siswa harus belajar lesehan.

“Masalah sekolahnya, pas lah seperti yang ditulis di koran,” ungkapnya. (cr13)