
Foto Dalil Harahap/Batam Pos
batampos.co.id – Pelayanan medis di RSUD Embung Fatimah Batam di Batuaji juga mendapat sorotan dari Gubernur Kepri Nurdin Basirun. Saat meninjau RSUD, Rabu (24/1) lalu, Nurdin prihatin dengan antrean panjang pasien di loket pendaftaran rawat jalan. Kepada pihak manajemen Nurdin berharap ada terobosan baru untuk mengatasi persoalan itu.
“Bisa nggak pakai sistem SMS saja. Biar tak lama orang nunggu seperti ini,” ujar Nurdin kepada pihak manajemen RSUD.
Jika menggunakan pendaftaran melalui via SMS, kata Nurdin, pasien yang hendak berobat di RSUD setidaknya sudah tahu jadwal kapan dia akan dilayani.
“Biar tak lama nunggunya. Kalau tahu antrean masih jauh bisa darang sejam atau dua jam kedepan. Tidak harus duduk nunggu disini,”ujarnya.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri Tjetjep Tjetjep Yudiana mendukung usulan gubernur itu. Kepada pihak manajemen RSUD, Tjetjep menuturkan sistem serupa sudah berhasil diterapkan disejumlah rumah sakit lain.
“Jangankan rumah sakit, di Tanjungpinang saja ada puskesmas yang daftar pakai SMS. Ini bagus biar teratur dan tertib,” tuturnya.
Direktur RSUD Embung Fatimah Batam Ani Dewiyana juga sependapat dengan usulan gubernur tersebut. Usulan itu akan dijadikan pertimbangan pihaknya kedepan.
“Iya pak nanti kami kaji bagaimana teknisnya,” kata Ani.
Antrean pendaftaran pasien di RSUD memang masih menerapkan sistem manual. Pasien yang hendak mendapatkan pelayanan medis di rumah sakit bertipe B itu harus melalui loket pendaftarandi lantai satu gedung rawat jalan. Meskipun tersedia empat loket pendaftaran namun pasien kerap menunggu lama sebab antrean pandaftaran cukup panjang. Satu pasien minimal harus menunggu waktu sekitar 30 menit untuk bisa daftar di loket pendaftaran itu. Sesudah mendaftar pasien juga belum tentu langsung dilayani oleh petugas medis sebab harus antre lagi di ruangan klinik.
“Memang harus begitu (pendaftaran via SMS) biar tahu kita jam berapa harus datang kesini. Kalau beginikan tak pasti, kadang datang pukul 07.00 WIB baru dilayani pukul 11.00 WIB,” ujar Ahmadi, seorang pasien. (eja)
