Iklan

batampos.co.id – Pasar kaget tumbuh subur di Batuaji dan Sagulung. Dimana ada pemukiman disitu ada pasar kaget. Jaraknyapun berdekatan satu sama lain. Menjamurnya pasar kaget itu ditenggarai karena krisis lowongan kerja yang melanda Batam sejak beberapa tahun belakangan ini. Warga korban PHK dari berbagai perusahaan memilih beralih profesi sebagai berdagang untuk tetap bertahan di Batam.

Iklan

Pertengahan Juli 2016 lalu adalah akhir dari pertualangan Andre Sinaga sebagai pekerja galangan kapal di salah satu perusahan asing (PMA) di Tanjunguncang. Dia bersama 80 rekan seprofesinya dirumahkan oleh pihak perusahan dengan alasan sepih proyek. Pihak perusahaan membekali pemutusan hubungan kerja (PHK) itu kepada Andre dan kawan-kawanya dengan pasangon yang bernilai sekitar Rp 30 juta perorang.

Padahal Andre sudah tercatat sebagai karyawan lokal dalam perusahaan saat itu, namun kebijakan perusahaan itu tak bisa ditolak sebab tidak ada lagi kapal yang akan mereka kerjakan.

“Perusahan tentu akan terbebani jika kami tetap dipertahakan, sementara projek tak ada lagi,” ujar Andre, kepada Batam Pos, akhir pekan lalu.

Meskipun pahit, Andre dan kawan-kawannya tetap terima dengan besar hati kebijakan perusahaan itu. Dua bulan pertama setelah di PHK Andre mengaku masih enteng menghadapi tekanan ekonomi. Itu karena di rekeningnya masih tersimpan tabungan selama kerja serta tambahan pasangon dengan total sekitar Rp 40 juta. Namun memasuki bulan ketiga Andre mulai bingung sebab tabungannya sudah banyak terkuras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan juga biaya sekolah kedua anaknya yang duduk di bangku sekolah Dasar.

“Ternyata (tabungan) sisah cuman Rp 25 juta. Baru dua bulan itu,” ujar warga perumahan Graha Mas, Marina itu.

Pengeluaran yang cukup besar tidak dibarengi dengan pemasokan yang pasti itu membuat Andre berpikir panjang. Sempat terbesit dipikirya untuk menjual rumah lalu kembali ke kampungnya, namun itu tak berjalan mulus sebab cukup susah untuk menjual rumah yang masih dalam proses kredit atau KPR saat itu.

“Hampir sebulan lebih saya coba tawarkan rumah tapi tak ada yang berminat. Malah orang pada rame-rame jual rumah waktu itu,” ujarnya.

Situasi ekonomi yang kurang baik itu mengharuskan Andre harus berpikir lebih keras lagi. Dia juga sempat menjalani profesi sebagai buruh bangunan selama satu bulan namun itu tak berjalan mulus sebab pembayaran upah kerja tidak sesuai. ”

Pernah ikut kawan bangun ruko, rupanya tak jelas gaji kami,” tuturnya.

Lima bulan sudah berlalu Andre belum juga mendapatkan pekerjaan kembali. Memasukan lamaran kerja ke perusahaan galangan kapal lain adalah pekerja yang sia-sia sebab tak ada perusahaan yang membuka lowongan kerja lagi saat itu. Tabungan keluraga kian menipis. Andre semakin kebingungan. Dalam kebingungan itu Andre kembali menghubungi kawan-kawannya yang bernasib sama untuk bertukar pikiran. Alhasil berdasarkan saran dari salah satu rekannya, Andre akhirnya mendapatkan peluang yang dinggapnya cukup baik.

“Dia ngajak saya jualan di pasar kaget Puteri Hijau (Sagulung). Dia sudah duluan jualan di sana rupanya. Jualan sayur dan perlengkapan bumbu dapur,” tutur ayah tiga anak itu.

Dengan sisa tabungan yang ada, Andre akhirnya nekad menjalani profesi seperti yang disarankan temannya itu. Sepeda motor yang selama ini dipakai untuk bekerjapun dirombak jadi becak sebagai alat tranportasi untuk berjualan di pasar kaget. Dia memilih berjualan barang yang sama dengan rekannya yakni sayur-sayuran dan perlengkapan bumbu dapur lainnya.

“Sudah dua tahun saya jualan di pasar kaget,” ujarnya.

Warga Batuaji membeli kebutuhan pokok di pasar kaget depan Perumahan Pluto, Tanjunguncang, Batuaji Foto: Dalil Harahap/Batam Pos

Meskipun pernghasilan tak tetap setiap bulan, namun profesi barunya itu diakui Andre cukup untuk bertahan di Batam. Kebutuhan rumah tangga, biaya sekolah anak dan angsuran rumah mampu diatasi dengan baik. Bahkan dengan berjualan sayur itu diapun bisa menyisikan sedikit rejeki yang lebih untuk menabung.

“Harus panda-pandai memang melihat situasi. Tak bisa lagi berharap kerja di PT seperti dulu,” ujarnya.

Batam Pos yang mencoba menulusuri latar belakang pedagang di sejumlah pasar kaget di Batuaji dan Sagulung menemui banyak pedagang yang memiliki cerita seperti Andre. Mereka memilih jadi pedagang di pasar kaget karena sudah tidak punya peluang untuk bekerja di perusahaan lagi. Padahal sebelumnya mereka adalah pekerja aktif baik di perusahaan galangan kapal ataupun perusahaan elktronik lainnya.

Jupri, seorang pemuda yang menjual jajanan siap saji telur gulung di pasar kaget Marina, menuturkan, dia juga terpaksa menjalani profesi itu karena sudah setahun menganggur. Setelah di PHK dari salah satu perusahaan elektronik di Mukakuning diakhir tahun 2016, Jupri tak punya peluang lagi mendapat pekerjaan serupa karena lowongan pekerjaan di perusahaan elektornik juga langka.

Awalnya malu jualan seperti ini, apalagi pacar saya kerja. Tapi mau gimana lagi mas, dari pada tak makan,” ujarnya, Selasa (6/2) sore.

Bondar, koordinator salah satu pasar kaget di Batuaji mengakui memang pedagang di pasar kaget yang menjamur di wilayah Batuaji umunya adalah korban PHK dari berbagai perusahaan di Batam. Mereka yang tak lagi berpeluang untuk bekerja di perusahaan memilih berjualan di pasar kaget karena untuk berjualan di sana tak perlu mengeluarkan biaya yang besar.

“Di tempat kami ada sekitar 30 an orang itu mantan pekerja galangan semua. Lumayan lancarlah mereka. Bisa cicil rumah, dapur bisa ngepul dan sejauh ini baik-baik kok mereka,” ujar Bondar.

Di wilayah Batuaji sendiri terhitung ada 20 an titik lokasi pasar kaget yang tersebar di seluruh kelurahan yang ada. Pasar kaget tersebut berdiri diatas lahan kosong yang berdekatan dengan pemukiman padat penduduk. Sejauh ini warga menyambut baik keberadaan pasar kaget tersebut sebab memperpendek jarak warga untuk mendapatkan kebutuhan pokok harian mereka.

 

Eusebius Sara / Batam Pos, Batuaji