Iklan
Foto bersama warga usai Panen kangkung.
foto: Dede Hadi Mulyadi/Batampos

batampos.co.id – Tingginya volume sampah yang dibuang ke Tempat Akhir Pembuangan Sampah (TPA) membuat umur TPA semakin singkat. Setiap tahun volume sampah rumah tangga meningkat secara signifikan seiring dengan pertumbuhan populasi penduduk.

Iklan

Untuk menekan volume sampah rumah tangga,  PLN Batam bersama Duta Pudak Lestari melakukan pelatihan pembuatan pupuk komposter di Kavling Bukit Mulia, Kelurahan Kabil, Nongsa. Mereka memotivasi warga agar ikut ambil bagian dalam mengatasi persoalan sampah.

Program Corporate Social Responsibility (CSR) anak perusahaan PLN Persero ini mampu menekan sampah organik di wilayah itu hingga 70 persen. Sebagain besar sampah yang mereka hasilkan diubah menjadi kompos. Pupuk kompos yang mereka hasilkan dipergunakan untuk menyuburkan tanaman di pekarangan rumah.

“Halaman yang kecil bukan halangan bagi kita untuk berkarya. Kalaupun benih yang kita tanam belum cukup untuk keperluan komersil, minimal untuk konsumsi sendiri,” ujar Manajer Humas PLN Batam, Bukti Panggabean, Kamis (1/2) lalu.

Menurut Bukti, pelatihan pembuatan pupuk komposter tersebut dilakukan selama enam bulan. Dalam kurun waktu tersebut, masyarakat mendapatkan teori maupun praktek pembuatan kompos hingga menanam berbagai jenis sayuran.

“Responnya sangat bagus, masyarakat antusias. Awalnya 25 alat komposter dibagikan untuk 35 Kepala Keluarga (KK) meningkat menjadi 56 KK. ,” beber pria murah senyum ini.

Ia mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam program yang telah menyabet Bronze Winner dari Publik Relation (PR) Indonesia Awards 2017 ini. Terutama pihak RT, RW dan Kelurahan hingga Kecamatan yang berperan aktif untuk mendukung terlaksananya program Batam 1000 Komposter (B1K).

Sementara itu pengagas Batam Seribu Komposter Indira terkesan dengan apa yang sudah dilakukan warga Kavling Bukit Mulia.

“Saya terkesan dengan masyarakat di sini (Kavling Bukit Mulia,red) semangatnya luar biasa, bahkan komposter yang kita berikan bisa dimanfaatkan dua sampai tiga warga,” katanya.

Dari pengalaman sebelumnya, Indira mengaku panen sayur organik dilakukan sebulan sekali. Namun di kavling Bukit Mulia panen bisa seminggu sekali.

Menurutnya dari kegiatan tersebut dapat menekan sekitar 70 persen reduksi sampah rumah tangga.

“Kalau ada bank sampah bisa sampai 90 persen, saat ini yang kita tekan hanya sampah organiknya saja,” ujarnya.

Menurutnya dengan adanya kegiatan itu dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai manfaat dari sampah organik dan menumbuhkan kesadaran agar dapat mengelola sampahnya sendiri.

“Karena kalau pemerintah sendiri tidak sanggup,” katanya.

Menurutnya, program Batam 1000 Komposter mereduksi sampah langsung dari sumber melalui proses pemilahan dan pengampasan serta bertujuan membangun kemandirian pangan dan energy berbasis limbah. Diharapkan melalui program komposting ini PLN Batam dapat membantu program pemerintah untuk mereduksi sampah dengan 3R (Reuse,Reduce,Recycle).

Serta turut ambil bagian dalam membangun nilai tambah dari sampah dan juga dalam menciptakan masyarakat swadaya pangan dan pemberdayaan masyarakat di bidang lingkungan. Semoga semangat dan kebiasaan ini dapat berlangsung secara berkelanjutan serta dapat ditularkan dan diadopsi daerah-daerah lainnya.

Ami, salah satu kader program CSR Komposter PLN Batam mengatakan, program komposter sangat bermanfaat. Warga Kavling Bukit Mulia yang dalam kesehariannya berjualan nasi uduk ini sangat terbantu mengurangi dan mereduksi volume sampah di rumahnya.

“Sebelum ada program ini, saya buang sampah sisa berjualan ke TPS terdekat. Sekarang saya mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari program komposter ini, terutama dalam memperoleh pupuk dari sampah rumah tangga yang bisa dimanfaatkan menyuburkan tanaman,” papar Ami.(hgt)