batampos.co.id – Pihak kecamatan Batuaji mengaku kesulitan menentukan lokasi pembangunan gedung SDN 08 yang saat ini numpang belajar di gedung SDN 02, Batuaji. Lahan fasum di RW 14 perumahan Griya Prima yang semula diwacanakan sebagai lokasi pembangunan gedung SDN 08 ternyata ditentang warga. Warga tidak bersedia jika fasum yang berupa lapangan sepak bola itu dijadikan bangunan sekolah.

Warga menolak karena memang fasum tersebut adalah satu-satunya fasum yang paling luas di sekitar kelurahan Buliang ataupun Kibing.

“Warga menolak karena memang sudah minim fasum yang besar seperti lapangan itu. Selama ini memang lapangan itu sering digunakan untuk acara-acara besar termasuk MTQ tingkat Kecamatan,” ujar Sekretaris Kelurahan Buliang, Yulisbar, Kamis (9/2).

Penolakan itu kata Yulisbar disampaikan langsung oleh ketua RW 14, kelurahan Buliang Nur Alamsyah saat pihak kelurahan menggelar dialog pramusyawarah rencana pembangunan (Musrembang) tingkat kelurahan di Batuaji beberapa waktu lalu.

“Mereka juga sudah pasang spanduk penolakan di lokasi fasum itu. Persoalan ini memang cukup rumit makanya ini dilimpahkan ke Kecamatan agar segera ada solusi yang tepat,” ujar Yulisbar.

Meskipun ada penolakan, namun pihak kelurahan dan kecamatan kata Yulisbar masih tetap berupaya keras menemui warga dan perangkat RT/RW setempat agar wacana pembangunan gedung SDN 08 segera terealisasikan.

“Kasihan anak-anak (Murid SDN 08) sudah empat tahun mereka numpang,” ujarnya.

Ini juga disampaikan oleh Camat Batuaji Ridwan. Upaya mediasi dengan warga masih menjadi fokus mereka saat ini.

“Kami masih terus berkoordinasi dengan warga di sana. Dengan Pemko juga demikian. Ya harapan kami semoga ada solusi. Kasian juga anak-anak itu numpang belajar sampai bertahun-tahun. Bentar lagi sudah tahun ajaran baru jadi memang harus secepatnya diselesaikan,” kata Ridwan.

Lebih lanjut baik Ridwan ataupun pihak kelurahan menjelaskan, berdasarkan hasil musrembang tahun sebelumnya, jika memang pembahasan itu tetap tidak membuahkan hasil, dalam arti bahwa warga RW14 tetap menolak, maka ada lahan alternatif lainnya yang bisa dipergunakan untuk membangun gedung SDN 08 itu. Lahan tersebut berada di lokasi rawan banjir yakni di pinggir drainase utama samping Perumahan Kodim, kelurahan Buliang.

“Cuman itu tadi, lahan alternatif ini agak rumit sebab di lokasi genangan air. Takutnya nanti kebanjiran terus sekolah itu. Bagaimanapun tetap diupayakan di fasum RW 14,”” ujar Yulisbar.

Disinggung terkait lahan lainnya, Ridwan ataupun Yulisbar mengku pesimis sebab lahan kosong di sana umumnya sudah dialihkan ke pihak ketiga.

“Lahan lain tak ada lagi. Sudah milik orang semua. Jadi agak susah memang,” kata Ridwan.

Lahan samping kawasan Mitra Mall ataupun di samping perumahan Villa Paradise misalkan memang masih kosong, namun itu sudah milik pihak ketiga.

Kondisi tersebut membuat pihak kecamatan ataupun kelurahan di sana tak punya pilihan lain selain berusaha keras untuk memuluskan rencana awal yakni menggunakan fasum RW14 tersebut.

Pihak SDN 008 juga berharap demikian. Apapun solusinya mereka berharap agar masa numpang belajar mereka segera diakhiri.

“Karena sudah tak mencukupi lagi lokal yang tersedia di SDN 02 ini. Sekarang sudah delapan rombel (rombongan belajar), lokal hanya dua. Nanti kalau penerimaan peserta didik baru (PPDB) mau dimana lagi anak-anak ini belajar,” ujar Kepala SDN 08 Kamaliah. (eja)

Respon Anda?

komentar