batampos.co.id – Transportasi dari dan menuju Anambas mulai terganggu ketika musim angin Utara terjadi. Dimana gelombang perairan Anambas menjadi ekstrem, gelombang tinggi disertai angin kencang dan cuaca yang cepat berubah dari tenang menjadi ribut. Selain itu curah hujan pada musim ini juga lebih besar dibandingkan dengan musim lain.

Musim angin Utara ini membawa dampak yang kurang baik bagi masyarakat Anambas. Pasalnya selain sering terjadi bencana baik itu banjir maupun tanah longsor, dampak yang sangat nyata yakni menurunnya pelayanan transportasi baik laut maupun udara.

Untuk transportasi laut sering terputus. Khususnya pelayaran ferry. Pasalnya, kondisi gelombang di Perairan Bintan dan Perairan Anambas memasuki kategori ekstrim. “Saya ingin kembali ke Tarempa, Anambas menggunakan fery cepat. Tetapi fery cepat itu tidak diizinkan berlayar dengan pertimbangan cuaca yang mulai ekstrem,” ujar Gunawan, calon penumpang Tanjungpinang menuju Tarempa, Jumat (2/1/2018).

Gunawan menerangkan, pihak fery cepat juga tidak bisa membuat keputusan mengenai waktu pelayaran Tanjungpinang – Tarempa PP. Pelayaran dilakukan jika cuaca kondusif. Biasanya pihak perusahaan pelayaran koordinasi dengan sahbandar untuk perizinan berlayar. “Kalau cuaca kondusif, baru bisa berlayar,” jelasnya.

Beruntung masih ada kapal pelni Bukit Raya yang melayani rute Anambas baik itu dari Pontianak – Natuna – Anambas – Tanjungpinang maupun sebaliknya. Sehingga kapal tersebut sering penuh lantaran ferry jarang beroperasi.

Sementara itu transportasi udara beberapa hari terakhir ini juga mengalami kendala. Sempat tidak terbang lantaran cuaca buruk dan terkendala masalah lain. Sehingga membuat akses dari dan menuju Anambas semakin sulit.

Masalah ini juga sudah sampai ketelinga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kepulauan Anambas. Karena sering gagal terbang, salah seorang anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Anambas Yusli, menuding jika penerbangan express air tidak profesional dalam melayani penerbangan ke Anambas.

“Dari apa yang disampaikan masyarakat, itu pada tanggal 8, 12, 27 Desember 2017 serta 12 Januari 2017 pesawat di cansel untuk terbang dengan alasan cuaca, mesin pesawat rusak dan lainnya,” Kata Yusli saat menggelar Konfrensi Pers di Ruang Komisi III DPRD KKA Jumat (2/2)

Di tempat terpisah, Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tarempa, Samuel Susanto Sidauruk menerangkan, tinggi gelombang dari 1,25 meter hingga 2,5 meter berpeluang terjadi di Perairan Bintan.

“Sementara untuk Perairan Anambas dan Perairan Natuna tinggi gelombang mencapai 2,5 meter hingga 4 meter. Bahkan di Laut Natuna Utara gelombang dengan ketinggian 4 meter hingga 6 meter,”terangnya.

Samuel menyinggung, angin umumnya bertiup dari Utara ke Timur Laut dengan kecepatan 5 hingga 40 kilometer perjam. “Kami mengimbau agar masyarakat khususnya nelayan tetap waspada dengan kondisi cuaca ini. Dan transportasi laut juga harus tetap berhati-hati. Tunggu informasi dari kami (BMKG) tentang cuaca sebelum pergi berlayar,” imbaunya. (sya)

Respon Anda?

komentar