Iklan

Industri sepak bola tengah menjamur di Indonesia. Para taipan, perusahaan, hingga lembaga negara ramai-ramai mengakuisisi atau membangun klub sepak bola.

Lihat saja bagaimana Tanuri bersaudara, Pieter dan Yabes membeli Persisam Putra Samarinda dan mengubahnya menjadi Bali United. Lalu ada Achsanul Qosasi yang membeli Persipasi Bandung Raya (PBR) dan mengubahnya menjadi Madura United.

Atau pengusaha muda Kaltim, Nabil Husein Said Amin yang membeli Perseba Super Bangkalan dan membangun kekuatan sepak bola baru yang diberi nama Borneo FC.

Kemudian Jawa Pos yang mengakuisisi Persebaya Surabaya. Bahkan, institusi keamanan negeri ini tak mau ketinggalan. TNI mengambil alih Persiram Raja Ampat dan mengubahnya menjadi PS TNI, sementara Polri membangun Bhayangkara FC.

Kalaupun tidak mengakuisisi, banyak perusahaan-perusahaan besar menjadi sponsor klub-klub Tanah Air. Mereka rela menggelontorkan uang yang tidak sedikit hanya untuk menghidupi sebuah klub sepak bola. Ingin agar nama mereka menempel di jersey.

Mungkin saat ini sepak bola menjadi bisnis baru yang begitu menggoda. Boleh dibilang, menjadi salah satu media promosi yang ampuh selain koran. Meskipun survei Nielsen maupun Roy Morgan membuktikan bahwa promosi di koran lebih efektif. Hehehehe

Sah-sah saja jika mereka menjadikan sepak bola sebagai media promosi. Atau lebih tepatnya mengejar prestise. Karena olahraga si kulit bundar ini paling digandrungi di seantero negeri ini. Bahkan jagat raya.

Laga-laga Liga 1 Indonesia selalu disaksikan jutaan pasang mata. Baik yang menonton langsung ke stadion maupun lewat televisi. Mereka mendukung klub kesayangannya.

Namun, yang menarik adalah penggunaan nama daerah untuk sebuah klub. Rata-rata nama daerah yang mejeng di klub maju. Tidak usah memberi contoh klub perserikatan yang memang sudah kental nuansa kedaerahannya seperti Persebaya Surabaya, Persib Bandung, PSMS Medan, Persija Jakarta, dan lainnya.

Kita ambil contoh klub baru. Seperti Bali United, Madura United, atau Borneo FC. Sejak klub-klub itu muncul, daerahnya langsung maju. Bahkan, Bali yang sudah dikenal sebagai tempat wisata eksotis kian maju. Sampai-sampai, fans Bali United berasal dari luar negeri.

Kemudian Madura United dan Borneo FC. Sejak klub itu muncul, daerahnya kian maju. Banyak wisatawan berkunjung. Bahkan investasi menjadi lebih hidup. Pada saat laga kandang saja, terjadi eksodus besar-besaran ke daerah tersebut. Dari suporter, fans pemain, hingga sponsor. Benar-benar ramai.

Karena, sepak bola mampu menjadi sarana promosi bagi daerah. Memperkenalkan potensi daerahnya ke khalayak banyak. Apalagi kalau sampai mentas di level internasional. Orang tidak hanya bertanya, klub apa itu? Namun juga dari daerah mana klub itu berasal.

Kebetulan saya pernah menjadi local media officer dan manajer Bontang FC. Sebuah kota kecil di Kaltim. Ketika keluar daerah, orang sudah kenal dengan Bontang meskipun belum pernah berkunjung. Uniknya, mereka tahu bahwa di Bontang ada klub bernama Bontang FC. Padahal, kota itu dikenal sebagai kota industri pupuk dan gas.

Bagaimana dengan Batam? Saya rasa tidak ada salahnya Batam punya klub. Kalaupun ada, boleh dikasih nama Batam United. Tapi kalau ada yang punya saran lain, silakan. Kayaknya, Batam United lebih oke. Hehehehe

Membangun industri sepak bola memang bukan perkara mudah. Ada yang menapaki dari level bawah. Ada juga yang menggunakan cara instan lewat akuisisi. Semuanya sah-sah saja.

Mungkin Batam bisa mencontoh Bali United, Madura United, atau Borneo FC. Karena lewat sepak bola, daerah-daerah tersebut kian maju. Toh, ini sejalan dengan program pemerintah dan Badan Pengusahaan (BP) Batam untuk menggenjot pariwisata.

Tidak ada salahnya juga mencoba. Tinggal mengumpulkan para pelaku kepentingan untuk duduk bersama dan urunan membangun kekuatan sepak bola Batam.

Toh dari segi sarana dan prasarana, Batam sudah sangat memenuhi syarat. Tinggal memoles Stadion Tumenggung. Atau mau bikin stadion baru. Boleh saja.

Misalnya, jelang pramusim digelar turnamen internasional ASEAN. Pesertanya klub-klub Asia Tenggara. Sudah barang tentu para fans akan berbondong-bondong ke Batam. Kalau sudah begitu, roda ekonomi akan berputar, okupansi meningkat, dan Batam akan dijadikan tempat wisata bagi orang asing. Apalagi lokasi Batam sangat strategis.

Nah, saat kompetisi resmi bergulir, giliran wisatawan dalam negeri yang berkunjung. Contohnya saja saat Persib Bandung menyambangi Batam. Beberapa rekan saya yang dari Bandung juga datang. Bahkan minta diajak jalan-jalan untuk cari oleh-oleh khas Batam lho. Hehehehehe.

Dari beberapa contoh tersebut setidaknya sudah kelihatan. Industri sepak bola dapat mengerek ekonomi. Juga dapat mengenalkan potensi wisata di daerah. Lagian, para suporter lawan datang ke laga tandang tidak hanya untuk menonton. Tapi juga jalan-jalan.

Ya, setidaknya dapat dijadikan momentum untuk berlibur. Menikmati keindahan dan potensi yang dimiliki daerah tujuan.

Jika memang industri sepak bola mampu mendongkrak ekonomi daerah, tidak ada salahnya Batam United kita bentuk. Hehhehehe. ***

 

Guntur Marchista Sunan
General Manager Batam Pos