
batampos.co.id – Azan Maghrib mulai berkumandang. Semua bergegas mengambil wuduk. Ingin berjamaah bersama sejak rakaat pertama. Antrian cukup panjang. Karena berbarengan dengan acara buka puasa bersama.
Rekaveny Soerya Respationo ikut dalam barisan antrian itu. Beberapa petugas protokol tampak risau. Mereka ingin mengarahkan Rekaveny ke tempat wuduk VIP. Beberapa malah meminta kepada masyarakat yang antre di depan Rekaveny untuk memberi laluan.
“Biar saja. Sama semua. Gak panjang lagi kok,” kata Rekaveny dalam acara buka puasa di kawasan Sungai Harapan kala itu.
Bagi Rekaveny, hal-hal seperti itu bukan sebuah prinsip. Sampai pada gilirannya, dia pun berwuduk. Dia dapat memenuhi berjamaah bersama sejak rakaat pertama.
Kadang, sebagai pejabat karena berposisi sebagai anggota DPRD Batam dan istri seorang Wakil Gubernur, Rekavey tidaklah “patuh-patuh” kali dengan ketentuan keprotokolan.
Lebih sering dia melaju sendiri dengan memegang stir mobil. Teman kerja atau ajudannya malah duduk di samping.
Apalagi kalau menuju ke lokasi pengajian. Demikian juga ketika bergegas ke pesantren atau panti panti asuhan dan sosial, Rekaveny selalu lebih memilih memegang kemudi.
Aktivitas sosial adalah dunia Rekaveny. Sejak lama, sebelum menjadi anggota dewan dan sebagai istri Wakil Gubernur Kepri, perempuan kelahiran 7 Juli ini selalu bergumul dengan kegiatan sosial.
Dalam beberapa kesempatan, di awal-awal 2000-an dia berada di Nongsa dan singgah ke rumah-rumah penduduk di sana. Bertemu warga dan berbagi untuk meringankan beban hidup. Dia hanya ingin berbagi kepada masyarakat dengan teman-temannya.
Malah sempat dalam satu periode, di rumahnya di kawasan Duta Mas sudah terbungkus paket-paket sembako. Ada saja kelompok masyarakat yang hadir dan mendapat bingkisan meringankan beban kehidupan. Ketika dikarunia posisi dan sedikit kewenangan, Rekaveny dapat bergerak lebih luas lagi untuk aktivitas-aktivitas sosialnya.
Saat menjadi anggota DPRD Batam, gaji Rekaveny memang tidak pernah sampai ke rumah. Uang tersebut terbang bersama amplop-amplop yang uangnya dimasukkan sendiri oleh Rekaveny. Sampai kepada masyarakat yang layak dan ada dalam ingatan Rekaveny. Mereka berada di Batam dan beberapa pulau di sekitar Batam.
Jiwa sosial Rekavany memang tinggi. Keinginannya untuk selalu berbagi kepada kelompok masyarakat kurang mampu juga sudah menjadi kebiasaan. Liat saja penghasilannya di DPRD, semua habis untuk diberikan kepada orang lain.
Ketika menjabat sebagai Ketua Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial Kepri, Rekaveny semakin memperluas aktivitas sosial kemasyarakatannya. Berada pada posisi tersebut membuat kesibukan Rekaveny dengan upaya-upaya pemberdayaan kelompok masyarakat makin gencar.
Dengan lembaga ini, misalnya Rekaveny bisa melakukan sunatan massal untuk anak berkebutuhan khusus dan disabilitas di Batam dan Tanjungpinang. Pemeriksaan mata/low vision untuk banyak pelajar se Kepri. Menggelar pelatihan-pelatihan untuk kelompok usaha disabilitas. Menggelar operasi katarak serta aktivitas sosial dan pemberdayaan masyarakat lainnya. “Hati suka bergetar, melihat mereka. Makin terbuka jalan begitu menjadi ketua LKKS Kepri yang bidangnya memang sosial,” kata Rekaveny suatu kali.
Bagi Rekaveny, jabatan adalah alat untuk memberdayakan masyarakat. Semaksimal mungkin membantu masyarakat. Malah Rekaveny bersama Sri Sudarsono ikut mempelopori pendirian Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) untuk Provinsi Kepri. Semuanya itu dalam upaya membantu penyandang disabilitas di kawasan ini.
Tak heran ketika Rekaveny berpulang ke Rahmatullah setahun lalu, tepatnya 25 Januari 2017, kedukaan mendalam tak hanya dirasakan keluarganya. Banyak kelompok masyarakat yang merasakan kehilangan sosok yang selalu mengayomi ini.
Sampai kini, tempat peristirahatannya terakhirnya di Komplek Padepokan dan Pemakaman Sasono Punggowo, Nongsa, Batam, selalu dihadiri peziarah. Sepanjang hari selalu ada yang mengunjungi. Apalagi di akhir pekan pada Jumat, Sabtu, dan Minggu.
Tak hanya kerabat, relasi dan sahabat, banyak kelompok masyarakat yang bersedekah doa ke makam tersebut. Banyak juga dari pesantren-pesantren, anak-anak yatim, para penyandang disabilitas, paguyuban-paguyuban, majelis-majelis taklim dan pengajian juga datang menziarahi makam anak Fadhli Ghatam itu.
Kadang kerabat Rekaveny baru tahu bagaimana hubungan almarhumah dengan kelompok masyarakat tersebut, setelah mereka bercerita. Kadang kisah-kisah baru bagaimana hubungan para peziarah dengan almarhumah tak pernah disangka.
Kesan kehilangan pernah disampaikan Mendagri Tjahjo Kumolo setahun lalu saat melepas Rekaveny ke tempat peristirahatan terakhir. Demikian juga dengan Gubernur Kepri Nurdin Basirun yang mengatakan almarhumah sebagai sosok wanita yang ikhlas, yang selalu bekerja keras serta memberi waktu, pemikiran dan tenaga yang terus dipersembahkan untuk masyarakat Kepri.
HM Soerya Respationo, suami almarhumah berpesan kepada anak-anaknya dan cucu-cucunya untuk meneruskan semangat berbagi almarhumah sesuai dengan cara mereka dan perkembangan terkini dunia ini.
Dan kini, aktivitas-aktivitas itu memang diteruskan anak-anaknya. Membantu masyarakat dengan profesi mereka. Hadir di tengah-tengah masyarakat untuk memberi manfaat.
Kepada para penziarah yang datang ke Komplek Padepokan dan Pemakaman Sasono Punggowo Soerya menyampaikan terima kasihnya.“Mohon selalu didoakan dan terima kasih doanya,” kata Romo, panggilan akrab Soerya Respationo. (hgt)
