batampos.co.id – Isak tangis keluarga Ibnu Farhan,23, korban kemalangan di jalan raya Kilometer 23 Tanjungpinang, Kamis (11/1) sekitar pukul 13.30 lalu mengiringi kepergian Lulusan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) angkatan 23 itu.

Lelaki yang belum lama menjadi pegawai protokol sekretariat daerah Kabupaten Bintan itu dilepas melalui prosesi kedinasan pelepasan jenazah di kediamannya tak jauh dari kantor Pemerintah Kelurahan Tanjunguban Selatan pada Jumat (12/1) pagi.

Sesaat kemudian, jenazahnya dibawa ke Masjid Raya Baitul Makmur Tanjunguban untuk disalatkan. Namun, salat jenazah baru dilakukan usai salat Jumat.

Alfeni senior di IPDN ketika ditemui di Masjid Raya menuturkan, sudah ada tanda tanda sebelum korban meninggal dunia. Ia menceritakan jika korban sempat bercanda ke salah seorang senior pada alumni IPDN ingin ditiupkan terompet.

“Sudah menjadi tradisi kami bila alumni menikah atau meninggal, ada yang meniupkan terompet. Waktu itu, dia minta seorang rekannya meniupkan terompet, maksudnya jika dia menikah, tahunya terompet yang ditiupkan terompet pelepasan jenazah,” katanya.

Selain tanda tanda tersebut, ia juga mengatakan, tanda lainnya saat akan dimandikan jenazahnya. Ternyata orangtua korban sudah membelikan kain kafan yang akan digunakan oleh orangtuanya.

“Waktu mau beli kain rupanya orangtuanya sudah menyimpan kain kafan yang dibeli baru baru ini. kain kafan itu, sebenarnya untuk orangtuanya, tetapi justru anaknya dulu yang memakai kain kafan itu,” katanya.

Usai disalatkan, jenazah kemudian dikebumikan di tempat pemakaman umum (tpu) Kamboja di Tanjunguban Kecamatan Bintan Utara Kabupaten Bintan.

Ketika proses pemakaman, ibunda korban yang disapa Imed menyaksikan dari jarak yang agak jauh ketika jenazah anaknya diazannkan dan dimasukkan ke liang lahat. Ia nampak sedih dengan menyandarkan kepalanya ke bahu kerabatnya.

Sementara itu, usai proses pemakaman, kakak korban yang bernama Faradiba terlihat mengelus elus batu nisan adiknya. “Selamat jalan dek, nanti kita jumpa lagi, kakak sayang sama adik,” katanya yang kemudian membaca Alfatiha.

Sedangkan Ibunda Farhan terlihat sangat sedih ketika berada di depan makam anaknya. Ia tak kuasa bangkit dari duduknya dengan kedua telapak tangan memegang tanah makam anaknya. “Sudah ayo bangun Imed, ayo kita pulang,” pujuk kerabat lainnya. Akhirnya, Imed dipapah kerabatnya meninggalkan pemakaman itu. (cr21)

Advertisement
loading...