TKI ilegal yang diamankan Polda Kepri.

batampos.co.id – Polda Kepri menetapkan satu orang tersangka, Tohri,50 atas pengiriman 69 orang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal yang diamankan Polda Kepri, 22 Januari lalu di Teluk Mata Ikan, Nongsa.

Tohri diketahui tidak sekali ini saja melakukan pengiriman TKI ilegal ke Malaysia. Pihak kepolisian menduga Tohri terlibat atas kejadian dua tahun lalu, yang menyebabkan meninggalnya sebanyak 60 orang TKI ilegal di perairan Batam. Tohri berperan sebagai pemasok para TKI yang dikirimkan ke Malaysia.

“Saat ini kami masih mendalami peranannya Tohri,” kata Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Kepri, AKBP Riko Nasution, Senin (5/2).

Riko mengatakan penangakapan Tohri berdasarakan pengembangan dari informasi di dapat pihak kepolisian. Informasi itu menyebutkan sebanyak 69 orang TKI ilegal akan diberangkat ke Malaysia. Mereka semuanya akan dipekerjakan di kebun kelapa sawit dengan gaji sebesar 1500 Ringgit Malaysia.

“62 Laki-laki dan 7 perempuan. Ada juga dua orang anak dibawah umur,” tuturnya.

Riko mengatakan sebanyak 69 orang itu diinapkan dirumah warga di Teluk Mata Ikan. Dan rumah tersebut sudah biasa dijadikan penginapan TKI ilegal sebelum diberangkatkan ke Malaysia.

“Pemiliknya sudah kabur,” ucapnya.

Saat ini, polisi sedang melakukan pengembangan atas kasus ini. Selain itu, pihak kepolisian berusaha memulangkan para TKI ini dengan berkoordinasi dengan BP3TKI dan Dinsos Kota Batam.

“Kasus ini sedang ditangani oleh Unit PPA Ditreskrimum Polda Kepri,” tuturnya.

Atas perbuatannya, Tohri dijerat dengan menggunakan pasal 81 dan 83 Undang-Undang RI no 18 tahun 2017 tentang pekerja buruh migran. “Pidana penjara paling lama 10 tahun penjara, dengan denda Rp 15 miliar,” tutur Riko.

Selain mengamankan Tohri. Riko mengatakan pihaknya juga mengamankan dua orang pelaku penyelundupan TKI ilegal lainnya. Dua orang penyelundupan TKI itu diamankan, Minggu (4/1) serta Senin (5/2). Keduanya, kata Riko tidak satu jaringan dengan Tohri.

“Beda, kalau Tohri itu pemain yang menyusupkan TKI melalui jalur belakang. Sedangkan dua orang yang baru kami amankan ini, melakukan penyelundupan melalui jalur depan. Seolah-olah TKI yang berangkat ini ingin melancong ke Malaysia,” ujarnya.

Riko menuturkan pengungkapan kasus penyeludupan TKI ilegal dengan modus sebagai pelancong, bermula dari informasi masyarakat.

“Informasi itu menyebutkan tanggal 4 Februari, ada pengiriman TKI dari Surabaya yang akan mendarat di Hang Nadim. Saat kami melakukan pengecekan ternyata benar,” ucapnya.

Saat itu, Subit PPA Ditreskrimum yang dipimpin Ipda Lesly D Lihawa mengamankan sebanyak 39 orang calon TKI ilegal.

“Kami mengamankan pengurusnya berinisial Ds (David Subekti,red). Kami langsung melakukan pemeriksaan sementara, dari keterangan para saksi dan pengurus. Masih ada 24 orang lainnya yang akan datang,” tutur Riko.

Berdasarkan informasi itu, subdit IV Ditreskrimum menunggu di bandara. Tak berapa lama datang satu rombongan TKI dari Surabaya. Setelah dilakukan pengembangan, Riko mengatakan pihaknya mengamankan satu orang laki selaku tekong para TKI ini, yakni La Adi Ode, Senin (5/2) pukul 13.00 di Pelabuhan Internantional Batamcenter.

“Saat ini kami sedang melakukan pengembangan. Kami akan menjerat kedua orang ini dengan pasal yang sama dengan Johri, 81,82 UU RI no 18,” pungkasnya. (ska)

Advertisement
loading...