Iklan

batampos.co.id – Dua orang kurir sabu seberat 66 kg Bw dan Ud, ternyata memiliki pengalaman yang mumpuni dalam menyelundupkan narkoba. Sebelum menyelundupkan sabu dalam jumlah besar, keduanya sudah berkecimpung menyelundupkan sabu dibawah satu kg.

Iklan

“Bw ini dari pengakuannya sebanyak 5 kali, dan Ud sebanyak 4 kali. Sabu yang mereka bawa itu sekitar ratusan gram,” kata Direktur Ditresnarkoba Polda Kepri Kombes Pol Yani Sudarto, Rabu (31/1).

Keduanya, kata Yani cukup lihai menyelundupkan sabu dalam jumlah kecil. Selama dua tahun belakangan, kedua orang ini selalu lolos menyelundupkan sabu melalui bandara.

“Baru kali ini tertangkap, sebelumnya mereka lolos terus,” tutur Yani.

Yani merinci BW memulai perjalanannya sebagai penyelundup Desember 2015, dengan membawa sabu seberat 800 gram dari Medan Jakarta. Setelah itu, Bw kembali membawa sabu seberat 700 gram dari Jakarta menuju Surabaya. April 2017, BW berhasil menyelundupkan sabu seberat 700 gram dari Palembang menuju Surabaya.

“Desember 2016 dari Pekanbaru ke Surbaya, Oktober 2017 dari Pontianak menuju Surabaya. Masing-masing sabu yang dibawa seberat 700 gram juga,” tuturnya.

Sedangkan tersangka Ud mengaku baru menjadi penyelundup sabu, selama satu tahun.

“Maret 2017 bawa 500 gram dari Palembang ke Jakarta, bulan yang sama sabu seberat 600 gram dari Pekanbaru ke Jakarta. Juli 2017 dari Pontianak ke Banjarmasin, 600 gram ekstasi. November 2017, 700 gram dari Pekanbaru ke Surabaya,” tuturnya.

Modus yang digunakan kedua orang ini untuk menyelundupkan sabu yakni dengan meletakan di dalam celana dalam mereka. Dan upah yang mereka terima dari Rp 12 hingga 20 jutaan. “Pengakuannya awal tahun ini bawa partai besar,” tutur Yani.

Sebelum mengamankan sabu seberat 66,043 kg. Keduanya sudah pernah mendistribusikan sabu seberat 9 kg, dengan modus memasukan ke dalam mesin cuci. Lalu dikirim melalui jasa ekpedisi. “Upah yang mereka terima cukup besar Rp 120 juta,” ujar Yani.

Kepada penyidik, Bw dan Ud mengaku tidak pernah bertemu dengan Bs (bandar dan pengendali,red). Mereka mengakui hanya direkrut melalui sambungan telepon.

“Kami tidak percaya begitu saja. Pengakuan dua orang ini akan kami dalami dulu,” pungkasnya. (ska)