Ria seorang pedagang sayur Tos 3000 Jodoh menunjukan cabai rawit setan, Rabu (4/1). harga cabai setan melonjak akibat kelangkaan stok di beberapa pasar. F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Masyarakat Batam masih mengeluhkan harga cabai yang tinggi. Senin (5/2) harga cabai setan tembus Rp 70 ribu hingga Rp 80 ribu per kilogram. Sedangkan untuk ketiga jenis cabai lainnya yakni cabai rawit, merah panjang dan hijau masih kisaran Rp 50 hingga Rp 60 ribu per kg.

“Harga cabai masih mahal,” ujar Murni, penjual sayur di Pasar Fanindo Batuaji.

Dia mengatakan tingginya harga tersebut karena pasokan barangnya yang terbatas. “Untuk cabai setan memang stoknya sedikit. Dari distributor paling banyak kami ambil lima kilo saja, takut gak laku,” katanya.

Tingginya harga cabe tidak jauh berbeda juga di Pasar Basah Aviari, meski demikian tingginya harga cabai tidak membuat daya beli masyarakat turun.

“Yang beli tetap ada. Cuman tak banyak-banyak,” kata Khaerul penjual sayur di Pasar Basah Aviari.

Selain cabai, harga beras juga masih tinggi. Hal itu banyak dikeluhkan masyarakat, salah satunya adalah Sri warga Batuaji.

“Beras merek Ramos sekarang Rp 275 ribu dari harga Rp 240 ribu per 25 kilogram, kemudian beras merek Rambutan dari Rp 270 ribu kini harganya sudah Rp 300 ribu per kg,” katanya.

ilustrasi

Karena mahalnya harga beras, ia pun memilih untuk membeli per kilo saja. “Sebenarnya rugi kalau beli per kilo, karena mahal. Tapi mau gimana lagi, beli per karung uang tak cukup,” ujar Sri yang juga penjual nasi warung ini.

Rahman, warga lainnya juga mengaku demikian. Kenaikan harga beras benar-benar menguras kantong. Sebab, beras yang ia biasa ia konsumsi rata-rata harga Rp 300 ribu. Sebut saja Beras merek anak ajaib premium harganya Rp 304 ribu dari harga sebelumnya Rp 280 ribu per 25 kg, begitu juga dengan Anak Ajaib super harganya Rp 311 ribu dari Rp 290 ribu per 25 kg. “Mau nggak mau saya beli beras yang murah seharga Rp 200 ribu per 25 kg. Kalau nggak saya beli perkilonya,” ucap Rahman.

Ia berharap pemerintah bisa menekan harga beras yang sangat menguras kantong tersebut.

“Harusnya dipantaulah. Kami warga biasa ini tak sangguplah beli beras dengan harga Rp 300 ribu,” katanya. (une)

Advertisement
loading...