Pengemis di jembatan penyeberangan.
foto: yulianti / batampos

batampos.co.id – Jembatan Penyebrrangan Orang (JPO)
di SP Plaza, Sagulung selama ini digunakan pedagang kaki lima (PKL) untuk berjualan. Sejumlah pengguna JPO mengaku cukup terganggu, apalagi di lokasi itu, kerap terlihat tunawisma yang meminta-minta.

Iklan

“Kondisi ini sudah lama. Bagusnya pemerintah terkait razia atau menyuruh mereka tak berjualan,” ujar Risma pengguna JPO, Minggu (11/2).

Dia mengatakan kehadiran pedagang dan tunawisma itu membuat JPO terkesan kumuh dan kotor. Tak sedikit juga terlihat sampah plastik berserakan di pojok-pojok jembatan.

“Cari rezeki gak harus di fasilitas umum,” katanya.

Di JPO itu, PKL menjajakan dagangannya kepada pejalan kaki yang melintas. Barang yang dijual biasanya pakaian dalam dan asesoris . Seorang pedagang yang tak ingin dikorankan namanya mengaku terpaksa harus berjualan diatas JPO karena tak memiliki modal untuk menyewa ruko atau lapak.

“Sewa ruko dan lapak bisa sampai Rp 5 hingga Rp 7 juta perbulan,” katanya kepada Batam Pos.

Selain itu, berjualan di atas jembatan juga cukup strategis lantaran banyak warga yang berlalu lalang atau melintas. “Warga yang melintas bisa singgah untuk membeli,” katanya.

Meski demikian, ia mengaku tak setiap hari menjual di JPO. “Kadang saya berjualan di pasar kaget,” akunya. (une)