Ilustrasi

batampos.co.id – Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Kepulauan Riau mulai menyusun master soal Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk ujian akhir berstandar nasional (UASBN) tingkat Madrasah Aliyah. Berdasarkan peraturan Mendikbud Nomor 3 Tahun 2017 tentang penilaian hasil belajar, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) bertugas menyiapkan soal 75 – 80 persen dengan koordinasi Dinas Pendidikan sesuai dengan kewenangannya.

“Dalam menyikapi hal itu kami memandang perlu melaksanakan kegiatan penyusunan master soal khusus untuk mata pelajaran peminatan keagamaan sebagai langkah awal meningkatkan mutu pendidikan madrasah,” kata Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Kepri Abu Sufyan Abu Sufyan, kemarin.

Harapannya, kata Abu Sufyan, kisi-kisi soal yang disusun nanti memiliki karakteristik dan mutu yang setara dengan level ujian nasional, sehingga hasilnya nanti antara USBN dengan UN tidak berbeda. Bukan hanya itu, menurut Abu Sufyan, hal lain yang terus diperjuangkannya adalah meningkatkan pemahaman guru tentang karakteristik UASBN dari tahun ke tahun. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan guru dalam merumuskan indikator soal dan penilaian, serta memantapkan kemampuan dan keterampilan guru dalam menyusun kisi-kisi soal.

“Makanya pesertanya amat beragam. Peserta adalah guru jurusan keagamaan sebanyak 15 orang dari semua MA yang menyelenggarakan jurusan keagamaan antara lain MAN Batam 6 orang, MAN Nahdlatul Wathan 2 orang, MAS An Nikmah 2 orang, dan MAN Tanjungpinang 3 orang yang mengajar studi tafsir, hadis, dan fiqih,” tambah Abu Sufyan.

Sementara itu Kepala Kanwil Kemenag Kepri H. Marwin Jamal mengharapkan para guru studi keagamaan dapat berkonsentrasi menguasai ilmu tafsir, hadis dan fiqih. “Sangat langka guru-guru yang mengusai ilmu tafsir, hadis dan fiqih dengan paripurna. Memang setiap manusia memiliki keterbatasan namun dengan penguasaan yang luas terhadap ketiga ilmu ini diharapkan bisa memberikan ilmu yang bermanfaat kepada anak didiknya,” ucap Marwin.

Marwin juga meminta agar guru-guru mengajarkan anak dengan ilmu tafsir dan hafalan hadist-hadist dengan benar. Sehingga memghindarkan anak memiliki pemahaman yang parsial yang membuat mereka akan berfikir secara sepotong-sepotong.

“Terlebih lagi soal-soal fiqih. Kalau sudah MA kelas XII, anak didik harus sudah paham bagaimana menerapkan soal-soal fiqih dalam kehidupan mereka. Jangan sampai anak tak tau cara thoharoh dengan benar, cara mandi wajib, cara berwudhu dan sholat seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW,” pungkasnya. (aya)

Respon Anda?

komentar