batampos.co.id – Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrembang) tingkat kelurahan tahun 2018 ini sudah dimulai di Kecamatan Sagulung. Seperti tahun-tahun sebelumnya, usulan pembangunan drainase dan jalan lingkungan masih mendominasi dalam musrembang tersebut.

Kelurahan Seilangkai misalkan ada sekitar 30 an usulan perbaikan dan pembangunan drainase yang selama ini bermasalah dan menjadi penyebab banjir. Usulan perbaikan drainase ini lebih banyak dari pembangunan jalan lingkungan yang hanya sekitar 20 an usulan.

“Ada juga (usulan lain) penambahan ruangan kelas baru (RKB) di sekolah-sekolah yang sudah ada, tapi paling banyak memang drainase dan jalan,” ujar Lurah Seilangkai Chandra Hernawan, Jumat (2/2).

Camat Sagulung Reza Khadafi mengakui, banyak usulan pembangunan fisik di musrembang tingkat kelurahan tahun ini. Namun berdasarkan kebutuhan yang mendesak, usulan pokok yang menjadi fokus pertimbangan pihak kecamatan untuk disampaikan ke Musrembang tingkat kota adalah pembangunan dan perbaikan drainase. Drainase di Sagulung umumnya bermasalah. Selain sudah rusak termakan usia, koneksi antar drinase belum tertata dengan baik. Imbasnya wilayah dengan penduduk mencapai 200 ribu jiwa itu selalu berhadapan dengan masalah banjir.

“Hampir semua kelurahan bermasalah dengan sistem drainase,” ujarnya.

Persoalan itu memang sudah ditanggapi Pemko Batam dengan melakukan normalisasi drainase sepanjang tahun 2017 lalu, namun belum begitu maksimal sebab normalisasi hanya fokus pada drainase-drainase induk.

“Makanya muncul lagi usulan serupa agar semuanya tercover. Termasuk drainase-drainase dari lingkung pemukiman warga,” kata Reza.

Untuk mengurai persoalan drainase di Sagulung, kata Reza memang bukan perkerjaan yang mudah. Sistem drainase yang saling berhubungan dari satu pemukiman dengan pemukiman yang lainnya tentu menemui banyak persoalan.

Operator escavator dari Dinas Bina Marga Kota Batam membuat waduk di lahan kosong, Tanjungriau, Sekupang, Jumat (2/2). Waduk ini nantinya untuk menampung air supaya tidak terjadi banjir di Jalan Marina City, Tanjunguncang, Batuaji. Bila hujan datang jalan Marina City selalu banjir.F Dalil Harahap/Batam Pos

Jika satu pemukiman bermasalah dengan drainase baik akibat rusak ataupun dipersempit dengan bangunan, tentu akan berdampak ke lingkungan lainnya. Butuh waktu dan anggaran yang banyak untuk menyelesaikan persoalan itu sebab bagaimanapun jika satu titik drainase bermasalah maka titik-titik lainnya juga berimbas.

“Ada lima kelurahan yang seperti itu. Drainase induknya hanya satu yakni Sungai. Kalau satu bermasalah tentu pemukiman di empat kelurahan lainnya juga bermasalah,” tutur Reza.

Lima kelurahan yang sistem drainase utamnya saling berhubungan itu adalah, Seilangkai, Seilekiop, Seipelenggut, Sagulung Kota dan Seibinti. Drainase utama yang saling berhubungan diantara lima kelurahan itu berupa sungai yang sudah ditata oleh Badan Pengusahaan (BP) Batam tahun 1980 an silam. Drainase utama kini tak lagi normal karena sudah termakan usia.

“Ini yang kami pertimbangkan. Semua usulan (Musrembang) dari lima kelurahan itu akan kami satukan supaya disampaikan ke musrembang tingkat kota nanti,” kata Reza.

Untuk mengatasi persoalan sistem drainase utama itu, usulan yang disampaikan untuk anggaran skala kota atau nasional.

“Itu besar anggaranya butuh lintas instansi. Bagaimanapun jika memang disetujui, maka pembangunan harus benar-benar dikaji termasuk dengan faktor alamnya,” ujar Reza.

Sementara untuk drainase lingkungan memang juga diprioritaskan namunakan diupayakan tercover dalam alokasi anggaran Percepat Infrastruktur Kelurahan (PIK).

“Yang PIK ini justru lebih banyak. Selain drainase ada juga usulan untuk semenisasi jalan lingkungan,” ujar Reza.(eja)

Respon Anda?

komentar