Iklan
Para anggota Kompakers saat kumpul di warung Mbah Darmo, Tanjungpinang. F. Kompakers untuk Batam Pos.

batampos.co.id – Perkembangan teknologi kamera pada peranti elektronik yang semakin mumpuni searah dengan minat penggunanya terhadap fotografi. Kini, ada banyak hal yang bisa dilakukan melalui fasilitas kamera yang semakin canggih yang terbenam dalam gadget. Siapa pun bisa memotret gambar bagus dan bisa lekas dibagikan di media sosial.

Namun, perlu diketahui juga bahwasanya masih ada banyak hal yang tidak seharusnya dipotret, malah dipotret dan dibagikan ke khalayak. Hal ini yang kemudian coba dihindari oleh para pecinta fotografi di Komunitas Kompakers Tanjungpinang.

Untuk itulah, perempuan-perempuan yang tergabung dalam komunitas ini menyejalankan minatnya terhadap fotografi dengan koridor visi dakwah sebagaimana yang digaungkan Echi Sofwan, sang pelopor akun @uploadkompakan di Instagram, yakni dengan tidak memotret anggota tubuh, patung dan hewan, yang bertujuan meminimalisir foto selfie yang mengumbar aurat.

“Komunitas ini didirikan dengan tujuan sebagai wadah yang bermanfaat untuk kaum ibu yang menyenangi fotografi. Tidak hanya memotret dengan kamera DSLR, tetapi yang memotret dengan kamera ponsel pun boleh turut serta,” ujar Ketua Kompakers Tanjungpinang, Leli Prawesti pada pertemuan ketiga di RM Waroeng Mbah Darno, Minggu (21/1).

Dijelaskan Leli, pertemuan kemarin adalah pertemuan ketiga setelah sebelumnya digelar pada Januari 2015 dan Maret 2015. Namun, berbeda dari dua pertemuan sebelumnya, acara kali ini digelar dengan lebih menarik. Ini terlihat pada dekorasi bernuansa warna pastel yang cantik, diisi dengan bagi ilmu tentang fotografi oleh narasumber.

Yuyun yang juga anggota @kompakerstanjungpinang dan memiliki hasil-hasil jepretan yang bisa disejajarkan dengan fotografer profesional didapuk sebagai narasumber. Ia membagikan ilmu-ilmu fotografinya khususnya dalam memotret objek yang menjadi favorit para ibu-ibu yaitu makanan atau kuliner.

Dikatakan Yuyun, kamera terbaik adalah yang dimiliki oleh masing-masing individu, dan sudut pengambilan gambar yang terbaik juga adalah yang sesuai dengan keinginan sang pemotret.
“Tinggal lagi bagaimana mengatur arah pencahayaan, properti pendukung.Yang terpenting adalah jarak antara si pemotret dengan objek, untuk menghasilkan foto yang menarik,” ujarnya.

Untuk aplikasi pendukung fotografi, saat ini sudah banyak tersedia di berbagai jenis ponsel sehingga hasilnya pun tak kalah dengan kamera profesional. Ke depan, diharapkan komunitas ini tidak hanya sekadar menjadi ajang kumpul-kumpul, tetapi bisa lebih ditingkatkan eksistensinya dan manfaatnya dengan menggelar pelatihan fotografi. (aya)