Sejumlah pedagang sedang membongkar bangunan kios miliknya sebelum di tertibakan oleh tim terpadu Pemko Batam, Senin (29/1). Tim terpadu berencana akan menertiban bangunan kios-kios yang berada di kawasan terminal Jodoh. F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Puluhan kios liar yang berada di kawasan Terminal Jodoh akhirnya dibongkar paksa, Selasa (30/1/2018). Pembongkaran itu sempat ditolak beberapa pemilik kios dengan menghalangi petugas Satpol PP.

Meski sempat dihalangi, proses penertiban berlangsung sangat cepat. Dalam hitungan jam, puluhan kios itu akhirnya rata dengan tanah. Satu alat berat (ekskavator) membantu proses penertiban kios-kios tersebut.

Sekretaris Satpol PP Kota Batam, Fridkalter Pardede mengatakan ada sekitar 60 kios yang ditertibkan. Rata-rata kios yang dibongkar sudah semi permanen.

“Ada 60, tadi ada yang menghalangi, namun akhirnya bisa kami atasi,” terang Fridkalter disela proses pembongkaran kios, Selasa (30/1).

Disisi lain, mantan Camat Batuaji ini tak membantah jika kios-kios itu sempat berada di bawah naungan Pemko Batam. Namun, karena adanya perbaikan drainase untuk pencegah banjir kios-kios itu akhirnya dibongkar.

“Salah satu antisipasi pencegah banjir, juga ingin membersihkan lokasi ini karena merupakan kawasan terminal Jodoh,” ujar Fridkalter.

Menurutnya, penertiban untuk beberapa kawasan, terutama untuk 10 titik pelebaran jalan masih akan berlanjut. Tim terpadu pun tengah mengatur jadwal penertiban selanjutnya. Yakni kawasan Simpang Kuda Seipanas hingga Simpang Bengkong Seken.

“Untuk tanggal pastinya masih akan dibahas bersama tim terpadu. Surat peringatan juga telah dilayangkan kepada warga Bengkong dan Seipanas agar bersiap-siap,” jelas Fridkalter.

Sedangkan untuk penertiban sisa bangunan atau kios liar di kawasan buffer zone Jalan H Fisabilillah atau tepatnya sepanjang jalan Simpang Fly Over sampai Simpang BNI Seipanas masih menunggu waktu. Pemilik bangunan meminta waktu hingga dua minggu untuk membongkar sendiri bangunan tersebut.

“Mereka meminta waktu, kebetulan untuk perbaikan jalan masih belum, jadi kami pun kasih waktu agar mereka bongkar sendiri,” imbuhnya lagi.

Sementara Mama Kris Sitompul mengaku bingung harus pindah kemana lantaran kios miliknya sudah dibongkar. Menurutnya, kios yang sehari-hari untuk berjualan BPK (Babi Panggang Karo) itu telah dibeli sejak tahun 2003 silam.

“Kios ini saya beli Rp 8 juta. Ini bingung mau pindah kemana, soalnya tak semua lokasi mau menerima untuk jualan BPK,” terang wanita berusia 50 tahunan ini.

Karena itu, ia berharap pemerintah bisa mencarikan jalan keluar untuk pemilik kios. Jangan hanya bisa membongkar namun tak memberikan jalan keluar.

‘Perhatikan rakyat kecilmu hai bapak,” kesalnya. (she)

Respon Anda?

komentar