Iklan

batampos.co.id – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akan menurunkan tarif Pajak Penghasilan (PPh) final untuk pebisnis usaha kecil dan menengah (UKM). Hal ini berkaitan dengan penyusunan aturan mengenai bisnis jual beli online atau e-commerce yang tengah digodok pemerintah.

“Kami sedang mengusulkan agar RPP-nya direvisi supaya tingkatnya diturunkan dari 1 persen menjadi 0,5 persen,” ujarnya di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Jakarta, Jumat (19/1).

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang PPh Atas Usaha, tarif PPh dipatok sebesar 1 persen untuk pengusaha dengan omset di bawah Rp 4,8 miliar setahun.

Sri Mulyani mengatakan kebijakan itu mempertimbangkan banyaknya penyuplai merchant yang tergolong wajib pajak UKM. Jumlahnya bahkan menjadi mayoritas.

Terkait dengan aturan e-commerce, dia mengatakan pemerintah masih menyiapkan Peraturan Menteri Keuangan. Pihaknya telah membahasnya dengan kementerian dan lembaga lain. “Terhadap para pelaku, apakah itu marketplace, apakah itu over the top, kami juga akan komunikasikan,” katanya.

Sri Mulyani mengatakan mendapat sejumlah masukan dari koordinasi tersebut. Salah satunya mengenai level permainan yang setara. Artinya, pajak yang berlaku utnuk e-commerce dan konvensional dibuat sama. Dia mengatakan kebijakan ini terutama berhubungan dengan Pajak Penghasilan (PPN) selain PPh.

Terkait dengan mekanisme aturan e-commerce, Sri Mulyani masih belum ingin menjelaskan dengan detil. Mekanisme tersebut mencakup pemungut pajak dan cara pemungutannya. “Kalau aturannya sudah keluar akan kami sampaikan,” ujarnya.

Sementara sektor perdagangan elektronik atau e-commerce diprediksi masih menjadi primadona para investor pada tahun ini. Pola konsumsi di e-commerce juga semakin berkembang. Selain berbelanja fashion dan gadget, tren penggunaan e-commerce untuk segala jenis pembayaran berpotensi meningkat.

 

Ayu menunjukan produk yang dijual secara online kepada temannnya. Belanja online bisa memudahkan bagi masyarakat berbelanja tanpa harus meninggalkan rumah. F Cecep Mulyana/Batam Pos

Country General Manager ShopBack Indonesia Indra Yonathan menyatakan, pertumbuhan e-commerce di Indonesia didukung infrastruktur yang semakin stabil. Menurut riset ShopBack sebagai salah satu platform belanja online yang bekerja sama dengan 170 e-commerce, data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan nilai investasi di sektor e-commerce pada 2017 mencapai lebih dari USD 5 miliar. Hal itu menjadikan e-commerce sebagai sektor  ekonomi yang paling strategis saat ini.

”Masyarakat saat ini tidak hanya membeli gadget dan barang fashion secara online, namun sudah mulai membeli makanan, pulsa, membayar BPJS, serta tiket-tiket online. Termasuk tiket pertandingan olahraga, konser, dan bioskop,” jelas Yonathan.

Selain itu, dengan mulai bergesernya pola perilaku belanja masyarakat Indonesia, penjualan tiket secara online meningkat. Selain penjualan di sektor transportasi, penjualan tiket untuk acara-acara pertunjukan, musik, dan olahraga mulai marak.

Peningkatan pembayaran seperti pulsa, listrik, dan BPJS tampaknya juga sudah menjadi perhatian khusus bagi pelaku e-commerce. Sejumlah e-commerce seperti Tokopedia, Bukalapak, bahkan perusahaan teknologi Go-Jek mengekspansi layanannya untuk dapat mengakomodasi pembayaran-pembayaran di atas.

Pada kesempatan sebelumnya, CEO dan Founder Go-Jek Nadiem Makarim menyebutkan bahwa perusahaannya memiliki visi untuk mempercepat inklusi keuangan bagi masyarakat unbanked communities. ”Saat ini kita sedang melalui transisi masyarakat tunai menuju nontunai. Indonesia sendiri berpeluang menjadi negara digital superpower, bukan hanya di Asia tapi juga di dunia,” ujar Nadiem.

Head of Partnership and Acceptance Go-Pay Vincent juga menambahkan, fitur layanan pembayaran di aplikasi Go-Jek yang disebut Go-Bills akan memudahkan jutaan pengguna Go-Jek untuk melakukan pembayaran tagihan. ”Go-Jek punya sekitar 55 juta pengguna dan 50 persennya merupakan pengguna Go-Pay. Kami juga bekerja sama dengan 14 mitra bank. Melalui Go-Bills, pengguna dapat membayar iuran BPJS dan membayar tagihan listrik prabayar,” ujar Vincent.

Perubahan pola perilaku belanja tersebut juga ditunjukkan dengan volume transaksi e-commerce yang meningkat. Laporan tahunan yang dikeluarkan We Are Social menunjukkan, persentase masyarakat Indonesia yang membeli barang dan jasa secara online dalam kurun waktu sebulan di 2017 mencapai 41 persen dari total populasi, meningkat 15 persen dibanding tahun 2016 yang hanya 26 persen. (agf/c21/sof)