Kamis, 23 April 2026

PHRI dan Asita Dukung Transportasi Online

Berita Terkait

ilustrasi

batampos.co.id – Ketua Umum Badan Pimpinan Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPD PHRI) Kepri, Tupa Simanjuntak menilai, transportasi online sangat dibutuhkan masyarakat. Bahkan, kehadian transportasi berbasis aplikasi ini membantu pemerintah dan instansi terkait khususnya dalam hal pariwisata.

“Tak biaa dibohongi, taksi online sangat mendukung (pariwisata). Tidak saja dari segi harga, pelayanan yang diberikan berbeda dengan transportasi darat yang lain,” katanya.

Menurut Tupa, Kemeterian Peruhubungan (Kemenhub) sudah mengeluarkan aturan melalui permenhub 108. Seharusnya, permenhub ini segera diimplementasikan ke Peraturan Daerah (Perda). Sehinhga ada aturan yang jelas mengenai aturan dan mekanismenya.

“Jadi kalau masih ada orang yang tidak mau mengadopsi online berarti ia tak ingin menerima perkembangan zaman,” sebut Tupa.

Terkait larangan taksi online sendiri, ia menilai keputusan tersebut belum final. Karena masih dibahas mengenai kuota di instansii terkait.

“Lampu merah itu artinya berhenti, lampu kuning artinya berhati-hati, dan lampu hijau itu artinya berjalan. Menurut saya kendaraan online tersebut masih berwarna kuning karena hasilnya belum final,” beber Tupa.

Sementara itu Sekjen DPD Asita Kepri, Febri selaku bagian pariwisata mendukung apapun perubahan yang bisa meningkatkan pariwisata. Salah satunya transportasi online. Dari segi perusahaan sendiri, ia mengaku penghentian transportasi online berimbas pada jumlah pendapatanya.

“Transportasi online membuat pengunjung semakin bertambah, tidak ada masalah untuk menerima keberadaan transportasi online yang bersifat memudahkan masyarakat juga. Antara taksi online dan konvensional harusnya bisa saling melengkapi satu sama lain,” tuturnya.

Ia mengatakan menyambut baik jika ada kesepakatan baik antara taksi online dan taksi konvensional. Dalam harapannya keduanya bisa menjadi tertib dan aman. Salah satu unsur pariwisata paling utama adalah ketertiban. Karena jika ada kericuhan yang seperi belakangan ini terjadi dapat menjelekkan image Kepri ke daerah lain.

“Prinsipnya sebenarnya sama saja. Jika dipariwisata kuncinya terciptanya unsur sapta pesona wisata seperti keamanan ketertiban, sejuk, bersih, indah, nyaman, kenangan,” paparnya.

Ia menambahakan kenangan juga diperlukan. Pengunjung pulang dari suatu tempat harus memiliki kenangan. Bisa menceritakan kenangan tersebut kepada yang lainnya, sehingga orang tertarik untuk mengunjungi Kota Batam.

“Misalnya pulang dari sini harus membawa kenangan baik itu buah tangan khas Batam ataupun tempat foto-foto yang ada di Batam. Misalnya Welcome To Batam, maka dari situlah kota harus rawat tempat itu juga,” jelas dia. (rng)

Update