Iklan
Sejumlah Bus Trans Batam saat memasuki terminal yang bearda dikawasan Jodoh Batuampar, Senin (29/1).Dinas Perhubungan Kota Batam mulai memberlakukan restribusi terminal dengan uang elektronik atau non tunai. F Cecep Mulyana/batam Pos

batampos.co.id – Sejak awal Januari lalu Dinas Perhubungan Kota Batam ternyata sudah memberlakukan setoran pembayaran retribusi terminal secara non tunai atau elektrik. Namun pada kenyataanya masih banyak para supir yang belum menggunakan kartu ini dengan alasan ribet.

Iklan

Derman, salah satu supir metrotrans misalnya mengaku belum punya kartu elektronik atau brizzi untuk pembayaran retribusi terminal. Ia bahkan masih membayar tunai uang Rp 2000 kepada petugas Dishub yang berjaga di terminal Jodoh.

“Ribet pakai kartu itu. Mending langsung bayar tanpa harus isi ulang ini itunya,” terang pria berusia 31 tahun ini saat mangkal di kawasan Jodoh, kemarin.

Sementara Kabid Angkutan Jalan Dinas Perhubungan Kota Batam, Saprul Bahri mengatakan sistem pembayaran retribusi terminal non tunai atau eletronik telah diterapkan sejak 2 Januari lalu. Hal itu sesuai dengan surat edaran yang telah diterapkan Walikota Batam.

“Namun baru tanggal 6 bisa berjalan, karena ketersediaan alatnya dari bank baru tanggal sekian. Namun sebelum berlaku telah kami sosialisasikan kepada para supir,” terang Saprul.

Penggunaan kartu brizzi dirasa mampu untuk menghindari kebocoran pendapatan retribusi dilapangan. Karena petugas tidak bersentuhan langsung dengan uang yang disetorkan para supir.

“Para supir diwajibkan membeli kartu seharga Rp 20 ribu dan setiap pengisian wajib diisi ulang. Pembayaran ini sudah kami terapkan di terminal Jodoh dan Mukakuning,” imbuh Saprul.

Meski begitu, ia tak menapik masih banyak supir yang belum menggunakan kartu tersebut dengan alasan tak punya uang. Mereka lebih memilih untuk membayar langsung atau tidak membayar dengan alasan belum adanya penumpang.

“Masih ada yang langsung bayar kas, namun dari petugas langsung setor ke petugas bank yang memang stanby juga dilokasi. Hingga saat ini kami juga masih sosialisasikan agar para supir wajib memiliki dan setor retribusi menggunakan kartu,” ujar Saprul lagi.

Tak hanya itu, menurut Saprul dilapangan masih banyak angkut yang menghindari terminal agar tidak membayar retribusi. Para supir lebih memilih mangkal di pasar induk sehingga tak perlu membayar retribusi.

“Supir angkot ini masih sering kucing-kucingan. Karena itu, sekarang setiap persimpangan kami stanbykan petugas agar mengarahkan angkut masuk terminal dan membayar retribusi,’ pungkas Saprul. (she)