Jumat, 17 April 2026

Pak Walikota, Warga Marina Butuh Trotoar Jalan

Berita Terkait

ilustrasi

batampos.co.id – Jalan Raya Marina City masih banyak kekurangan. Selain rusak dan rawan banjir, jalan menuju pemukiman dan kawasan wisata terpadu Marina itu tidak dilengkapi pedestrian atau trotoar untuk pejalan kaki. Padahal jalan tersebut merupakan jalur padat yang ramai dilalui oleh kendaraan ataupun pejalan kaki. Pejalan kaki cukup kesulitan melakukan aktifitas di sepanjang jalan itu.

Situasi jalan yang tidak nyaman itu mulai terlihat dari simpang Basecamp, Batuaji hingga ke deretan ruko depan perumahan Merlion dan Taman Laguna. Jalan raya hanya sebatas aspal badan jalan saja untuk kendaraan bermotor. Sementara pinggiran jalan yang seharusnya diperuntukan bagi pejalan kaki belum ada akses sama sekali.
Pinggiran jalan yang lebarnya tak lebih dari dua meter itu masih berupa tanah kosong dan selama musim hujan ini pinggiran jalan jadi becek dan berlumpur.

Pejalan kaki mengeluhkan keadaan itu sebab selain sempit dan becek, pinggiran jalan sebagai akses bagi pejalan kaki itu dianggap rawan. Itu karena pejalan kaki harus nebeng di atas aspal jalan yang tentunya sangat berisiki sebab bisa bersenggolan atau ditabrak oleh kendaraan bermotor.

“Padahal banyak orang Marina yang turun angkot di Simpang Basecamp, terus jalan kaki ke sini. Memang tak nyaman karena padat jalan ini. Trotoar tak ada, pinggiran jalan sempit dan becek. Mau tak mau orang harus jalan diatas (aspal) jalan,” ujar Asmiati, warga perumahan Merlion, Jumat (26/1).

Keluhan yang sama juga disampaikan masyarakat di lingkungan SMPN 47, Marina. Aktifitas siswa, orangtua siswa dan guru di lingkungan sekolah itu juga tak nyaman. Itu karena gedung sekolah itu langsung berhadapan dengan jalan raya. Saat akan masuk atau keluar dari lingkungan sekolah, mereka harus berhadapan dengan situasi yang rawan, sebab jalan tersebut padat dengan kendaraan.

Siswa dan guru keluhkan jalan yang tidak dilengkapi trotoar bagi pejalan kaki, sementara orangtua siswa keluhkan sulitnya memarkirkan kendaraan untuk antar atau jemput buah hati mereka.

“Kasian anak-anak (siswa) yang jalan kaki, kadang harus berhadapan dengan maut. Pinggiran jalan sempit kadang mereka jalan diatas bahu jalan. Itu yang dikuatirkan,” ujar Usman, orangtua siswa SMPN 47.

Selama ini untuk mengamankan siswa yang keluar dari lingkungan sekolah, pihak sekolah melalui petugas keamanan sekolah harus berjuang keras mengatur arus lalu lintas di depan sekolah agar siswa mereka aman dari padatnya arus lalulintas di sepanjang jalan itu.

“Tapi itu hanya sebatas di depan sekolah saja, kalau mereka jalan kaki ke Marina sana, tak bisa kami awasi lagi,” ujar seorang guru SMPN 47 yang tak mau namanya disebukan.

Dengan adanya keluhan itu, warga berharap agar persoalan itu secepatnya ditanggapi oleh instansi pemerintah terkait. “Ini untuk kebaikan bersama. Jangan sampai tunggu ada korban dulu,” ujar Usman.

Sebelumnya warga setempat juga sudah relah lapak kios ataupun bangunan liar yang berdiri di sepanjang jalan ditertibkan Terpadu Kota Batam demi untuk pelebaran jalan. Namun pengorbanan masyarakat itu tidak dimanfaatkan dengan baik pemerintah sebab wacana pelebaran jalan tersebut tak kunjung terealisasi sampai saat ini.

“Kemarin saat penertiban menggebu-nggebu katanya untuk pelebaran jalan, tapi sampai sekarang tak ada realisasi. Jalan malah semakin rawan saja,” tutur Usman lagi.

Kepala Dinas Perhubungan kota Batam Yusfa Hendri sebelumnya mengakui memang masih banyak persoalan di sepanjang jalan Marina City itu. Mulai dari akses jalan yang rusak, rawan banjir serta tidak dilengkapi halte dan trotoar. Namun demikian pihaknya belum bisa berbuat banyak sebab akses jalan yang kewenangannya ada di Pemerintah Provinsi Kepri itu belum dilebarkan.

“Kalau bangun halte ataupun trotoar takutnya nanti dibongkar lagi saat ada pelebaran jalan,” ujar Yusfa, belum lama ini. (eja)

Update