Sopir truk harus mengurangi kecepatan saat masuk kedalam kapal Roro,Senin (5/2) siang, kemarin. Karena air laut pasang, posisi kapal lebih tinggi dari dermaga Pelabuhan ASDP Tanjunguban. F. Slamet nofasusanto/batam pos

batampos.co.id – Badan Meteorologi, Geofisika dan Klimatologi (BMKG) Tanjungpinang memprediksi, banjir rob yang diakibatkan air laut pasang masih melanda daerah pesisir Tanjungpinang dan Bintan.

“Hari ini, (Senin,red) ketinggian maksimal air pasang laut di daerah pesisir Tanjungpinang dan Bintan berdasarkan pantauan kami bisa mencapai 1,9 meter. Tapi untuk besok (hari ini) cenderung menurun, diprediksi besok sekitar 1,6 meter,” jelas Kepala BMKG Tanjungpinang, Dhira Utama, Senin (5/2).

Dhira menjelaskan, banjir rob yang setiap hari melanda wilayah Bintan salah satunya lantaran fenomena gerhana bulan total. Di beberapa wilayah di Indonesia, pasang surut terjadi sebelum,setelah, maupun saat fenomena gerhana bulan berlangsung.

Untuk daerah pesisir di Bintan dan Tanjungpinang, menurutnya, berlangsung selama 1 hingga 5 hari setelah fenomena gerhana bulan tersebut. Menurut pantuan BMKG Tanjungpinang, setiap hari ketinggian air laut pasang mulai menurun. “Hal ini disebabkan grafitasi bulan dan matahari karena pergerakan bulan di porosnya,” bebernya.

Sementara itu, akibat air pasang yang tinggi, membuat Jalan Merdeka dan RE Martadinata kembali tergenang air. Hanya, ketinggian air yang mengenang jalan itu, tak terlalu tinggi. Selain itu, akibat air pasang laut yang tinggi, naik dan turun kendaraan dan penumpang di pelabuhan ASDP Tanjunguban harus dilakukan hati-hati.

“Alat (hidrolik) yang kita punya tidak rusak, tapi sudah mentok segitu, tak bisa dinaikkan lagi. Ini karena air laut pasang sehingga posisi kapal lebih tinggi dari dermaganya,” kata Supervisor PT ASDP Tanjunguban, kemarin.

Waspada Angin Kencang

Dalam kesempatan itu Dhira menyampaikan, selain banjir rob, warga juga diminta waspada terhadap adanya angin kencang. Angin tersebut mucul akibat adanya pertemuan angin di atas Sumatera Bagian Barat dan tenggah sehingga menimbulkan awan Cumulonimbus. “Beberapa wilayah di Indonesia, termasuk di Bintan masih berpotensi hujan,” ujarnya.

Melihat fenomena ini, dia mengimbau masyarakat tetap waspada. Bagi masyarakat yang ingin melakukan aktivitas di laut sebaiknya memantau perkembangan cuaca dan tak memaksakan diri apabila cuaca tidak
bersahabat. (met)

Respon Anda?

komentar