Iklan

batampos.co.id – Drainase utama di wilayah Batuaji kembali bermasalah. Meskipun sudah dikeruk dan dilebarkan oleh pekerja dari Dinas Bina Marga pada akhir tahun 2017 lalu, namun aliran air dari pemukiman warga tetap tidak lancar. Drainase yang sudah dikeruk itu belum berfungsi normal sebab kembali sempit dan dangkal.

Iklan

Pendangkal kembali terjadi karena proyek normalisasi sebelumnya itu hanya sebatas pengerukan saja tanpa dibarengi semenisasi ataupun pemasangan batumiring. Imbasnya pinggiran drainase berupa tebing tanah kembali runtuh seiring berjalannya waktu. Kondisi itu diperparah lagi dengan tingginya curah hujan pada bulan Januari lalu. Saat ini drainase utama itu kembali tak berfungsi normal seperti sebelumnya.

Drainase utama di samping perumahan Kodim, kelurahan Buliang misalkan, meskipun tak hujan beberapa hari terakhir ini namun drainase utama itu bak bendungan yang dipenuhi dengan genangan air di sepanjang alur drainase. Air yang menggenangi drinase itu tak bisa mengalir ke arah Sagulung sebab ada pendangkalan drainase pada bagian ujung drainase yang berbatasan dengan perumahan Permata Puri. Pendangkalan terjadi karena drainase utama itu belum ada semenisasi ataupun batu miring yang membatasi pinggiran drainase. Kondisi ini diperparah lagi dengan adanya jembatan yang mempersempit drainase di perumahan tersebut.

Robin, warga perumahan Kodim menuturkan, saat ini kondisi drainase utama itu tidak lagi sedalam seperti awal dikeruk. Itu karena sampah dan tanah yang terbawa arus air dari pemukiman sekitar kembali memenuhi drainase itu. “Saya sering mancing di sini, jadi tahu kedalamnya. Sudah tak dalam lagi ini makanya (genangan) air tak turun-turun,” ujar Robin.

Pihak kelurahan Buliang mengakui adanya persoalan itu. Drainase utama yang menyerupai sungai itu kini memang kembali bermasalah. Persoalannya sama seperti yang disampaikan warga tersebut.

“Memang itu masalahnya. Harusnya langsung dikuatkan dengan semenisasi atau batumiring. Dibuat seperti kanal gitu. Kalau cuman kerok saja memang tak bisa karena sebentar saja bisa tertutup lagi. Tahulah daerah di sini. ” ujar sekretaris kelurahan Buliang, Yulisbar, Kamis (9/2).

Situasi yang sama juga terlihat di drainase utama depan perumahan Sierra, kelurahan Bukit Tempayang. Drainase itu juga sudah dikeruk dan dilebarkan sebelumnya, namun belakangan kembali dangkal. Persoalannya sama, karena tidak dibarengi semenisasi ataupun pemasangan batumiring pada tebing drainase, sehingga tanah dan sampah kembali mendangkalkan drainase itu.

Warga di dekat lokasi drainase kembali dilanda perasaan was-wasa. Kondisi drainase yang tidak terurus itu tidak saja menyebabkan banjir tapi juga mengancam keselamatan anak-anak yang bermukim di sekitar drainase itu.

“Saat awal dikeruk katanya mau dibendungi seperti kolam buatan, tapi ternyata tidak. Habis dikeruk malah dibiarkan begini saja. Ini bisa bahaya karena banyak anak-anak di sini. Takutnya anak-anak main ke lokasi drainase itu dan tenggelam,” tutur Parulian, seorang warga.

Pihak kecamatan Batuaji saat dikonfirmasi mengaku belum ada arahan lebih lanjut terkait semenisasi ataupun pemasangan batu miring di lokasi drainase utama yang sudah dinormalisasikan itu. “Belum ada lagi. Pemko masih fokus pengerukan dulu,” ujar camat Batuaji Ridwan.

Senada disampaikan Kabag Humas Pemko Batam Yudi Atmadji sebelumnya. Tahun ini memang belum ada rencana peningkatan normalisasi drainase di wilayah Batuaji. “Untuk Batuaji belum ada. Yang ada malah di Sagulung (untuk semenisasi dan batumiring). Dua titik di Sagulung,” ujar Yudi.

Untuk wilayah Batuaji kata Yudi memang masih fokus pada normalisasi awal berupa pengerukan dan pelebaran saja. “Karena memang belum selesai semuanya. Kalau sudah selesai semua baru untuk tahap semenisasi,” ujar Yudi. (eja)