
batampos.co.id – Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Tanjungpinang priode 2018-2023, Syahrul-Rahma (Sabar) terus memperkuat barisannya dengan membentuk Posko Pemenangan Sabar di Jalan Basuki Rahmat, Tanjungpinang, Kamis (25/1) malam. Ketua Tim Pemenangan Sabar, Ade Angga mengatakan terbentuknya Posko tersebut menjadi wadah konsolidasi simpatisan dan partai politik (parpol) pengusung Sabar.
“Posko di Jalan Basuki Rahmat yang sudah diresmikan adalah posko pemenangan utama. Tujuannya memang untuk memantapkan konsolidasi antar lini,” ujar Ade Angga, Jumat (26/1)
Pria yang duduk sebagai Wakil Ketua I, DPRD Kota Tanjungpinang tersebut menjelaskan, selain posko utama di setiap Kecamatan Sabar juga akan mendirikan posko yang sama. Bahkan setiap partai pengusung Sabar juga akan membentuk posko konsolidasi setiap keluraharan yang ada di setiap kecamatan. Sehingga mesin-mesin parpol bisa memperkuat eksistensinya ditengah-tengah masyarakat.
“Setiap parpol sudah pasti punya kekuatan politik dan basis massa. Tentu akan lebih kita optimalkan lagi dengan membentuk posko disetiap kelurahan,” papar Angga.
Ketua DPD II Partai Golkar Tanjungpinang itu juga mengatakan, sembari menunggu penetapan calon oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 12 Februari mendatang, secara internal Sabar terus melakukan konsolidasi. Menurut Angga, Tim Pemenangan Sabar juga sudah membuat beberapa rencana strategis untuk merebut hati masyarakat Tanjungpinang.
“Meskipun belum terjadwal, Sabar sekarang ini juga sudah intens turun ke tengah-tengah masyarakat. Kami sebagai Tim Pemenangan tentunya berupaya memberikan yang terbaik. Semoga Sabar mendapatkan hasil yang baik pada pemilihan nanti,” jelas Angga.
Selain itu, Angga juga mengimbau kepada seluruh Tim Pemenangan dan Relawan Sabar untuk tidak terprovokasi dengan isu-isu yang bisa menyebabkan tidak sehatnya Pilkada Tanjungpinang. Apalagi sampai menyinggung persoalan suku, agama, ras, dan antar golongan (Sara). Ditegaskan Angga, segala bentuk pernyataan, apalagi di Media Sosial
(Medsos) sudah mengatur tentang konsekuensi hukumnya.
“Kita harus berpolitik dan bersaing dengan santun. Apalagi sudah ada Undang-Undang IT yang siap menjerat. Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga sudah mengeluarkan fatwa tentang bermuamalah di media sosial,” tutup Angga.(jpg)
