Kawasan Industri Batamindo, Batam. Foto: rezza/batampos

batampos.co.id – Jajaran pimpinan Badan Pengusahaan (BP) Batam bertandang ke Kawasan Industri Batamindo. Tujuan mereka adalah untuk mengetahui hambatan-hambatan yang dialami oleh dunia industri di Batam agar segera bisa dicari solusinya.

“Mereka menyampaikan hal-hal terkait tentang hambatan yang perlu jadi perhatian kami. Semua dalam rangka tingkatkan investasi yang sudah ada dan undang yang baru,” papar Kepala BP Batam, Lukita Dinarsyah Tuwo, Senin (5/2) di Wisma Batamindo.

Setelah berdialog dengan pelaku industri yang juga tergabung dalam Himpunan Kawasan Industri (HKI) di Wisma Batamindo, maka Lukita dan jajaran Deputi lainnya berkunjung ke PT Infineon Technologies. Mereka meninjau proses produksi sebentar lalu kembali pulang.

“Isu-isu yang kami terima itu terkait biaya logistik. Makanya kami sadar bahwa Pelabuhan Batuampar memang harus diperbaiki,” ujarnya.

Disamping itu, pengusaha kawasan industri juga mengemukakan bahwa implementasi dari peraturan Free Trade Zone (FTZ) yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 229/2017 harus segera dilaksanakan.”Mereka ingin hasil produksi disini segera dikirim ke daerah lainnya di Indonesia. Makanya harus segera diimplementasikan,” paparnya.

Lalu pengusaha kawasan industri juga menanyakan kapan jembatan flyover kedua dibangun. Mereka menganggap pembangunan flyover baru akan semakin mempermudah proses logistik dari bandara dan pelabuhan menuju kawasan industri.

“Ya mereka menunggu rencana flyover kedua dan ini sudah direncanakan Pemko dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat,” jelasnya.

Dan terakhir pihak BP Batam akan mengidentifikasi persoalan logistik pengiriman barang dari Batam – Singapura. Kondisi ini juga membuat Batam tidak kompetitif. Bahkan sangat menghambat pertumbuhan investasi dan alur ekspor-impor di Batam.

Kontainer berukuran 20 feet dari Batam ke Singapura berbiaya 500 dolar AS. Sedangkan dari Jepang, Korea, dan Cina ke Singapura hanya 280 dolar AS. Padahal jarak Batam-Singapura cuma 18 kilometer,

Penyebab utamanya kapasitas Pelabuhan Batuampar yang sangat kecil, sehingga kapal bertonase besar yang membawa ribuan kontainer tidak bisa sandar di Batuampar.

Kontainer-kontainer tersebut harus turun di Singapura dan kemudian dimuat dalam kapal-kapal kecil lalu berangkat ke Batam.

Setelah sampai di Batam, kontainer yang berisi bahan baku atau barang setengah jadi itu diolah. Setelah selesai, harus dimuat lagi dalam kapal-kapal kecil ke Singapura untuk kemudian dibawa ke Eropa dengan kapal-kapal besar.

Sedangkan General Manager PT Batamindo Investment Cakrawala, Mook Soi Wah mengatakan isu sehari-hari seperti masalah kemacetan dan infrastruktur juga harus menjadi prioritas bagi BP Batam.”Infrastruktur jalan dibangun supaya arus lalu lintas lancar,” jelasnya.

Selanjutnya adalah mengembangkan Pelabuhan Batuampar supaya Batam menjadi semakin kompetitif karena dengan demikian maka ongkos logistik akan berkurang.”Saya apresiasi sekali kepedulian mereka dan percaya pimpinan BP Batam akan meneruskan saran kami ini,” ujarnya

Sedangkan Ketua HKI Kepri, Oka Simatupang mengatakan sangat mengapresiasi sekali kunjungan BP Batam. Saran mereka juga ditampung dengan baik.”Ya lartas salah satunya supaya pendelegasiannya cukup di BP Batam saja,” paparnya.

Selanjutnya adalah infrastruktur jalan dari Mukakuning ke Batamcentre dan Batuampar harus dilebarkan.”Karena pada jam-jam tertentu macet cukup parah,” jelasnya.

Dengan kata lain, untuk pengembangan Batam kedepan, pengusaha kawasan industri meminta poin penting yang jadi perhatian adalah meminimalisir biaya logistik.”Biaya efektif diperlukan agar bisa bersaing dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Vietnam, Myanmar, Philipina, Thailand dan sekitarnya,” jelasnya.

Menurut Oka, kepastian lewat jaminan investasi itu diperlukan agar anak perusahaan yang ada di Batam dapat meyakinkan kantor pusat mereka agar mau ekspansi bisnis di Batam.

“Tidak gampang bagi perusahaan-perusahaan yang ada untuk meyakinkan kantor pusatnya. Karena mereka juga harus bersaing dengan anak perusahaan serupa di negara Asean lainnya,” katanya.

Kantor pusatnya pasti menilai pabrik yang mana di Asean yang pantas dikembangkan jika dilihat dari segi produktivitasnya.

“Makanya iklim investasi di Batam harus dijaga baik-baik,” pungkasnya. (leo)

Respon Anda?

komentar