Panusunan Siregar. F. Yusnadi/Batam Pos.

batampos.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepri mencatat pertumbuhan ekonomi Kepri tahun 2017 hanya pada angka 2,01 persen. Perolehan tersebut merosot jauh, apabila dibandingkan dengan capaian tahun 2016 sebesar 5,02 persen. Industri Manufaktur masih menjadi andalan utama bagi Provinsi Kepri.

“Jika kita bandingkan dengan 2016, tahun 2017 kondisi pertumbuhan ekonomi Kepri memang hancur lebur jika secara global,” ujar Kepala BPS Kepri, Panusunan Siregar, kemarin.

Dijelaskannya, capaian di 2017 hanya memberikan pengaruh pada pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 10 persen. Menurut Panusunan, apabila Kepri ingin memperbaiki pertumbuhan ekonomi di 2018, Pemerintah Daerah (Pemda) harus bekerja lebih keras. Karena mendatangkan investasi  saja tidak akan cukup.

“Jika investasi masuk di 2018, tetapi tidak langsung memberikan pengaruh. Karena efeknya akan terasa di 2019 atau 2020. Kenapa demikian, lantaran masih ada proses yang membutuhkan waktu untuk berpoduksi,” papar Panusunan.

Dikatakannya juga, dari beberapa kesimpulan yang sudah direkap BPS, Kepri masih belum bisa mengoptimalkan potensi kelautan dan perikanan. Selain itu dari sektor pariwisata juga harus ada perkembangan. Karena sejauh ini masih bergantung besar dengan Batam. Adapun kontribusi masif meskipun kecil adalah pergerakan APBD. Karena meskipun kecil, tetapi bisa menggerakan yang besar.

“Kita berharap Batam hanya menjadi penunjang pariwisata Kepri. Sehingga daerah-daerah lain di Kepri menjadi destinasinya,” paparnya lagi.

Pada kesempatan tersebut, Panusunan juga menjabarkan pertumbuhan ekonomi Kepri di triwulan terakhir tahun 2017 lalu. Dikatakannya, pertumbuhan ekonomi Kepri di triwulan IV tahun 2017 tumbuh pada angka 1,37 persen bila dibandingkan triwulan III-2017. Pada triwulan ini sebagian besar kategori lapangan usaha mengalami pertumbuhan kecuali kategori pengadaan air, transportasi dan pergudangan, serta industri
pengolahan.

Lebih lanjut katanya, adapun kategori yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib yaitu sebesar 21,87 persen, diikuti oleh kategori penyediaan akomodasi dan makan minum dan kategori pengadaan listrik dan gas masing-masing sebesar 13,99 persen dan 4,78 persen.

Dijelaskannya, pada triwulan terakhir di tahun 2017, struktur ekonomi Kepri masih didominasi oleh industri pengolahan 36,13 persen, konstruksi 17,76 persen, dan pertambangan dan penggalian 15,21 persen. Andil pertumbuhan terbesar disumbangkan oleh kategori Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 0,47 persen.

Kemudian diikuti oleh Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 0,30 persen; dan Konstruksi sebesar 0,16 persen. “Dalam lingkup regional, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kepri triwulan IV-2017 memberikan kontribusi sebesar 7,82 persen terhadap PDRB Pulau Sumatera,” jelasnya.

Ditambahkannya, pertumbuhan ekonomi Pulau Sumatera pada triwulan IV-2017 mengalami kontraksi sebesar -0,24 persen. Namun demikian, pertumbuhan year on year triwulan IV-2017 masih mengalami pertumbuhan yang positif meskipun melambatdibanding triwulan IV-2016, yaitu dari 4,49 persen menjadi 4,43 persen.

“Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Pulau Sumatera tahun 2017 mengalami kenaikan tipis dibanding tahun lalu, yaitu tumbuh sebesar 4,30 persen dari 4,29 persen di tahun 2016. Struktur perekonomian Pulau Sumatera secara regional masih didominasi oleh Provinsi Riau sebesar 23,99 persen sementara Kepulauan Riau berada pada urutan kelima dengan share sebesar 7,82 persen,” tutup Panusunan.

Sementara itu, Sekda Kepri, TS. Arif Fadillah mengatakan capaian pertumbuhan ekonomi Kepri di 2017 tentu menjadi media evaluasi dalam melaksanakan pekerjaan di 2018. Dikatakannya meskipun berat untuk mengejar pertumbuhan ekonomi nasional 5,03 persen, Pemprov tetap berupaya memberikan yang terbaik.

“Capaian pertumbuhan ekonomi Kepri di akhir 2017 menunjukan grafik yang menanjak. Semoga di 2018 terus meningkat pada level yang lebih baik lagi,” ujar Sekda Arif.(jpg)

Advertisement
loading...