Senin, 27 April 2026

Kurangi Nasi, Perbanyak Sayur dan Ikan

Memerangi Gizi Buruk di Hari Gizi

Berita Terkait

foto: putut ariyotejo / batampos.co.id

batampos.co.id – Banyak yang menganggap makanan bergizi sama dengan makanan sehat. Namun kenyataan itu tentu saja terbalik mengingat makanan bergizi itu belum tentu sehat bagi individu tertentu. Artinya, setiap individu punya angka kecukupan gizi yang berbeda.

Dokter Spesialis Gizi Klinik Rumah Sakit Awal Bros Batam, dr. Brain Gantoro, SpGK mengatakan pentingnya gizi sendiri sudah ada sejak 1950 lalu. Kemudian tahun 1960, Menteri Kesehatan atau Bapak Gizi Indonesia, Prof. Poorwo Soedarmo mulai mengkader tenaga gizi Indonesia, yang saat ini diperingati sebagai Hari Gizi Nasional (HGN).

Kembali, ia menjelaskan makanan sehat adalah makanan yang tidak mengandung bahan berbahaya dan mengandung gizi yang bermanfaat untuk tubuh. Sedangkan makanan bergizi adalah makanan yang mengandung unsur gizi seperti tiga jenis makronutrien yakni karbohidrat, protein, serta lemak.

“Kemudian mengandung dua zat tambahan lain seperti vitamin dan mineral,” kata dr Brain, Rabu (24/1).

Selanjutnya ada dua zat tambahan lainnya yang digunakan untuk membantu proses metabolisme tubuh yakni serat dan air. Mengenai makronutrien sendiri dibutuhkan untuk memproduksi energi bagi tubuh. Lebih lanjut soal gizi makanan, dr Brain mengatakan gizi makanan punya tiga tugas.

“Pertama sebagai pemberi tenaga yakni tugas karbohidrat. Kedua sebagai zat pembangun yang merupakan tugas protein, mineral, dan air. Ketiga sebagai zat pengatur yakni dari vitamin, protein, mineral,” jelasnya.

Karena tugas zat gizi makanan tersebut, setiap orang punya angka kebutuhan gizi berbeda-beda pula tergantung jenis kelamin, indeks masa tubuh dan aktivitas hariannya, atau yang lebih dikenal dengan angka kecukupan gizi (AKG).

Rata-rata kecukupan energi dan protein bagi penduduk Indonesia tahun 2013 masing-masing sebesar 2.150 Kilo kalori dan 57 gram protein per orang per hari pada tingkat konsumsi. AKG ini ditetapkan dalam peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2013.

Dalam kasus orang bertubuh kurus, perlu mengonsumsi banyak makanan yang mengandung karbohidrat, protein, dan lemak. “Terlebih mengingat mereka (orang kurus, red) tidak punya cadangan energi dari lemak tubuhnya,” ujarnya.

Kebutuhan gizi ini tentu berbeda dengan individu yang memiliki berat badan lebih besar.

“Mereka (orang gemuk) justru harus mengurangi porsi nasi yang dikonsumsi dan memilih makanan rendah lemak,” ungkapnya.

foto: putut ariyotejo / batampos.co.id

Lalu, seperti apa gizi yang baik buat tubuh? Brain mengungkapkan makanan bergizi tidak harus mahal. Jika dahulu sering mendengar 4 Sehat 5 Sempurna, itulah kuncinya. Karbohidrat bisa didapatkan dari nasi, protein hewani dan nabati dari lauk pauk, sayuran yang mengandung vitamin, mineral, dan air. Kemudian buah yang mengandung vitamin, mineral, serat dan air. Lalu, zat kalsium, lemak, dan protein bisa didapatkan dari susu atau telur.

“Kenapa harus susu atau telur, karena keduanya merupakan sumber kalsium,” ucapnya.

