Iklan
Sejumlah turis Singapura berjalan di jembatan penyebrangan Pelabuhan Internasional Batamcenter saat berliburan ke Batam, Selasa (26/12). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri merilis jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) selama tahun 2017 sebanyak 2,07 juta orang. Sementara Penghunian Kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Kepri mencapai rata-rata 59,91 persen, dengan rata-rata lama menginap tamu asing 1,78 hari.

Iklan

Bila dilihat menurut klasifikasi hotel, rata-rata lama menginap tamu asing tertinggi dicapai oleh hotel berbintang 5,” ujar Kepala BPS, Panusunan Siregar.

Menanggapi hal ini, Badan Pengurus Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Tupa Simanjuntak menilai, rata-rata menginap tamu asing di Kepri masih rendah. Seharusnya dengan melihat hal ini pemerintah sudah memikirkan bagaimana menambah objek wisata, bukan lagi berfokus pada penambahan hotel.

“Jika soal Length of stay hanya 1 sampai 2 hari saja tentu kita harus menambah produk pariwisatanya. Bukan nambahin hotelnya,” sebut Tupa, Jumat (2/2).

Selain itu ia menilai destinasi wisata juga perlu dipoles. Masih banyak pulau-pulau yang belum tersentuh untuk dikembangkan.

“Kalau destinasi banyak, para tamu jadi banyak pilihan lokasi yang mereka tuju. Tentu berdampak pada lamanya mereka disini,” tuturnya.

Ia mengakui selama ini Batam sudah dimanjakan oleh industri. Disaat industri belakangan ini melemah tidak ada objek lain yang bisa ditonjolkan.

“Nah industri lagi turun kita harus ada alternatif lain. Contoh kalau ingin ke suatu tempat, namun tempat wisatanya hanya satu, mau tidak para wisman?Destinasi produk pariwisata kita masih perlu di kembangkan,” katanya.

Selanjutnya, kata Tupa, amenitasnya juga perlu ditingkatkan. Kepri harus memiliki makanan khasnya yang bisa dijual, sehingga para wisatawan yang berkunjung kesini memiliki pengalaman tentang Kepri. Begitu juga dengan aktivitas-aktivitas promosi pariwisata, msalnya membuat event yang berskala internasional.

“Destinasi banyak, ada ciri khas dan event juga beragam tentu mereka menjadi betah disini. Jadi bukan lagi sebatas transit saja,” sebut Tupa.

Event tersebut tidak perlu mahal, ia mengusulkan adanya festival tanjak internasional. Kegiatan ini melibatkan berbagai universitas.

“Bisa juga membuat art performance, festival payung, atau perlombaan lain identik dengan ciri khas melayu. Jadi tamu-tamu hotel pun senang melihatnya. Gak harus mahal,” tutupnya. (rng)