Iklan
Pencetakan sawah di Kelarik Natuna yang baru dibuka pemerintah tahu 2017, dari 68 hektare baru 5 hektare ditanami petani. F Aulia Rahman/Batam Pos.

batampos.co.id – Program cetak sawah di Natuna masih mengalami kendala. Salah satunya mencari calon petani, pasalnya tidak adanya bantuan dana segar untuk petani sebelum cetak sawah berhasil.

Iklan

Sekretaris dinas pertanian Pemkab Natuna Sofiandi mengatakan, cetak sawah adalah program Kementerian pertanian, untuk tahap awal status lahan milik negara. Diberikan kepada kelompok tani yang mengelola. Melalui perjanjian dalam jangka waktu tertentu, lahan sawah nantinya diserahkan kepada kelompok tani.

“Mencari calon petani menjadi kendala, pemerintah hanya buka lahan,” kata Sofian, Senin (5/2).

Persoalan cetak sawah ini katanya, pemerintah daerah masih sulit mencari calon petani. Dalam program cetak sawah pemerintah hanya buka lahan, petani hanya diberikan bantuan tunai sebesar Rp 1,5 juta untuk beli benih.

Pemerintah sambungnya, hanya memberikan satu kali bantuan. Jika gagal, maka tanggung jawab kelompok tani. Bantuan tunai tersebut menjadi kendala petani, sebelum berhasil panen.

Seperti yang terjadi di Kelarik, benih siap tanam hanyut dibawa banjir. Sehingga petani mengalami kendala, sementara pemerintah hanya membatu satu kali.

“Pemerintah hanya berikan bantuan dana untuk benih dan obat Rp 1,5 juta. Ini yang memberatkan petani, pemerintah daerah hanya bisa melaporkan kepada pemangku kebijakan, evaluasinya di provinsi,” sebut Sofiandi.

Dikatakan Sofiandi, jika kelompok petaninya tidak serius maka lahan sawah akan diserahkan kepada kelompok tani lain. Namun jika dikelola serius, lahan sawah akan diserahkan kepada petani.

“Tapi jika petani serius menggarapnya, dalam waktu tempo yang disepakati, akan diserahkan hak pengelolaan sepenuhnya,” kata Sofiandi.

Petani saat ini meminta pemerintah memberikan bantuan lebih untuk kebutuhan sehari hati sebelum padi di panen.(arn)