Seorang warga Tionghoa sedang beribadah di Vihara Bahtra Sasana, Tanjungpinang, belum lama ini. F. Faradilla/Batam Pos.

batampos.co.id – Sebagai kota yang didiami masyarakat multietnis, Tanjungpinang punya bermacam rumah ibadah yang berusia lebih dari satu abad. Satu di antaranya, Vihara Bahtra Sasana di Jalan Merdeka Tanjungpinang, yang sedang bersolek menyambut perayaan tahun baru Imlek.

Aroma hio langsung menguar selangkah memasuki halaman depan Vihara di Jalan Merdeka ini. Sementara sejauh mata memandang, terlihat berbagai bentuk lampion tergantung. Dari yang sebesar buah kelapa, hingga seukuran lingkar peluk dua orang dewasa. Puncak perayaan tahun baru Imlek sudah di depan mata, beberapa relawan juga sibuk membersihkan beberapa perlengkapan upacara. Ada pula yang sibuk mengganti lilin yang sudah mulai tandas.

Sejak tiga pekan terakhir, nuansa merah memang menjadi hal pertama yang tertangkap mata. Lampion-lampion bergantungan. Dengan cahaya terang semakin mempertebal aksen merah sebagai warna dominan vihara ini. Akses klasiknya pun semakin memikat.

Nuansa klasik merupakan nilai lebih dari vihara yang sudah dijadikan tempat sembahyang sejak tahun 1857 itu. Pintunya saja setebal sepuluh sentimeter, dilengkapi slot pasak kayu khas tempo dulu. Sementara ketika menengadahkan kepala, tampak jejalin kayu-kayu berukir naga yang kehitaman.

Jani, relawan vihara yang dijumpai, menerangkan kayu ini belum pernah diganti sejak pertama berdiri. ”Juga tidak pernah diubah catnya,” katanya sambil mengelus permukaan kayu yang dimaksudnya. ”Masih asli haa,” tambahnya dengan dialek Cinanya yang kental.

Dengan senang hati, kakek 57 tahun itu mengajak Batam Pos berkeliling ke seluruh ruangan di dalam Vihara. Jani seketika berhenti di hadapan salah sebuah altar bertuliskan Lau Chou di hadapannya. Ada kisah menarik yang Jani bagikan pagi kemarin.

Menurutnya, Lau Chou ini yang menjadi dasar penentuan lokasi didirikannya Vihara Bahtra Sasana di Jalan Merdeka. Saat itu, kata dia, rombongan etnis Tionghoa yang datang dari Cina datang ke Tanjungpinang dengan memanggul Lau Chou.

Bentuk Lau Chuo menyerupai singgasana panggul seorang raja. Hanya saja berbentuk lebih mini. Mereka merapat di Tanjungpinang malam hari. Akibat lelah mengarungi perjalanan panjang, rombongan dari Cina pun itu beristirahat di lokasi yang sekarang dijadikan Vihara.

“Mereka orang bangun pagi, tapi sudah tak bisa angkat itu Lau Chuo,” tutur Jani. Sehingga, rombongan dari Cina itu pun memutuskan untuk mendirikan Vihara di sini, tempat Lau Chuo yang tiba-tiba tak bisa diangkat itu. ”Jadilah Vihara ini di Jalan Merdeka,” lanjutnya.

Vihara Bahtra Sasana paling riuh dikunjungi kala perayaan tahun baru imlek. Jani menuturkan, tidak hanya warga Tanjungpinang dan Bintan saja yang berdatangan. “Orang Singapura juga banyak haa,” katanya. (aya)

Respon Anda?

komentar