Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Kepulauan Anambas Yulius, bersama Kepala Dinas UMPP Anambas Usman cek barang di sebuah toko di Tarempa, Rabu (10/1). F. Syahid/Batam Pos.

batampos.co.id – Sebanyak sepuluh dus aneka produk makanan dan minuman diamankan oleh tim gabungan yang terdiri dari kepolisian, Dinas KUMPP dan Anggota komisi II DPRD Kabupaten Kepulauan Anambas kemarin yang melaksanakan Inspeksi Mendadak (Sidak) Rabu (10/1)

Produk-produk tersebut sudah kedaluwarsa dan produk yang tidak ada tanggal kedaluwarsanya. “Ada aneka produk yang sudah dipisahkan serta didata oleh OPD teknis. Mulai dari permen, makanan ringan dan produk lainnya. Ini baru toko pertama yang kami kunjungi,” ujar Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Kepulauan Anambas, Dhannun saat memeriksa salah satu toko yang ada di Tanjung Tarempa Rabu (10/1).

Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini menambahkan, inspeksi yang dilakukan ke sejumlah toko ini dilakukan selain untuk melindungi konsumen, juga untuk melakukan monitoring harga, termasuk barang yang telah melewati tanggal kadaluarsa. Kondisi cuaca yang kurang kondusif, menurutnya kerap kali terjadi hal-hal yang tidak jarang dikeluhkan oleh para konsumen. “Tujuannya ke sana. Insya Allah ini rutin kami lakukan minimal tiga bulan sekali,” ungkapnya.

Ia mengatakan, upaya untuk menghadirkan barang kebutuhan pokok yang dijangkau oleh masyarakat, coba dilakukan salahsatunya dengan bekerjasama dengan Bulog. Salahsatu komponen bahan kebutuhan pokok yakni gula pasir, diakuinya telah tersedia di gudang Bulog dengan kapasitas 120 ton.

“Sudah ada gula lewat Bulog. Jadi, ada permintaan dari Pemda ke Bulog untuk stok. Harga gula pun maksimal Rp 12.500,00. Pemda juga usulkan untuk beras lewat Bulog juga. Kalau tidak salah saya, sudah ada juga,” bebernya.

Anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Anambas lainnya, Nur Adnan Nala mengatakan, regulasi untuk barang kebutuhan pokok di Anambas yang mayoritas berasal dari Tanjungpinang dan Bintan perlu menjadi perhatian. Politisi Demokrat ini menjelaskan, sejumlah toko yang menjual aneka produk ini tidak mengenal sistem retur.

“Menurut mereka ini berharga, karena ada modal di situ. Mungkin ini juga yang perlu menjadi perhatian,” ungkapnya. (sya)

Respon Anda?

komentar