Selain itu, ada yang menyebutkan pedoman umum gizi seimbang, 13 pesan dasar gizi seimbang dan belakangan ini sering didengar 10 gizi seimbang. “Ada pula Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) yang menyederhanakannya menjadi perbanyak makan sayur, buah, dan ikan. Ini sudah cukup memenuhi gizi per hari,” kata dr Brain.

Cara pengolahan yang baik untuk sayur dan buah tentu saja dengan mengonsumsinya secara langsung atau untuk sayur bisa dikukus. Untuk ikan, cukup memperhatikan tingkat kematangannya agar tetap mengandung gizi.

“Kembali, makanan bergizi bisa didapatkan dalam keseharian kita. Kurangi nasi, perbanyak konsumsi sayuran, buah dan ikan,” tutupnya.

Perangi Gizi Buruk

Dinas Kesehatan Kota Batam berusaha untuk menekan angka penderita gizi buruk di Batam. Berdasarkan data dari Dinkes Batam angka penderita menanjak naik. Dari tahun 2015 terdapat 196 balita, jumlah ini mengalami kenaikan di tahun selanjutnya yakni 277 penderita, terakhir tahun 2017 turun menjadi 251 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Batam, Didi Kusmarjadi mengatakan pemerintah selalu berupaya untuk memberikan sosialisasi dan berupaya dalam memperbaiki gizi masyarakat.

Selain itu, seluruh petugas ahli gizi yang tersebar di seluruh puskesmas diberikan pepatuhan proses asuhan gizi berstandar, pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil yang kurang energi kronis (KEK).

Didi menambahkan, pihaknya juga mendatangi sekolah dasar untuk memberikan sosialisasi, serta kampanye gizi seimbang, pemberian vitamin A pada bulan Februari dan Agustus, dan melakukan pelacakan kasus gizi buruk.

Ia mengungkapkan beberapa langkah juga dilakukan untuk mencegah terjadinya gizi buruk di antaranya, pemberian makanan tambahan pada bayi yang tidak mengalami kenaikan berat badan setiap menjalani pemeriksaaan, menggelar konseling dan pemantauan berat badan bagi balita yang kurus dan sangat kurus, serta mengedukasi ibu untuk memperhatikan makanan dan susu yang baik untuk anak sesuai dengan umurnya.

Didi menjelaskan, faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab terjadinya gizi buruk pada anak. Selain itu kurangnya pengetahuan ibu juga menjadi penyebab. Ia mencontohkan pemberian makanan yang asal-asalan pada balita. Padahal umumnya mereka belum bisa mencerna makanan maupun minuman sejenisnya.

“Asalkan anak suka, orangtua langsung kasih. Padahal itu berpengaruh terhadap perkembangan tumbuh balita,” sebutnya.

Warga desa Setokok, Barelang, memenuhi Posyandu Anggrek I. Warga di sana sangat antusias membawa Balitanya untuk mendapatkan pelayanan di Posyandu tersebut. Foto: Immanuel Sebayang/ Batam Pos

Ia menambahkan, untuk memperbaiki gizi cukup dengan mengonsusmsi makanan yang sehat seperti sayuran, ikan dan susu. “Intinya yang dikonsumsi anak sehat,” imbuhnya.

Lanjutnya, peningkatan gizi ini, Dinkes Kota Batam juga melibatkan masyarakat serta peran puskesmas serta posyandu.

Kader posyandu yang sudah tersebar rutin melakukan penimbangan bagi balita. Jika ditemukan balita dengan berat baan yang bermasalah, kader langsung merespon cepat dengan memberikan makanan tambahan.

Langkah ini dinilai cukup membantu pemerintah dalam mendeteksi dini jika ada balita yang bermasalah dengan tubuhnya.

Menurutnya, Batam sudah termasuk kota yang cukup maju. Ia berharap jumlah penderita gizi buruk bisa menurun bahkan tidak ada lagi. Untuk itu, pihaknya sangat berharap seluruh pihak bisa membantu, salah satunya dengan bergerak cepat jika ditemukan balita yang memperlihatkan gejala menderita gizi buruk. (yui/why)

Update