Penghuni Lembaga Pemasyarakatan kini lebih berdaya dan kreatif. Sejak Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) memberikan pelatihan kepada mereka. Dari balik jeruji penjara, mereka bisa menjadi barista, membuat kerajinan tangan yang menembus pasar internasional, dan menghasilkan uang.

Muhammad Toha memilih biji kopi di hadapannya. Ada sembilan jenis kopi lokal dalam toples bening. Mulai dari kopi Toraja, Kopi Mandailing, Flores hingga Wamena. Ia mengolah biji kopi dengan mesin pembuat kopi otomatis hingga menjadi bubuk lalu mulai meracik kopi. Tangannya lincah mencampurkan bahan. Ia membuat Espresso, kopi ala Italia. Kopi diseduh dengan sebuah mesin kopi canggih. Espresso yang sudah siap dituangkan ke dalam gelas kertas. Ia menyajikannya layaknya di kafe.

Kopi itu ia sajikan kepada pengunjung yang antre di depan stan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), akhir tahun lalu. Pria 37 tahun, ini melayani dengan penuh senyuman bak barista profesional. Wajahnya yang bersih membuat senyumnya tampak manis. Rasa kopi seduhannya yang tak kalah mewah dengan Espresso di kedai kopi kelas atas membuat penikmat kopi tersenyum.

Melihat parasnya dan setelah mencicipi kopi buatannya, tidak ada yang menyangka sang barista adalah seorang narapidana (napi). Dia terpidana kasus narkotika di Rumah Tahanan (Rutan) Klas I Cipinang. Dia dihukum penjara selama dua tahun dan sudah setahun menjalani hukuman. Pria yang biasa disapa Toha ini mengaku mendapat pelatihan barista dari Yayasan Jera Foundation. Ia peserta pelatihan barista dari angkatan pertama.

Pelatihan dilakukan selama satu bulan mulai dari teori hingga praktek penyajian. Setelah mahir, Toha dipilih untuk mengikuti sejumlah pameran kopi bahkan menjadi instruktur bagi rekan lainnya. Tah heran, Toha bisa membedakan Espresso, Cappucino, Caffe Latte, dan istilah kopi lainnya.

“Ini bukan pameran pertama, saya sudah seringkali ikut even. Di dalam (penjara) saya lebih banyak aktivitas. Saya juga menjadi instruktur untuk calon barista,” katanya di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten.

Pria asli Jakarta ini mengatakan, kehadiran Jeera Foundation memberikan kontribusi nyata dalam proses perbaikan dirinya. Di penjara, ia kini menjadi barista di kafe dalam ‘rumah’ yang ia huni setahun ini. Bahkan setelah menjadi barista, ia bisa menghasilkan uang dan mengirimkan untuk anak dan istrinya di rumah. Tak banyak memang. Hanya Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Tetapi dengan hasil itu, keluargnya bisa menerima keadaannya.

“Pertama istri dan anak-anak saya menerima saya gitu. Oh, ayah di sana kerja bukannya dipenjara. Dan kedua, saya bisa mengirimi (uang) anak istri saya,” katanya.

Setelah keluar dari penjara nantinya, Toha ingin membuka usaha kedai kopi. Dengan keahlian meracik kopi ia akan merangkul rekan mantan narapidana lainnya. Dia berharap para mantan napi dapat menjalani hidup yang lebih positif.”Saya ingin buat usaha kopi sambil menampung teman-teman saya yang sudah bebas. Tak ingin lagi lah masuk penjara. Kapok,” ungkapnya lalu tersenyum.

Toha bukanlah satu-satunya penghuni lembaga pemasyarakatan yang kini berdaya dan punya keahlian. Di seluruh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kemenkumham. Hasil karya mereka kemudian difasilitasi untuk menjangkau pasar berbagai daerah di Indonesia hingga pasar internasional.

Direktur Pembinaan Narapidana dan Latihan Kerja Produksi (Latkerpro) Harun Sulianto mengatakan ada 25 Lapas yang telah membina Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) maupun Rumah Tahan Negara (Rutan) se-Indonesia. Dari 25 Lapas itu, 11 telah mampu mengkepsor hasil karya WBP ke mancanegara.

“Ada 25 Lapas dan 11 produk karya WBP yang sudah diekspor ke luar negeri,” jelas Harus Sulianto di ajang pameran Trade Expo Indonesia ke-32.

Pada pameran di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City Tanggerang Selatan itu, beragam produk unggulan karya narapidana dipamerkan. Di antaranya jeera bag, produk tas karya WBP Rutan Kelas I Cipinang yang sudah diekspor ke Timur Tengah. Harganya mulai Rp 500 ribu sampai Rp 5 juta. Terbuat dari kulit asli.

“Ini sudah di ekspor ke Dubai (Uni Emirat Arab). Tapi harganya lebih murah dibandingkan tas kulit yang sama yang saya temukan di Kota Kasablanka,” kata Harun.

Lalu ada kursi malas atau ayunan yang terbuat dari anyaman plastik. Harganya Rp 3,5 juta. Kursi ini karya napi Lapas Narkotika Cirebon. Produknya sudah diekspor Jerman, Perancis, dan Timur Tengah. “Ini ada juga meubelair karya WBP Lapas Kelas 1 Surabaya di Porong yang diekspor ke Eropa,” ungkap Harun sembari menujukkan satu per satu produk karya napi.

Tak hanya produk buatan napi di Jawa. Ada produk karya napi di Lapas Kelas IIA Pontianak berupa tikar kayu yang juga sudah diekspor ke Malaysia. Dari ujung timur pulau Jawa, ada produk karya WBP Lapas Kelas IIB Banyuwangi berupa kerajinan kayu dan alat makanan yang sudah diekpor ke Jepang dan Korea Selatan.

Beberapa kerajinan tangan juga buatan napi-napi yang populer karena kasusnya. Mereka masuk karya eksklusif seperti karya batik tulis bermotif burung cendrawasih milik Mary Jane Fiesta Veloso. Terpidana mati wanita asal Filipina yang menghuni Lapas Perempuan Yogjakarta. Lalu ada karya kaligrafi milik napi teroris Lapas Semarang dan Lapas Madiun. Harganya tidak tanggung-tanggung, jutaan rupiah. Seperti batik karya Mary Jane yang ditawarkan seharga Rp 12 juta.

Harun Sulianto menjelaskan, acara pameran internasional di Jakarta menjadi kesempatan untuk menjual hasil karya para napi. Di sinilah potensi yang bisa diraih, terutama menambah jumlah pembeli dari mancanegara. Kemudian tentunya menambah penghasilan para narapidana yang menjadi perajin dalam penjara.

“Merek ini mendapat penghasilan karena digaji berdasarkan keahliannya. Kalau yang sudah punya skill, mereka mendapat premi (gaji) sesuai UMR,” ungkap Harun.

Meski sudah menembus pasar internasional, Harun mengharapkan, karya-karya produk-produk unggulan WBP atas pembinaan Ditjen PAS dapat mengikuti selera pasar. Tiap produk karya WBP harus memperhatikan desain kreatif dan inovatif. Sekaligus mengikuti perkembangan zaman dengan dipasarkan melalui cara online.

“Kami (Ditje PAS-red) sedang menuju bagaimana cara memiliki aplikasi Pemasyarakatan Online. Kemudian meningkatkan jumlah negara yang menerima produk karya WBP yang akan diekspor,“ katanya. ***

Advertisement
loading...