ilustrasi

batampos.co.id – Meninggalnya puluhan orang TKI ilegal dari Malaysia menuju ke Batam beberapa waktu lalu, tidak membuat calon buruh migran ilegal takut. Hingga kini masih tetap saja ada yang ingin bekerja di luar negeri secara ilegal. Tekong-tekong TKI ilegal masih tetap berusaha menyeberangkan mereka, baik dari Malaysia ke Batam atau sebaliknya.

Iklan

Permasalahan ini menurut Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol Erlangga, perlu melibatkan semua pihak. “Jangan saat sudah kejadian (kecelakaan kapal pembawa buruh migran,red) baru turun. Harusnya memikirkan cara mencegah mereka keluar dari sini,” katanya, Selasa (9/1).

Upaya pencegahan, kata Erlangga sudah dilakukan pihak kepolisian yakni menangkap mereka sebelum memasuki perairan international atau mengamankan para buruh migran ini saat masih berada di penampungan. Tapi semua ini tidak bisa hanya mengandalkan pihak kepolisian.

“Perlu keterlibatan intansi lain dalam menangani permasalahan ini,” ucapnya.

Ia mengatakan permasalahan TKI ilegal ini perlu ditangani bersama-sama. Baik itu dari pihak BNP2TKI, Imigrasi, atau instansi lainnya.

“Kasus ini bukan berkaitan dengan tugas Polri saja. Penyelesaiannya secara komprehensif,” ujarnya.

Bila semua pihak ini gencar menangani permasalahan TKI ilegal. Maka kejadian-kejadian buruhm, yang menimpa masyarakat Indonesia bekerja secara ilegal di luar negeri tidak terulang terus.

Modus perekrutan TKI, kata Erlangga masih menggunakan cara-cara lama. Calon TKI direkrut diiming-imingi dengan gaji yang tinggi. Bagi masyarakat kecil, tentunya tawaran ini sangat menggiurkan dibandingkan gaji mereka di kampung.

“Akhirnya tertarik, dan berangkat,” ucapnya.

Namun kebanyakan mereka ini, masuknya ke luar negeri bukan secara legal. Hal ini terbentur dengan biaya dan pendidikan. Calon TKI masuk ke luar negeri secara ilegal. Mulai dari tanpa paspor, hingga menggunakan paspor kunjung.

Untuk yang tanpa paspor pergi ke luar negeri menggunakan kapal-kapal milik para tekong. Sedangkan yang memiliki paspor, hanya untuk visa kunjung saja. Tapi saat pulangnya menggunakan cara ilegal. “Resikonya besar, bisa-bisa kejadian seperti beberapa waktu lalu (Kapal pembawa TKI dari Malaysia ke Batam tenggelam, menewaskan puluhan TKI,red),” ujar Erlangga.

Oleh sebab itu, Erlangga meminta semua pihak bersama-sama mencegah keluarnya TKI secara ilegal. “Lebih baik mencegah,” pungkasnya. (ska)