Anggota Ditpolair Polda Kepri membawa empat tersangka yang membawa TKI ilegal yang diamankan saat ekpos di Mapolda Kepri, Senin (8/1/2018). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Direktorat Polisi Perairan Polda Kepri mengamankan 17 orang diduga akan diberangkatkan sebagai TKI ilegal, Kamis (4/1). Namun polisi hanya dapat menangkap satu orang pelaku, Jefrianto yang bertugas sebagai sopir. Sementara itu dua pelaku lainnya yakni Ahmad dan Agus, sedang dalam pengejaran pihak kepolisian.

Iklan

“Pengakuan Jefri ini, tekongnya orang berdua itu,” kata Direktur Ditpol Air Polda Kepri, Kombes Pol Teddy Js Marbun, Senin (8/1).

Ia mengatakan subdit Gakum Ditpolair melakukan penindakan ini berdasarkan informasi dari masyarakat. Saat dilakukan pengembangan pihak kepolisian mendapatkan informasi ada satu minibus membawa calon TKI dari Bandara International Hang Nadim menuju ke Pelabuhan International Batamcenter.

“Saat dalam perjalanan itu kami tangkap,” tutur Teddy.

Dari pengakuan Jefrianto ini, polisi mendapat keterangan bahwa masih ada 12 orang calon TKI Ilegal yang berada di Ruko Glory View, Batamcenter. 12 orang itu terdiri dari 3 perempuan dan 9 laki-laki. “Semuanya calon TKI yang tolak masuk ke Malaysia,” ucap Teddy.

Untuk memberangkatkan para TKI ini tidak dipungut biaya. Namun gaji yang diterima para TKI ini nantinya akan dipotong oleh para tekong.

“Mereka terima 1000 ringgit, nanti akan dipotong oleh pengelola praktek ini,” tuturnya.

Para TKI yang berasal dari NTB, Madura dan Jawa ini diangkut ke Batam dari Surabaya. Mereka diiming-imingi bekerja dengan upah tinggi, tanpa harus membayar uang perjalanan satu rupiahpun. Dan akan bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan perkebunan.

“Makanya banyak tergiur. Kata sopir (Jefrianto,red) praktek ini berlangsung baru beberapa bulan. Tapi kami tidak percaya, sedang kami kembangkan kasus ini,” ucapnya.

Teddy mengatakan pelaku akan dijerat dengan pasal 81 jo 69 huruf C jo pasal 72 huruf C Undang Undang Republik Indonesia nomor 18 tahun 2017 tentang perlindungan pekerja migran Indonesia.

“Terancam hukuman 5 tahun penjara,” ujar Teddy.

Saat ini, kata Teddy pihaknya masih melakukan pengejaran untuk pelaku lainnya.

“Sedang kami telusuri keberadaan pelaku memiliki peranan diatas Jefrianto,” ucapnya. (ska)